AKA wrote:
Contohnya gini deh, misal course..
Si A ngadain course dgn harga 1jt misalnya, tapi naik kapal kayu mesin 40pk 2tak, air tank yg gak tll bagus, gear ok lah, gak pake pool, langsung laut confined waternya di pantai.
Si B ngadain course dgn harga 3jt tapi naik speed boat 4 tak, pake public pool.
klu si A mau ke pulau setengah jam nyampe, si B 10 menit doang nyampe di pulau yg sama. krn menurut pengetahuan sy, cost kapal ini yg paling mencolok perbedaannya.
ibaratnya klu di jkt si A lewat muara angke 25rb nyampe di pramuka, si B lewat marina ancol 200rb skali jln.
Apakah bisa si B mengatakan bahwa si A merusak harga pasar??
Dgn standard yg sangat2 tinggi, bgmn dgn segmentasi pasar?? yg mid-low ama yg mid-high.. brarti di bisnis ini pun tetap harus memilih segmen dong.. yg mid-low bisa dikatakan yaaa im sorry to say, terima nasib aja dpt air tanks yg kurang ok dll.. klu yg mid-high ya kita gak usah ngomong lah, kita sediain fasilitas yg sangat2 memadai dgn harga di atas rata2, mereka pun rela utk spending krn mereka having..
Bro AKA,
Menurut saya si A bukan merusak pasar, tapi itu namanya budget diving. Semua level ada market nya sendiri sendiri. Cuma soal udara selam, please deh EN12021 harus tuh.
Makanya dive center/resort yang adakan trip kudu informasikan lengkap, kapal kayak apa, berangkat darimana, berapa lama p****t kita duduk di kapal sia-sia dan etc etc. Sering kenyamanan kapal tidak di sebutkan bagi yang pakai kapal pelan, sebab itu kapal bisa make or break a trip profitability.....maka yang inferior tidak akan di broadcast sama organizer.
SAYA BAHAS BUKAN UNTUK JAKARTA :
Kalo soal detail asset dan fasilitas sebuah Dive Center/resort yang running trip, yang punya fasilitas bagus long termnya akan menang. Kenapa saya bilang akan menang ? Karena income Dive Center/resort ( bukan jualan dive gear yah ) 90% akan masuk dari uang asing, bukan uang lokal.
Indonesia boleh besar negaranya, boleh 220 juta penduduk nya, lokal diver nya termasuk kecil untuk population based yang segede ini. Kita bicara recreational diver yah, bukan diver yang kerja di dive center/resort. Kita perlu individual recreational diver yang spending uang untuk hidupkan dive center/resort.
Case to Note 1 :
Saya ke Adex Singapura 2012. Saya lihat DEEP 2012, kan bini ( Sea Pearl ) ikutan.
Dimata saya ada 1 hal yang sangat mencolok. Apa itu....... hot babes in sexy bikinis ? I wished heheheh. J/K.
Yang mencolok adalah, bagaimana sebuah negara dengan populasi 4-5 juta orang doank, kagak ada dive resort ( mau yelam di dermaga Mobil Oil apa di Jurong Island .....heheheeh ), kok dive show nya sebesar Indonesia yang adalah Asia's Diving Capital dan punya potensi pasar 220 juta orang ?
Case to Note 2 :
Peserta dive center/resort yang berbasis di Indonesia, termasuk kapal LOB, yang ikut DEEP tiap tahun menyusut semenjak 2008 ke 2012. Kenapa ? Mereka sadar local market bukan pangsa mereka dan buang uang saja kalo nongkrong di DEEP.
Di Adex 2012, lebih banyak peserta dive center/resort yang berbasis di Indonesia dan buka booth di sana. Juga sebagian buka di DRT ( Hong Kong ).
Case to Note 3 :
Kalian yang affliated dengan PADI dan SSI silahkan buka database nya, certification dua agency terbesar ini di Indonesia, murid nya orang mana porsi terbesar ? Orang asing coy, turis..... bukan lokal.
Di Thailand yang pada 2009 saja certification 89,000ish murid untuk PADI + lain2, 5% atau tak sampai pun adalah orang Thai, sisah nya turis semua.
Nah, 3 case to note ini menyatakan satu hal :Pertama adalah, lihat income per capita negara tersebut.Boleh kecil tapi Singapura itu sekitar US$50,000+ per person per year average. Kita cuma <US$3,000. Singapura jua information hub dan trading hub pulak, untuk South East Asia.
Kedua , tolak ukur fasilitas dive center/resort anda harus di gearing ke orang asing. Kecuali anda bisa absorb market diver lokal dan operate profitably....silahkan. Tapi ironis jika buat usaha di Bali atau Lombok atau Manado lalu focus marketnya ke local diver sebab jumlah nya kalah banyak jauh sama diver asing/turis. Harus jadi chameleon , bisa adaptasi untuk semua macam tamu donk.
Terima, telan dan pahami = buru dollar asing. Itu lah nasib dive center/resort di Indonesia sebenarnya, at least sampai diver lokal mencapai 40,000 sertifikasi setahun. Kapan ini akan terjadi..........entah lah. 40,000 lokal diver setahun yang lulus, jika 20% tetap diving kan ada 8,000 calon prospek.
Jika kita tidak bisa paham basic market numbers dan spending power calon customer...........gimana mau dagang ?
Passion boleh passion tapi jika sudah berkeluarga, ada beberapa mulut extra yang harus di beri makan dan di beri pendidikan. Ingat itu baik2. Sukses dulu jadi suami dan ayah yang bisa penuhkan semua obligasinya, baru hamburkan uang di bidang hobby/passion.
Saya monitoring sales performance LOB bintang "5", bintang 5 dalam arti apa yang ada di Indonesia yah, bukan bintang "5" versi Internasional. Juga lihat semua dive center resort besar yang bagus.........ramai kah usaha mereka ? YEP, ramai dan profitable.
Logika nya gini deh.
Orang asing yang kudu terbang ke Indonesia dan bayar tiket US$1,000 - 2,000+, apa mau susah payah report lagi nyari dive center/resort yang so-so demi low cost ? Ada memang ada , tetapi banyak yang tidak pusingkan harga dalam arti selama harga tidak gorok leher, mereka terima lah bahwa diving memang tidak murah.
Jangan terobsesi dengan Murah barulah Laku, jika ini filosofi dagang kita, tidak akan ada ShangriLa , Hilton dan Waldorf Astoria hotel chain.
Diving dollars kita masih banyak diminati oleh yang mampu bayar, jangan takut ke hilangan pasar. Kunci nya cuma.............can you provide what high levels they expect ?
Ada satu kapal LOB baru. Namanya SALILA. Ini konsorsium punya orang lokal 100%. Ini 50 meter besi dan bekas kapal Tuna Training Fleet Jepang. Untuk stability , seaworthiness & urusan main ombak, tidak ada LOB di Indonesia atau Asia yang bisa lawan kapal ini. 9.5 knot cruising speed. Kapal Tuna Training Fleet Jepang selalu main di laut Pacific yang super ganas ditambah typhoon prone waters. Maka ombak Indonesia is nothing deh. Tinggal pasang zero speed stabilizer untuk saat anchoring, kapal ini akan super mantap, padahal sudah mantap karena berat nya jubilah setan. Kalau tidak salah Salila US$15,000 rate harian untuk 20 diver atau US$750 per orang per hari.
Masih lebih murah dari Silolona :
http://www.silolona.com/vessel.html yang occupancy 10-12 orang dengan rate kalo tidak salah US$13,500 per hari atau US$1,125 per orang per hari. 50 meter Silolona adalah 50 meter bullshit, bullshit karena panjang pulpit ( lidah depan ) di hitung dan stern transom juga. Effective panjang paling 40 meter untuk Silolona. Ini punya cewek, dari USA.
Setahun sekitar 3 bulan di Indonesia, sisah nya ke tujuan Asia lain nya.
Tidak diving spesifik, tetapi bisa di pakai diving. Guest to serving crew ratio 1 banding 1...yes, jadi raja lah.
Kenapa ada kapal seperti ini ?
Karena ada market nya, that simple.Kalo saya karena paham konstruksi kapal dan sudah ikut pembangunan satu kapal phinisi yang akan saingin Silolona, phinisi bagi saya tidak worth the money untuk tamu jika di atas US$350 per hari per orang. Dari segi engineering nya itu pasak yang sekarang di bantu dengan bolt & nut sebagai penyatu struktur kapal, tetap tidak bisa se-solid welded steel hull....PERIOD. Banyak lah engineering aspect yang tidak bisa qualified kan phinisi sebagai kapal "bagus". Sensasi sailing ala zaman duloe adalah daya jual phinisi, padahal dari segi investor itu lah kapal termurah size for size...wak kik kik kik. Weakness thus becomes strength.
Karena kita sadar akan potensi diving related services di Indonesia sebenarnya lumayan bagus, mulailah berfikir dari kacamata tamu asing. Jangan berfikir dari kacamata diver lokal. Pakai sudut pandang dimana mayoritas tamu memandangnya. Kalo tidak ikuti the "flow" of the paying guests, mau ikuti apa ?
Jika diver local dapat pricing privelleage, silahkan, itu policy masing-masing pengusaha. Hotel besar ajah di jakarta suka ada harga paket khusus weekend untuk orang lokal, itu kan targetted marketing yang paham market buying power, bukan unfair competition.
Bagi yang minat mau buka dive center/resort. Luangkan waktu dan ikuti 10 trip LOB dan land based dari nama-nama terpopuler di Indonesia, dari situ lihat kenapa mereka bisa sukses. Apa suka duka nya. Jika kita belum merasakan layanan dan fasilitas mereka dan cuma hear-say doank, hayalain doank mah susah euyyy. Experience & Learn from the best in the industry, itu saran yang sangat basic.
Blup Blup Blup........