It is currently Tue Nov 21, 2017 8:37 pm

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 100 posts ]  Go to page Previous  1 ... 3, 4, 5, 6, 7
Author Message
 Post subject:
PostPosted: Wed Sep 01, 2010 5:30 pm 
Offline

Joined: Fri Mar 20, 2009 11:39 pm
Posts: 913
Location: Jakarta
guswid wrote:
enyong wrote:
Oh ya, yang satu ini agak OOT, apakah Pak Surya tau kenapa time zone Singapore berada di GMT +8 padahal kalau dilihat secara geografi, Singapore harusnya berada ditime zone yang sama dengan Jakarta.


Gw mau coba bantu jawab: sebenarnya penentuan time zone bukan hanya berdasarkan posisi geografi, tapi berdasarkan kesepakatan waktu jam kerja di daerah tsb. Ini untuk memudahkan kepentingan bisnis antar daerah/kota/negara saja. CMIIW please :)


Bener tuh kata Mas Gus, business oriented. Pasar Saham kuncinya, supaya bisa 1 jam di depan Indonesia dan yang paling penting sama dengan Hong Kong yang financial market penting di South East Asia. Gila nggak tuh sampe jam ajah di majukan, in the name of progress. Tapi tak rugi lah.

5 menit ajah di pasar saham bisa make or break sebuah negara yang public funds nya besar. Kalo saham saya agak buta sih... he he he.

SP

_________________
Used to be dumb but no more....


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Sep 01, 2010 6:57 pm 
Offline

Joined: Fri Mar 20, 2009 11:39 pm
Posts: 913
Location: Jakarta
unk_damnation wrote:
Haha, asik banget bacanya penjelasan mbah surya..

Kapan ada pabriknya ya di indonesia buat alat2 diving, sampai ada merk lokalnya gitu (mimpi yang masih jauh :D).. keterbatasan teknologi atau market? Harusnya sih kalo market sehat, teknologi pasti bisa dikejar..


Ini urusan pelik dan kalau di ceritakan jadi panjang.
Teknologi tidak ada yang susah selama ada perusahaan asing yang mau invest dan bawa tuh teknologi dan doku nya. Kalo bikin investment ato prabik di sini demi Indonesian market tok, tak mungkin lah. Pasti untuk global export deh.

Tapi jika cost of doing business dan peraturan kayak sekarang ribet nya, sulit mau cari investor jika cuma sedekar mau andalkan cheap labor Indonesia. Labor emang relatif murah di Indonesia, tapi sosial cost nya dan red tape nya kagak tahan neh dan low cost labor kita production yield nya rendah. Jika gajih sama di Indo dan Vietnam ( ber andai saja ) tapi perkerja Vietnam bisa buat 10 sepatu per 8 jam dan di Indo cuma 8 sepatu, artinya per unit produksi tuh barang, gajih di Indo lebih mahal neh.

Ada tetap ada lah yang mau invest, tapi saingan ada dari negara di Asia lain yang jauh lebih mudah dan friendly dari Indonesia untuk mengundang foreign investment.
Ini balik ke management negaranya. Jika peraturan buruh belum berubah, yaitu jika karyawan mencuri dan di pecat, tetap harus bayar pesangon, yah susah lah mau cari investor asing di kebanyakan industri umum. Entah udah berubah belum nih peraturan. Kalo di negara lain curi telor ajah masuk penjara, boro boro di bayar pesangon. Apa nama decision making kayak gini, kalo enggak salah Populis yah ?

Ada 2 jenis usaha yang investor asing paling cinta Indonesia.
Keruk minyak, gas, batu bara, emas, tembaga dan apapun yang bisa di keruk sebagai natural resources. Tinggal kita yang hitung2 rugi environment banding income.

Kedua adalah consumable hari-hari, kayak odol, shampoo, sabun dan whatever lah.
Itu Unilever bukan lah perusahaan Indonesia, kalo nggak salah Inggris ato Belanda deh. Ini menyerap uang lokal. Jadi supaya gigi kita bersih, rambut tak kusam, badan tak bau, hari-hari ada perusahaan asing yang untung... he he he.

Aqua ajah udah punya Danone perusahaan Perancis dan Ades kalo enggak salah udah di beli ama Coca Cola. Gila coy, air ajah kita minum orang asing dapat untung.

Tempe ajah yang konon makanan nasional, itu kedelainya banyak impor neh.

Lalu datang lah mie instant, all time favorite. Bahan baku nya mayoritas impor neh... he he he sebab konon climate kita tidak cocok untuk tanam gandum.
Gandum itu bahan terigu dan buat roti kita, selain IndoMie.
5.5 juta metric ton kita makan/butuh setahun, katanya.
Kalo sekilo terigu sekarang udah let say Rp6,000/kg di eceran dan anggap pada impor value rp5,000 / kg deh. Rp 27.5 trilliun setahun untuk impor gandum.

Jadi baik nya kita ekspor the WOW factor ajalah. The Indonesian Experience.
Ini asset kita yang kuat dan tidak mungkin bisa di saingi, maksudnya bukan produk yang bisa di compare kayak regulator gitu loh. Kalo orang mau lihat Krakatau atau Komodo, contohnya, toh mereka akan tetap pergi ke 2 lokasi ini, ini experience yang di jual. Tak akan habis-habis kalau jual yang kayak ginian asal environment kita di jaga.

Jadi horny lihat Thailand dapat US$ 16 milliar setahun, padahal kalo laut mah kita jauh lebih indah. Kalo soal Thailand konon juga jual "lendir", itu no comment lah dan kita tidak ke arah itu. Komodo Dragon juga banyak lendir nya di air liur nya...wak kik kik kik.

SP

_________________
Used to be dumb but no more....


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Sep 01, 2010 8:56 pm 
Offline
User avatar

Joined: Sat Sep 27, 2008 3:17 pm
Posts: 618
Location: sanur - bali
Gila....makin seru aja nih thread, udah ampe 7 halaman, dari online store sampe lendir komodo udah disinggung :lol:


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Sep 01, 2010 10:12 pm 
Offline
User avatar

Joined: Tue Aug 25, 2009 5:03 pm
Posts: 156
postingan Om Surya luar biasa! :-)
master bener

Surya Prihadi wrote:
Soal warranty bagaimana ?
Baca FAQ setiap merek produk yang anda ingin beli di website mereka di Eropa, jangan yang website USA atau Asia Pacific sebab policy nya beda. Jika warranty anda di tolak di Asia, jangan ngambek, read the fine print. Jika anda di kenakan surcharge tambahan saat annual service karena ini produk tidak beli di sumber lokal, juga jangan ngambek.Tidak ada orang yang mau work for nothing. Diving industry bukan lah lembaga sosial, ini dagang.

pertanyaan nubih om, kawan beli di singapur alat fotografi yg merknya ada perwakilan di indonesia, dealer/retail sini menolak untuk service kenapa kira kira, padahal disadari musti bayar surcharge

Surya Prihadi wrote:
Blackberry tahun 2009 merem 300,000 unit terjual di Indonesia. Jika ambil low end model nya dengan harga US$300 ajah deh = US$ 90,000,000 ( ampir 1 trilliun rupiah....ceyem euuyyy ). Maka nya service Blackberry bulanan di Indonesia termasuk salah satu yang termurah di dunia dan sales growth nya yang ter EDAN di dunia , dalam persentase per tahun nya. Tapi apakah harga hardware Blackberry di Indonesia lebih murah dari USA ( produsen nya ) dengan sales sebesar itu ? Kayaknya enggak deh, masih murahan di USA.

kalo merk ini memang anomali, gak ada rep office dari principalnya pulak .. hahaha

thanks om


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Sep 01, 2010 10:54 pm 
Offline

Joined: Sun May 16, 2010 12:53 am
Posts: 90
Surya Prihadi wrote:
guswid wrote:
enyong wrote:
Oh ya, yang satu ini agak OOT, apakah Pak Surya tau kenapa time zone Singapore berada di GMT +8 padahal kalau dilihat secara geografi, Singapore harusnya berada ditime zone yang sama dengan Jakarta.


Gw mau coba bantu jawab: sebenarnya penentuan time zone bukan hanya berdasarkan posisi geografi, tapi berdasarkan kesepakatan waktu jam kerja di daerah tsb. Ini untuk memudahkan kepentingan bisnis antar daerah/kota/negara saja. CMIIW please :)


Bener tuh kata Mas Gus, business oriented. Pasar Saham kuncinya, supaya bisa 1 jam di depan Indonesia dan yang paling penting sama dengan Hong Kong yang financial market penting di South East Asia. Gila nggak tuh sampe jam ajah di majukan, in the name of progress. Tapi tak rugi lah.

5 menit ajah di pasar saham bisa make or break sebuah negara yang public funds nya besar. Kalo saham saya agak buta sih... he he he.

SP


Plus Pasar Komoditi tentunya yang paling penting :)
Sengaja saya tanya itu supaya kawan2 disini terbuka matanya kalau ternyata goverment singapore itu memikirkan segalanya.

Biar engga ditegur ama mod, kita balik ke topik ah...


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Sep 01, 2010 11:05 pm 
Offline

Joined: Sun May 16, 2010 12:53 am
Posts: 90
guswid wrote:
Gila....makin seru aja nih thread, udah ampe 7 halaman, dari online store sampe lendir komodo udah disinggung :lol:


hahaha... memang mantap nih P Surya, dua jempol deh...


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Sep 01, 2010 11:09 pm 
Offline

Joined: Sun May 16, 2010 12:53 am
Posts: 90
Surya Prihadi wrote:

Main line usaha saya adalah urusin kapal pesiar bukan diving.


SP


hmm... sering donk ikut International Boat show? di Shanghai ? atau Monaco?


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Sep 01, 2010 11:53 pm 
Offline

Joined: Fri Mar 20, 2009 11:39 pm
Posts: 913
Location: Jakarta
deudeuh wrote:
pertanyaan nubih om, kawan beli di singapur alat fotografi yg merknya ada perwakilan di indonesia, dealer/retail sini menolak untuk service kenapa kira kira, padahal disadari musti bayar surcharge

thanks om


Lain perusahaan lain policy. Pemegang merek itu di Indo punya hak untuk menolak , sebab mereka bukanlah perusahaan principle, mereka distributor atau dealer. Kan level harga alat kamera tertentu ada pajak dan margin kamera kecil neh, jadi salah satu cara untuk distributor atau dealer lokal untuk protect priuk nasi nya adalah untuk hanya melayani produk yang bersumber dari stok mereka yang dimana penjualan itu menghasilkan untung $$ dan karena ada untung $$ lah mereka bisa sewa toko, latih teknisi ke Jepang, beli special calibration tools dan buyer kagak usah terbang jauh-jauh ke Singapura untuk service. Simple kan. You garuk2 eke, eke juga akan garuk2 you. Kayak monyet saling bantu cari kutu ajah..wak kik kik.

Principle/produsen juga tidak bisa melarang dealer ato distributor untuk melakukan adjustment di service policy lokal, sebab semua produsen mau barang nya laku di berbagai negara di dunia dan sadar akan kesulitan tipikal pedagang yang tetangga nya negara bebas pajak kayak Singapura, yang punya fasilitas shipping yang sangat efficient dan segala hal positif yang kita hanya bisa meneteskan iler ampe se ember...berharap suatu saat punya kemudahan berbisnis sama ama Singapura ato Hong Kong. Tapi kan tiap negara beda beda prioritas dan mekanisme management nya, maka tidak mungkin semua negara di Asia menganut free trade.

Kamera kalo yang SLR high end kayak Canon 5D MK2 kan mahal neh. Dulu baru keluar bisa Rp35 juta ato berapa gitu. Nah beda belanja di Singapura dengan GST 7.5% yang bisa di claim di airport alias enol biaya, dengan beda PPN 10% yang ada di Indonesia ajah udah 3.5jt kan ? Baru PPN nih belum embel embel lain.
Lalu distributor lokal cuma untung single digit bagi consumer electronics kelas kamera, apa kagak stress mereka harus layani serangan parallel impor ?

Harga jasa service itu banyak bagi merek produk consumer electronic, di modali atau di subsidi dengan untung dagang alias jualan produk. Service center mereka bukan stand alone profit center kayak bengkel mobil.

Lalu salah satu cara yang paling mudah dan aman untuk protect produk dagang mereka dari gempuran parallel import adalah dengan totally deny service bagi yang hobby parallel import. Beli di Singapura walaupun bukan untuk dagang itu sudah parallel import, sebab buyer berusaha untuk bypass mekanisme distribusi lokal demi irit uang, maka nya ada wakil merek tertentu akan gebok balik pembeli. Istilah preman nya adalah, kau gigit aku, ku gigit kau kembali lah.... ha ha ha.

Jika yang bawa tuh kamera untuk service adalah orang Inggris deh sebagai contoh, tuh bule sedang tugas ato jalan2 di Indonesia dan dari nomor seri kamera nya ketauan memang beli di Inggris, saya jamin 100% akan di terima untuk di service
( warranty belum tentu, harga service mungkin beda juga ) di distributor lokal dengan senang hati sebab ini merupakan tanggung jawab mereka sebagai wakil merek tersebut di Indonesia dan ini murni circumstances nya adalah global service network dan distributor/dealer lokal tidak merasa di rugikan.

Selalu ingat, kemudahan ada nya stok lokal, adanya after sales support lokal, semua adalah biaya. Jika yang tidak ikut sumbang biaya tersebut, jangan terlalu berharap akan dapat benefit nya. Adil kan ?

Kalo pedagang alat selam kayaknya masih agak flexible soal meng-service alat selam yang parallel impor lah. Mungkin kena surcharge, mungkin kagak. Kan community nya kecil, banyak yang friend friend. Yang di tolak service cuma yang hasil curian bekas carding doank sebab technically itu emang barang maling.

Kalo soal alat photo yang omset nya jubilah gede, mereka mungkin lebih saklek ama parallel importir sebab mereka lebih murni pedagang , di banding pemain alat selam yang selalu awal mulanya dagang karena cinta diving bukan semata-mata karena financial motivation nya. Boleh sama sama produk hobby tuh kamera, tetapi diving industry lebih ke labor of love.

Udah ah, topik udah melenceng jauh dari ScubaStore.
Ampe disini ajah. Yang mau belanja di Scubastore jangan sungkan lanjut gotong royong nya. Ini forum bebas neh.


SP

_________________
Used to be dumb but no more....


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Sep 02, 2010 12:15 am 
Offline
User avatar

Joined: Tue Aug 25, 2009 5:03 pm
Posts: 156
terima kasih banyak om Surya

*sungkem cium tangan


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Sep 02, 2010 11:24 am 
Offline

Joined: Tue Jan 19, 2010 10:57 pm
Posts: 64
Bravo oom Surya. Penjelasan dan analisanya jauh lebih jernih dari pada Menteri terkait maupun pakar-pakar marketing :)

Angkat dua jempol!


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 100 posts ]  Go to page Previous  1 ... 3, 4, 5, 6, 7

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to: