It is currently Sat Dec 16, 2017 2:18 pm

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 20 posts ]  Go to page 1, 2  Next
Author Message
 Post subject: high altitude diving
PostPosted: Mon Oct 10, 2011 10:23 pm 
Offline
User avatar

Joined: Mon Sep 28, 2009 7:47 pm
Posts: 75
rekan2 disini ada yang bisa njelasin tentang high altitude diving gak, saya baca di beberapa referensi kalo aturan yang digunakan dalam high altitude diving itu beda sama diving dilaut pada umumnya, saya penasaran tentang apa sih yang bikin beda, dan mulai dari ketinggian berapa sebuah penyelaman dikategorikan kedalam high altitude...thanks.. :)


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: high altitude diving
PostPosted: Mon Oct 10, 2011 10:47 pm 
Offline
User avatar

Joined: Wed Jan 05, 2011 12:54 pm
Posts: 312
madha wrote:
apa sih yang bikin beda

cara penggunaan tabel RDP-nya dah beda bro. rasanya di kelas OW, yang membahas tabel RDP, hal ini sempat disinggung. jika punya divecomp, jangan lupa dicek manualnya mengenai cara setting untuk altitude diving.

madha wrote:
mulai dari ketinggian berapa sebuah penyelaman dikategorikan kedalam high altitude...thanks.. :)

kalo berdasar standar PADI, yang masuk dalam kategori altitude dive adalah dive site yang berlokasi pada ketinggian 300-3000 meter dari permukaan laut.


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: high altitude diving
PostPosted: Mon Oct 10, 2011 11:03 pm 
Offline
User avatar

Joined: Mon Sep 28, 2009 7:47 pm
Posts: 75
thanks jawabannya om. nah itu dia, pas ambil OW cuma dibilang kalo beda, tapi ga sampe dijelasin detail tentang konversi tekanan n itungan2nya, mungkin bisa di share disini om biar rekan2 yang lain ada juga yang pengen tau..thanks


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: high altitude diving
PostPosted: Tue Oct 11, 2011 12:17 am 
Offline
User avatar

Joined: Wed Jan 05, 2011 12:54 pm
Posts: 312
madha wrote:
pas ambil OW cuma dibilang kalo beda, tapi ga sampe dijelasin detail tentang konversi tekanan n itungan2nya

kalo OW sampe dijelasin detil soal altitude, ya bukan OW donk namanya :) jika memang tertarik soal ini dan ingin melakukan altitude diving, ada baiknya ambil kelas specialty-nya. namun jika hanya ingin tahu saja, tanya om google, banyak informasi bertebaran di sana. atau, mari kita menunggu dan berharap, suhu2 di sini mau berbagi cerita.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Oct 11, 2011 1:56 am 
Offline
User avatar

Joined: Fri Aug 25, 2006 10:33 am
Posts: 1564
Di One Star dikasih penjelasan koq sedikit..

saya coba nyumbang penjelasan yang sedikit ilmiah yah

pada dasarnya, kerapatan udara di ketinggian berbeda dengan di sea level..

dengan anggapan saat memasuki air, tekanan yang kita terima adalah tekanan fluida, namun pada saat muncul permukaan, terjadi perubahan (pengurangan) tekanan udara yang semakin besar jika berada di tempat yang semakin tinggi.

kasus:
kalo nyelem di laut muncul di permukaan disambut dengan tekanan 1 atm
nah kalo nyelem di jatiluhur begitu muncul ke permukaan (misalnya) disambut tekanan 0,9 atm
disini terjadi perubahan selisih 0,1 atm dalam hitungan detik

berarti ada selisih yang semakin besar, ini akan memperbesar efek decompression sickness..

simulasinya sama kaya botol soda yang dikemas di dataran rendah dan dibuka di gunung, langsung keluar deh tuh bubblesnya.. bayangin kalo itu kejadian di dalam tubuh kita.

semakin tinggi tempat kita menyelam, maka selisih tekanan akan semakin besar, akan semakin berbahaya.

layaknya abis nyelem langsung terbang..

ini baru tekanan udaranya

densitas air juga akan berpengaruh, air di ketinggian biasanya freshwater yang lebih ringan dari air laut, sehingga memberikan efek tekanan yang lebih kecil dibanding air laut..

sehingga selisih perubahan tekanan yang kita terima juga akan semakin membesar..

jadi hati2 yah kalo mau nyelem di ketinggian, perhitungkan resiko nya..

_________________
Hernando Alkausar
--
www.hamueco.com/diving
+62-812-218-NNDO


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Oct 12, 2011 12:43 pm 
Offline

Joined: Thu Nov 19, 2009 10:24 am
Posts: 174
paling gampang gini aja,
setel Parameter 'Altitude' di Dive Comp Suunto :
A0 : 0-300m
A1 : 300-1500m
A2 : 1500-3000m dari permukaan laut.
Tinggal dive aja nurutin si Dive comp :).


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Oct 13, 2011 10:26 am 
Offline
User avatar

Joined: Wed Jan 05, 2011 12:54 pm
Posts: 312
Gw coba bantu menambahkan ya.....

Dikarenakan flying after diving (abis menyelam langsung terbang) dan altitude diving (menyelam di ketinggian) keduanya melibatkan ketinggian di atas permukaan laut yang terkait penyelaman, maka seringkali orang salah kaprah dengan mensejajarkan keduanya.

Terbang setelah penyelaman (asumsi dari 1 ATM): Setelah menyelam, yang tadinya tubuh menerima tekanan 1 atm di darat, maka kini tubuh akan menerima tekanan atmosfir yang lebih rendah ketika terbang. Dengan kata lain, ketika terbang, secara bertahap tekanan yang diterima tubuh kita mengalami *perubahan* terhadap tekanan rendah atmosfir di ketinggian, dan hal ini berpotensi menghasilkan DCS jika no-fly-time-nya tidak diikuti.

Menyelam di ketinggian: Sebelum menyelam di ketinggian (contoh di Danau Toba, 900m di atas permukaan laut), maka ketika berada di danau toba tubuh kita akan *menyesuaikan* dengan tekanan pada ketinggian daerah tersebut. Sehabis menyelam, tubuh kita kembali akan disambut oleh tekanan yang *sama*, walau lebih rendah dari 1 ATM. Jangan terkecoh dengan mengira adanya perbedaan tekanan di sini, boleh jadi karena persepsi menghitung dari 1 ATM pada permukaan laut, dan setiap urusan selisih tekanan identik dengan yang namanya dekompresi, yang tentu saja terkesan menakutkan dan berbahaya.

So, yang terbang atau jalan2 ke puncak, setelah diving, tubuh akan menerima tekanan yang *berubah* yakni selisih tekanan dari daerah di mana dia diving dengan tekanan pada ketinggian tersebut. Yang di danau toba, setelah diving, tubuh tetap menerima tekanan yang *sama*, karena tidak ada selisih, bukan? (jangan dicampuradukkan dengan tekanan ketika menyelamnya).

Pada teori dekompresi, kedua situasi di atas (fly after diving & altitude diving) jelas berbeda.

Nah, mengapa penggunaan tabel RDP/divecomp diving di ketinggian mengalami perbedaan (baca: penyesuaian/konversi)? Karena tabel RDP/divecomp dirancang untuk kalkulasi teori dekompresi pada tekanan 1 ATM. Untuk itulah perlu dilakukan konversi untuk menyesuaikan dengan tekanan pada ketinggian penyelaman yang dimaksud. Dengan kata lain, kalo orang yang diving di danau toba tidak paham soal penyesuaian pengaturan altitude di divecomp, maka ketika dia nyelam di kedalaman 34m, secara *teori* ini eqivalen dengan 38m sea level. Yang pernah belajar dan paham penggunaan tabel RDP tentu paham artinya ini terhadap NDL. Secara sederhana, pada kedalaman 34m tersebut dia menyelam selama 11 menit dan divecomp masih menunjukkan no-deco, namun sejatinya dia telah masuk ke zona no-deco-limit (NDL). Andai dia paham konversinya atau divecompnya telah diatur untuk altitude, tentu hal ini dapat dihindari.

Dengan memahaminya secara baik dan benar, menyelam di ketinggian tidaklah berbahaya dan tidak ada korelasinya dengan dekompresi ketika halnya saat kita terbang setelah diving. Selama kita paham tata cara dan prosedur penyelaman di ketinggian secara baik dan benar (ascent rate, safety stop time/depth, max.dive per hari, dsb), terutama penyesuaian pengaturan altitude di divecomp, maka menyelam di ketinggian memiliki rasa "fun" tersendiri. Diving is fun, isn't? :)

Semoga mencerahkan.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Oct 13, 2011 4:40 pm 
Offline
User avatar

Joined: Fri Aug 25, 2006 10:33 am
Posts: 1564
Lanjut lagi..

ini sekedar gambaran..

Grafik ini ga akan ditemukan di literatur manapun karena emang bikinan saya sendiri.

yang coba saya jelaskan disini adalah tekanan yang diterima oleh tubuh kita, terlepas bentuk mediumnya..

pertama tekanan atmosfer atau saya sebut fluida gas, diwakili oleh garis biru.
kedua tekanan fluida cair, bisa air laut bisa air tawar, ada perbedaan sedikit, tapi detilnya tidak bisa terlihat secara signifikan di grafik ini.

kemudian ada perbedaan antara laju perubahan terhadap ketinggian/kerdalaman antara fluida gas dan fluida cair, nah selisihnya inilah yang saya akan angkat sebagai topik bahasan/kajian (selisih dilihat secara horizontal)

dari selisih ini lah bisa dilihat ada area hijau, nah itu adalah kemungkinan DCS bagi diver yang menyelam di ketinggian. tapi untuk urusan yang ini saya rasa ga perlu diperdebatkan lah, karena kita kembalikan lagi ke derita tekanan aktual (bukan tekanan terukur) dan bottom time si diver. harusnya sih udah paham kalo emang beneran diver.

Kalau di tinjau lebih detil, kelengkungan/kemiringan garis merah seharusnya akan berbeda untuk tiap2 acuan ketinggian, nah perbedaan kelengkungan/kemiringan inilah yang akan memberikan gambaran yang baik antara bedanya nyelem di sea level sama di ketinggian..

note, nah untuk urusan skala, ini dibuat untuk mempermudah pemahaman aja, karena secara scientifc ini grafik sampah bgt.. hehehe.. ga bisa dibuat sebagai acuan data..


You do not have the required permissions to view the files attached to this post.

_________________
Hernando Alkausar
--
www.hamueco.com/diving
+62-812-218-NNDO


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Oct 13, 2011 11:21 pm 
Offline
User avatar

Joined: Thu Jul 09, 2009 5:51 pm
Posts: 1571
Location: Jakarta
semakin menarik... Nando bentar lagi udah bisa bikin dive table tuh... hehehe...

ayo... lanjutkan...

_________________
BBeXplorers - Indonesia's Center for Diving Excellence | GUE Affiliate | We provide: Diver Training, EFR Training, Halcyon Dive Systems | Need info on joining DAN? E-mail me: rendra [at] banyubiru.org | Join our group on facebook: Banyu Biru Explorers


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Fri Oct 14, 2011 2:36 am 
Offline
User avatar

Joined: Wed Jan 05, 2011 12:54 pm
Posts: 312
OOT, terkait grafik om nando, mungkin maksudnya 5 atm pada 40m, bukan 4 atm.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Fri Oct 14, 2011 5:54 am 
Offline
User avatar

Joined: Fri Aug 25, 2006 10:33 am
Posts: 1564
iya tuh salah, 2atm nya ketulis dua kali..

_________________
Hernando Alkausar
--
www.hamueco.com/diving
+62-812-218-NNDO


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Fri Oct 14, 2011 9:55 am 
Offline
User avatar

Joined: Mon Jun 14, 2010 9:24 am
Posts: 518
Location: jakarta
oceanographer wrote:
iya tuh salah, 2atm nya ketulis dua kali..


yang pasti gue salut sama om Nando yang nyempet2in bikin grafiknya dan berwarna pula, sampah gak sampah yang penting enak dilihat.

Kalau mau konservatif yaaa anggap aja nyelem di ketinggian lebih berbahaya dibanding dilaut. (padahal nyelem di laut juga berbahaya... hehehehe). Kalau saya bilang nyelem berbahaya di forum umum ntar gak ada orang mau belajar nyelem lagi, karena takut. Kalau dipasang di Forsel kan artinya "marilah kita tingkatkan awarness bersama dalam keselamatan dalam penyelaman" ...

btw, ada yang bisa jelaskan gak itungan koreksi +1 (baik altitude maupun dissablelity) di komputer selam ??

dive safe friends,
ar


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Fri Oct 14, 2011 12:04 pm 
Offline
User avatar

Joined: Wed Jan 05, 2011 12:54 pm
Posts: 312
aria4m wrote:
Kalau mau konservatif yaaa anggap aja nyelem di ketinggian lebih berbahaya dibanding dilaut. (padahal nyelem di laut juga berbahaya... hehehehe).


menyelam itu, baik di ketinggian maupun di laut, tidak berbahaya kok om, selama batasan2 yang ada dipahami dan diikuti. seorang penyelam bersertifikat untuk menyelam secara independen dengan buddynya tentu saja harus paham soal batasan2 tersebut.

jika mau konservatif, dan ini memang disarankan, toh dengan bantuan divecomp zaman sekarang tinggal diatur seberapa konservatif maunya kita.

so, do not forget to plan your dive and dive your plan. as simple as that, and your diving will be fun.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Sun Oct 23, 2011 2:47 am 
Offline
User avatar

Joined: Mon Sep 28, 2009 7:47 pm
Posts: 75
wah bang nando sampe sempet2in bikin grafik,saluut bang..thanks masukannya buat om botol kecap. :)


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Fri Nov 11, 2011 12:40 am 
Offline

Joined: Fri Sep 25, 2009 3:20 pm
Posts: 115
Location: Jakarta
Yg saya baca di literatur padi, di high altitude, nitrogen di dalam tubuh kita lebih banyak drpd di sea level, sehingga perlu aklimatisasi dulu sblm menyelam, makin lama makin baik. disarankan min. 6 jam utk ketinggian di atas 2400m. Utk merencanakan dive di high altitude, Setiap naik kelipatan 300m grupnya dlm tabel nambah 2, jadi seakan2 dive pertama di high altitude spt repetitive dive di sea level. Aklimatisasi setara surface interval.
Ditambah lg spt yg dikatakan om botol, kedalaman di high altitude jika disetarakan dgn di sea level adalah lebih besar, ilustrasinya di danau toba 34m setara di laut 38m (ada tabel konversinya)
krn kedua alasan utama itu, high altitude dive perlu dimengerti dan direncanakan dgn matang.

@ pa Aria, koreksi altitude di dive comp adalah spt yg ditulis kunnikunni A0, A1, A2 atau kl mares p0 (altitude 0-700m), p1 (700-1500), p2 (1500-2400), p3 (2400-3700)
Sedangkan koreksi personel safety factor +1 or +2 utk membuat dive comp lebih konservatif sesuai kondisi dan preferensi si pemakai.


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 20 posts ]  Go to page 1, 2  Next

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to: