It is currently Fri Dec 15, 2017 3:24 pm

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 15 posts ] 
Author Message
 Post subject: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Mon Apr 13, 2015 6:29 am 
Offline

Joined: Wed Oct 15, 2014 12:15 am
Posts: 9
Location: Vienna, Austria
Kata Pengantar :

Image

Keindahan dibawah laut dan keindahan pemandangan pulau pulau yang berada di jajaran kepulauan Raja Ampat telah banyak ditulis baik oleh para penyelam yang berasal dari Indonesia maupun oleh para penyelam yang berasal dari manca negara.
Destinasi Raja Ampat adalah destinasi terkenal Indonesia setelah Bali, terutama untuk wisata bahari, khususnya Wisata Diving yang betul betul lagi "naik daun", harganya selangit untuk kategory Wisata Diving.

Walaupun Indonesia memiliki kekayaan bahari tingkat dunia, tidak banyak orang Indonesia yang tahu tentang potensi besar kelautan Indonesia. Ada sekitar 600.000 km persegi wilayah terumbu karang di Indonesia dan Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah terumbu karang terluas di dunia. Indonesia memiliki Kepulauan Takabonerate di Sulawesi Selatan, yang merupakan gugusan karang atol terbesar ketiga di dunia setelah atol Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Maldives.

Sayang kehadiran banyaknya Wisatawan Mancanegara di Raja Ampat masih belum mampu memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat setempat, khususnya orang Papua. Resort resort dan kapal Pinisi yang beroperasi sebagai LoB (Liveaboard) di Raja Ampat, mayoritas kepemilikannya berada di tangan orang asing, mayoritas ABK (Anak Buah Kapal) yang bekerja di kapal Pinisi LoB adalah orang orang dari luar Papua.
Mayoritas kondisi Homestay yang dimiliki orang orang lokal Papua yang sedang di giatkan oleh Pemda juga tidak lebih baik.

Dengan tulisan ini saya ingin mengajak anda para pembaca forumselam untuk melihat Raja Ampat dari "kaca mata" lain tanpa mengenyampingkan pengalaman indah penyelaman saya selama liburan akhir tahun 2014 yang lalu di Raja Ampat.

Liburan akhir tahun 2014.
Awal November 2014 yang lalu, saya dan isteri saya berkesempatan berlibur selama 5 minggu di Indonesia, tepatnya 22 hari di Raja Ampat dalam rangka penugasan kerja oleh adik perempuan saya untuk mengumpulkan informasi, membuat foto foto & video, menikmati keindahan pulau pulau dan keindahan dibawah air di gususan Raja Ampat dari sebuah Resort di pulau GAM selama 10 hari dan selama 12 hari mengikuti penyelaman dari kapal Pinisi Seahore sebagai LoB (LiveaBoard).
Untuk tugas ini semua biaya kami berdua mulai dari Eropa sampai ke Raja Ampat pulang pergi termasuk biaya selama di Resort dan LoB kapal Pinisi Seahorse menjadi tanggungan adik perempuan saya di Depok, Jakarta.

Highlight cerita perjalanan saya selama di Raja Ampat
-Penyelaman di Raja Ampat : Pygmy Seahorse & Manta Ray
-Oleh Oleh dari Raja Ampat
-Spesies yang unik Raja Ampat : Wobbegong
-Dive Spot sekitar pulau Gam : Cape Kri & pulau Wai
-Tinggal di Resort atau di kapal Pinisi ?
-Resort di pulau Gam : ? Papua Explorer
-Perjalanan dengan Pinisi Seahore untuk LoB : kapal Pinisi Seahorse
-Peralatan Underwater Photography
-Perlengkapan Diving
-Kontribusi pariwisata bahari kepada masyarakat Raja Ampat.
-Harga pangan mahal.
-Tenaga kerja lokal Papua
-Sewa pulau dan mabok
-Kapal Pinisi rawan pemerasan.
-Homestay untuk industri pariwisata Bahari.
-Makanan di homestay
-Promosi
-Oleh oleh khas Irian di Sorong
-Sasi, Patroli
-Perahu Pinisi.

Foto foto yang anda lihat di forumselam adalah foto foto yang dibuat saya bersama isteri saya Dr. Michaela Kusrini

_________________
Subagio Rasidi Kusrini (etoy)


Last edited by etoy on Mon Apr 13, 2015 8:22 am, edited 2 times in total.

Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Mon Apr 13, 2015 6:31 am 
Offline

Joined: Wed Oct 15, 2014 12:15 am
Posts: 9
Location: Vienna, Austria
Raja Ampat
Kepulauan Raja Ampat secara administrasi berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat yang terdiri dari empat rangkaian gugusan pulau yang saling berdekatan dan berlokasi di barat bagian Kepala Burung, Papua (dahulu di jaman Belanda namanya Vogelkoop). Ke empat gugusan pulau pulau tsb dinamakan sesuai menurut empat pulau terbesarnya, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta.

Nama Raja Ampat berasal dari sebuah mitos yang tidak ingin saya ceritakan disini. Jaman dahulu Raja Ampat di klaim sebagai bagian dari Kesultanan Islam Tidore di Maluku.

Penyelaman di Raja Ampat
Kondisi terumbu karang selama penyelaman di Raja Ampat terlihat masih sangat baik, beberapa tempat yang saya kunjungi memiliki penutupan karang hidup yang sangat lebat seperti di selat Dampier dan Kepualauan Misool selatan. Tipe dari terumbu karang di Raja Ampat umumnya adalah terumbu karang dengan kontur landai hingga curam, juga dapat ditemukan tipe atol dan tipe gosong. Di beberapa tempat di Raja Ampat ketika air pasang surut yang terendah, anda dapat menyaksikan hamparan terumbu karang dengan mata telanjang tanpa anda harus menyelam, dimana karang karang tsb telah beradaptasi sendiri dengan lingkungan udara terbuka dan terpaan langsung sinar matahari.

Spesies yang unik yang kami jumpai pada saat menyelam adalah beberapa jenis :

Pygmy Seahorse
Image
Kuda laut Pygmy Seahorse (Crop foto)

Image
Kuda laut yang lebih kecil lagi (Crop foto)

Karena Flip Diopter Holder untuk lensa Macro Diopter saya pada hari pertama tidak kuat menahan berat Diopter lensa Nauticam Macro +10 Diopteri yang cukup berat dan akhirnya patah, sehingga selama di Raja Ampat saya sama sekali tidak membuat foto foto makro.
Satu pelajaran bagi saya, lain kali saya tidak mau lagi roll back dari speedboat ke air sambil memeluk kamera dengan Flip Diopter, ini terpaksa saya lakukan, karena arus permukaan cukup kuat, sehingga kami harus zero insert kedalam air untuk menghindari hanyut ketika menunggu kamera disampaikan oleh awak kapal speed boat

Tanpa menggunakan closeup Diopter lens Nauticam Macro, maka pembuatan foto foto makro dari jarak yang sangat dekat dengan lensa baru Olympus 45mm/F1.8 yang saya beli di JPC Kemang tidak banyak berguna, setelah 2 kali mencoba tanpa Diopter saya cukup frustasi untuk mencoba membuat foto foto makro tanpa bantuan Diopter lens pada lensa saya, saya akhirnya mengambil keputusan untuk tidak membuat foto foto makro selama di Raja Ampat dan kebetulan Raja Ampat memiliki banyak sekali objek objek wide angle yang sangat menarik untuk di foto, misalnya landscape terumbu karang di bawah air, gerombolan ikan dalam jumlah besar dll.
Dibandingkan dengan pembuatan foto foto dibawah air dari objek objek makro, objek wide angle dari segi komposisi cukup sulit bagi saya untuk menghasilkan foto foto dengan komposisi yang baik.

Manta Ray

Image

Dive Spot seperti Manta Point, Manta Drop Off dan masih ada 1 lagi lokasi Manta Ray yang letaknya juga tidak jauh dari Kampung Arborek di Selat Dampier adalag dive spot yang selalu dikunjungi untuk melihat Manta Ray.

Dalam penyelaman di Manta Dropp Off kami berkesempatan menyaksikan di sebuah Cleaning Station 5 ekor Manta Ray (3 Manta Ray berwarna putih dan 2 berwarna hitam) yang sedang dibersihkan dari parasit disekujur badannya oleh ikan ikan lain. Ke lima Manta Ray yang berukuran sekitar 3-4 meteran tsb berenang terapung 1 meter diatas kami, floating terbawa arus dari ujung sebelah kanan kami sampai jauh ke ujung kiri kami, setelah itu mereka melayang bagaikan Stealth Bomber yang hanya dengan 6-8 kali ayuhan dari kedua belah sayapnya kembali berputar ke tempat asalnya lagi. Kami sendiri, 6 orang penyelam dan 2 Dive Master "parkir" di dasar laut kira kira 1 meter dibawah Manta Ray yang terapung.

Untuk tidak menganggu ikan Manta Ray, kami sengaja menikmati keindahan alam ini dengan cara membelakangi Manta Ray yang sedang kami pantau.

Arus di kedalaman 11 meter di Cleaning Station Manta Dropp Off luar biasa kuatnya, untuk dapat menikmati ke lima ekor Manta Ray tsb selama 65 menit, kami harus menggunakan jangkar badan yang di ikat ke Jacket BCD dan ujung yang satu di cantolkan ke akar karang (hard coral).

Tips : Setelah kami aman terikat jangkar badan, BCD langsung diisi udara, supaya badan kami dapat sedikit naik dan kawat jangkar tidak tergesek gesek merusak terumbu karang disekitarnya.

Ketika kami selesai menikmati Manta Ray selama 65 menit, kami bermaksud naik kembali ke permukaan laut, begitu jangkar badan kami lepas dari karang, arus bawah kuat sekali menarik kami ke dasar laut. Dengan susah payah ke dua Dive Master menarik isteri saya dan seorang penyelam Jerman dari "sedotan "hanyutan ke dasar laut yang berwarna hitam gelap. Saya sendiri menggunakan Fin Apnoe yang sangat panjang, sehingga dengan kayuhan yang cukup kuat dari Fin Apnoe saya, saya bisa membebaskan diri dari tarikan arus ke bawah dan kembali ke permukaan air.

Tidak terbayang apalabila kami terseret ke kedalaman diatas 30 meter, apa yang akan terjadi dengan kami yang menggunakan Nitrox 32 untuk penyelaman ini, dijamin dikedalaman 35-40 meteran kami akan keracunan Oxygen. Alternativ lainnya adalah mengisi BCD sampai penuh untuk dapat membebaskan diri dari cengkraman arus yang menarik kebawah. Tentunya solusi ini sangat berbahaya, karena dalam waktu yang singkat anda bisa seperti di katapult jepretan ke permukaan air dan dijamin kena decompression sickness.

Hanya persiapan diving dan briefing yang baik sebelum penyelaman dimulai yang memungkinkan kami tidak mati konyol terserat arus kebawah, juga sebelum jangkar badan kami di lepas dari akar terumbu karang, kami diberi tanda dengan bahasa tangan bahwa kita nantinya harus cepat keluar dari tarikan arus. Tidak terbayang betapa bahayanya pekerjaan seorang Dive Master dan Dive Guide.

Tips : bagi anda yang selama ini masih kurang mementingkan arti pentingnya sebuah Briefing penyelaman, saya hanya bisa menyarankan anda untuk mulai merubah pikiran anda.

Pulau Batanta

Image

Di sekitar pulau Batanta yang berseberangan dengan 2 buah pulau kecil dan berhutan Mangrove dipinggirannya, kami berkesempatan lagi menikmati pemandangan 6 buah Manta Ray ukuran besar dikedalaman 9-10 meteran selama hampir 70 menit lamanya yang secara bergantian sedang di bebaskan dari parasit dan kotoran di sekujur badan mereka oleh ikan ikan kecil lainnya.

Tips
Beberapa tips yang perlu diperhatikan dalam aktifitas manta watching :
-Hindari untuk memegang badan Manta Ray yang sedang berenang.
-Hindari penyelaman di jalur pergerakan Manta yang sedang melakukan pembersihan di Cleaning Station.
-Dekati Manta Ray (bila diinginkan) hanya dari arah belakang supaya mereka tidak kaget melihat kehadiran anda.
-Hindari gerakan mendadak didekat Mata Ray, supaya mereka tidak merasa terancam dan lari.

Selama di Raja Ampat saya membuat foto foto Manta Ray dari posisi low angle dari bawah Manta Ray, untuk liburan berikutnya saja akan mencoba untuk mengambil komposisi foto yang berbeda, karena Manta Ray selalu berenang berputar putar disekitar Cleaning Station, kalau anda sudah mengetahui daerah berputarnya dan anda tidak menghalangi lintasan Manta Ray, maka anda dapat menunggu ditempat yang berbeda pada posisi kedalaman yang sama dengan Manta Ray.

Tips :
Kalau posisi anda ke Manta Ray agak jauh, gunakan 2 Strobe dengan GN yang cukup besar supaya cahaya dari Strobe dapat menjangkau tubuh Manta Ray, terutama Manta Ray yang berwarna hitam, selama ini saya lebih banyak mendapat bayangan Manta Ray saja.

Code of Conduct for watching Manta.
Bila anda ada waktu, tidak ada salahnya anda baca Code of Conduct for watching Manta di link dibawah ini.
http://mantawatch.com/site/mantawatch-ocean-research-and-conservation/code-of-conduct/

Oleh oleh dari Raja Ampat

Image

Kerajinan tangan khas kampung Arborek adalah topi gelombang/pari yang dalam bahasa lokal disebut koyafyof.
Bila anda sempat mampir ke Arborek, gunakan kesempatan ini untuk membeli satu atau dua buah kerajinan tangan mereka sebagai partisipasi anda untuk ikut membantu meningkatkan perekonomian masyarakat Arborek.

Bila anda berkesempatan datang ke Kampung Wisata Arborek untuk istirahat makan siang setelah selesai penyelaman pertama di salah satu lokasi Manta Ray, gunakan kesempatan ini untuk melihat kampung Arborek dari dekat yang ternyata merupakan pusat kerajinan tangan di Kabupaten Raja Ampat yang awalnya diprakarsai oleh empat orang mama, selain itu masih ada wadah pinang dan noken yang bisa anda beli di Arborek.

Image
Pintu Gerbang masuk ke Arborek

Image
Di Gazebo yang dibangun diatas air persis disebelah Jetty para penyelam dapat beristirahat dan makan siang.

Image
atau anda dapat melakukan makan siang anda di pinggiran jetty

Image
Kapal kapal yang mampir membawa para penyelam dari manca negara untuk makan siangdi Arborek

Image
Isteri saya Dr. Michaela Kusrini sedang selfi di depan denah kampung Arborek

Image
Foto bersama dengan Dive Guide saya yang berasal dari Misool.

Sayang selama kami berada di Arborek bertepatan dengan hari Minggu, dimana penduduk Arborek sedang melakukan ibadah hari Minggu di Gereja, kami tidak sempat melihat ibu ibu pengarajin bekerja, sehingga kami hanya bisa menampilkan 2 foto koyafyof atau topi pari yang terpasang disalh satu dinding rumah di kampung Arborek.

Wobbegong

Image
Di dekat pulau Batanta, ketika kami menyaksikan Manta Ray yang sedang dibersihkan oleh ikan ikan kecil di Cleaning Station, tidak jauh dari tempat kami berkumpul di Cleaning Station, kami melihat seekor Wobbegong di dasar laut yang sedang bertengker tiduran di pasir putih layaknya seorang model yang minta di foto.

Salah satu hiu khas Raja Ampat yang beberapa kali kami temui di Raja Ampat, Papua Barat adalah hiu karpet yang sering disebut dengan nama Wobbegong (Orectolobus leptolineatus).

Hiu karpet atau Wobeggong tersebar di perairan sekitar Australia dan Indonesia.
Kata “Wobeggong” dipercaya berasal dari bahasa Aborigin yang berarti ‘”jenggot kasar” (perhatikan gambar diatas dibagian mulutnya), sama seperti Bunglon, Wobbegong dapat berkamuflase di dasar laut dengan alam sekitarnya .

Image
Kamuflase Wobbegong di dasar laut dengan alam sekitarnya

Image
Kamuflase Wobbegong di dasar laut dengan alam sekitarnya

Wobbegong memiliki ciri ciri :
-suka hidup di dasar laut,
-panjang maksimal bisa mencapai 1,5 meter.
-warna kulit wobbegong abu abu kecoklatan dan memiliki corak simetris totol-totol.
Warna kulit ini digunakan wobbegong untuk menyamar dan berbaur dengan lingkungan sekitarnya.
-Makanan utama Wobbegong adalah ikan ikan kecil dan memangsanya dengan cara menunggu terlebih dahulu, kemudian menyergap secara tiba-tiba pada malam hari.
-Wobbegong berkembang biak secara ovovivipar, telur ditetaskan di dalam tubuh, kemudian keluar menjadi anak hiu.

Seperti hiu yang di jumpai didaerah khatulistiwa pada umumnya, wobbegong relatif tidak berbahaya terhadap manusia. Wobbegong bisa menyerang hanya bila merasa terganggu.

Eco System terumbu karang yang baik di Raja Ampat dan ikan ikan karang yang berlimpah adalah salah satu faktor pendukung sebagai tempat penyamaran bagi Wobbegong .
Kami sering melihat Wobbegong tiduran di bawah terumbu karang, biasanya kami hanya dapat melihat ekornya yang menjorok keluar terumbu karang, untuk melihat badan atau kepalanya kami harus "nungging" memasukan kepala ke celah celah batu karang atau memasukan moncong kamera beserta Strobe untuk dapat membuat badan atau moncong seekor Wobbegong.

Di Misol Selatan kami mendapatkan banyak kesempatan lagi untuk melihat Wobbegong, salah satunya adalah Wobbegong yang sedang tiduran didalam karang yang berbentuk seperti mangkok raksasa.

Image
Wobbegong sedang "ngeceng" tiduran dalam sebuah karang berbentuk bunga

Hiu karpet merupakan keluarga Orectolobidae, anggota dari ordo Orectolobiformes, memiliki ciri ciri sepasang sirip dorsal, tak bersirip atas (spine), mulut kecil pipih di depan, beberapa jenis memiliki barbel (semacam tentakel di depan mulut), dan sirip belah yang mungil.

Di beberapa film Youtube saya melihat film Wobbegong yang sedang berenang, perkiraan saya Wobbegong yang biasanya selalu tiduran didasar laut atau dibawah karang berbentuk cendawan, ditarik tarik seorang guide nakal untuk merubah posisinya supaya mudah difoto untuk disajikan ke tamunya. Perlakuan ini sempat saya lihat dari seorang guide kapal tetangga yang tamu tamunya kebetulan diving di tempat yang sama.

Cape Kri
Cape Kri adalah lokasi dive spot yang wajib dan harus dikunjungi untuk diselami. Pertama kali kami ke Cape Kri dan tiba sekitar jam 8 pagi sudah ada 10 speedboat yang telah terlebih dulu menurunkan para penyelam manca negara ke dasar laut di Cape Kri serta ada 2 kapal Pinisi yang buang jangkar dikejauhan.
Anda bisa bayangkan, di bawah laut sekitar Cape Kri sudah penuh dengan para penyelam bagaikan "cendol" yang terdiri dari para penyelam manca negara.

Image
Para penyelam manca negara sedang antere membuat foto dibawah laut

Di Cape Kri kami berkesempatan dikelilingi oleh ribuan ikan, kadang kumpulan ikan tuna, ekor kuning, giant trevallies dan snappers. Sedikit menegangkan ketika saya dan isteri saya memasuki sekumpulan ikan barakuda, walaupun sebenarnya kumpulan ikan Barakuda relatif tidak berbahaya dan yang justru berbahaya adalah ikan barakuda yang sendirian dan berwarna lebih gelap.

Image

Image

Image

Image
Gorgonian

Image

Image
Sea Anemon

Juga 5 ikan Hiu karang sempat menjadi atraksi bagi para penyelam manca negara, karen ikan ikan hiu ini tidak seperti biasayan numpang lewat, tetapi ke lima ikan Hiu tsb berenang berputar putar di sekitar kami yang kemudian ikan hiu tsb akhirnya dikelilingi oleh para penyelam dalam 1 lingkaran besar yang makin lama lingkaran tsb menjadi sempit dan kelihatan betapa ikan ikan tsb pada akhirnya juga merasa stress berputar putar dalam lingkarang kecil sehingga akhirnya 2 dari ikan ikan hiu tsb membuat serangan fiktiv dengan menukikan separuh badannya.

Pertama kali kami menyelam di cape Kri, kami masih bisa diving santai selama 45 menit dan 15 menit terakhir kami betul betul ditarik arus permukaan menjauhi Cape Kri dan akhirnya kami terpaksa harus memasang lagi jangkar dari BCD ke akar Karang.
Kami berkesempatan sampai 3 kali menyelam di Cape Kri, ketiga tiganya laut selalu berarus, yang kedua dan ketiga kalinya kami hanya bisa melakukan drift dive selama 55 menit tanpa sekalipun dapat membuat foto.

Image
Istirahat makan siang di depan pulau Cape Kri

Image
Kapal kapal yang sedang parkir didepan pulau Cape Kri

Pulau Wai

Image
Bangkai pesawat tempur P47 di pulau Wai, foto diambail dari belakang bagian ekor pesawat.

Image
Bagian pesawat yang masih dapat dikenali sebagi bangkai pesawat.

Image
Propeller pesawat yang bengkok ketika jatuh menyentuh air

Image
Laras senapan yang terpasang dibagian sayap kiri


Image
Beberapa bagian dari bangkai pesawat sudah tidak mudah dikenali lagi, karena bangkai poesawat yang berada puluhan tahun didasar laut pada kedalaman 26 meter hampir menyatu dengan karang disekitarnya.

Image
Laut disekitar bangkai pesawat cukup menarik untuk di selami.

Ada 4 bangkai pesawat P47 (Thunderbolt) Belanda yang ditembak oleh Jepang di dekat pulau Wai, satu diantaranya berada di kedalaman 26 meter. Lokasinya mudah dijangkau, kondisi bangkai pesawat hampir menyatu dengan terumbu karang disekitarnya.

Image
Setelah melakukan penyelaman di sekitar pulau Wai, kami beristirahat untuk makan siang di pulau Wai.
Pasirnya begitu putih dan menyilaukan, di pulau Wai ada sebuah Homestay dengan 3 bungalow yang cukup apik dan menyediakan peralatan Diving berikut pengisian udara tetapi tanpa Nitrox.

Image
Pulau Wai

Image
Pulau Wai

Image
Kuskus penjaga Dive Plan di pulau Wai

Image
Dive Plan di Pulau Wai

[img]Gerombolan%20ikan[/img]
Selama kami melakukan penyelaman di sekitar pulau Gam dan di Misol sebelah tenggara, letak pulau pulau kecilnya saling bersebelahan dengan selat yang sempit, sering dibawah permukaan air masih ada 2-3 pulau pulau kecil yang tidak sampai timbul kepermukaan laut, sehingga tidak heran sebagian besar tempat penyelaman pada waktu tertentu memiliki arus yang kencang di selat antara 2 pulau.
Kesempatan ini kami gunakan untuk untuk melakukan drift dive, menyelam sambil mengikuti arus yang kencang dengan air yang sangat jernih sambil menerobos kumpulan ikan atau melewati diatas sekumpulan softcoral Gorgonian yang sangat lebat dan lebar.

Diantara 2-3 pulau kecil baik yang terletak diatas laut maupun yang berada dibawah permukaan laut dengan kedalaman antara 8-15 meter, arus laut biasanya cukup kencang ketika kami menyeberang dari satu pulau ke pulau kecil lainnya, di tempat tempat yang arus lautnya kencang banyak dilihat gerombolan ikan mulai dari ukuran ikan teri sampai ikan besar lainnya yang saling caplok menyaplok.

Image
Peta Briefing sebelum penyelaman di Blue Magic

Image
Peta Briefing sebelum penyelaman di Cape Kri

Image
Begitu ikan yang lebih besar akan memangsa ikan teri, ikan ikan teri ini bagaikan seperti mendapat komando dari seorang dirigent akan lari berenang pindah tempat bagaikan sebuah bendera raksasa berwarna perak yang baru tertiup angin dan begitu pindah tempat, ikan ikan ini langsung di incar oleh ikan ikan yang lebih besar lagi, pemandangan ini adalah pemandangan sehari hari selama kami menyelam 22 hari di gugusan pulau pulau di Raja Ampat.

Image
Ikan ikan yang lebih besar dibagian kanan atas foto ini sedang menguber ikan ikan kecil untzuk dimangsa

Image
Sampai diujung kiri sebelah saya, mereka lari lagi ke ujung kanan sebelah saya.

Image
Ikan Napoleon seorang diri.

Image
Sea Anemone

Image
Illegal Fishing di Misool

Dalam perjalanan pulang dari Misool ke pulau Bantanta, kapal tiba tiba memperlambat jalannya mesin, karena ada jaring yang luar beiasa panjangnya. Jaring tsb diberi pelampung plastik berwarna putih.
Di ujung yang sangat jauh kelihatan sebuah kapal mengawasi jaring tsb.

Ada 4 buah kapal dengan 4 buah jaring yang sangat panjang terpasang paral dengan jaring pertama, karena setiap kali kapal Pinisi kami melewati jaring tsb, kapal harus memperlambat kecepatan kapal untuk menghindari jaring tersangkut kapal.

High Light penyelaman lainnya
Seorang penyelam asal Amerika mengajak saya dan isteri saya untuk menyelam malam dengan menggunakan lampu Fluorescent.
Bagi saya betul betul suatu kesempatan istimewa yang lain dari yang lain karena dengan lampu Fluorescent dan kaca mata kuning yang dipakai di masker, saya bisa melihat warna warna lain yang dipancarkan dari terumbu karang dan mahluk mahluk karang lainnya.
Sayang untuk dapat membuat foto foto diperlukan lampu senter Fluorescent dengan cahaya yang lebih besar lagi dan kamera dengan ISO tinggi, idealnya adalah dengan menggunakan kamera ISO diatas 3200 dan noise yang rendah.
Fluorescent Night Diving adalah target penyelaman saya berikutnya, kalau perlengkapan saya sudah lengkap dan ada foto fotonya, saya akan kembali dengan tulisan ke forum anda.

Tinggal di Resort/Homestay atau di kapal Pinisi ?
Ini salah satu keputusan yang harus anda ambil sebelum adan memutuskan untuk berlibur ke Raja Ampat.
Pilihan hanya ada 2, tinggal di sebuah Resort/Homestay atau tinggal di sebuah kapal pinisi yang sudah dimodifikasi untuk LoB (Liveaboard) bagi para penyelam.

Resort Papua Explorer
Image
Resort Papua Explorer (Papex) di pulau Gam

Image
Bungalow di Papua Explorer

Image
Kamar tidur bungalow di Papua Explorer

Image
Tempat tidur di bungalow

Image
Kamar mandi dan WC di bungalow

Image
Ruang makan bersama di Papua Explorer

Image
Di ujung Jetty adalah tempat briefing sebelum penyelaman dan
tempat naik ke spped boat yang mengantarkan ke destinasi penyelaman.

Image
Anda bisa bayangkan betapa indahnya mata hari terbit setiap pagi yang terlihat dari balkon bungalow anda.

Image
Matahari terbenam di Papua Explorer

Image
Seminggu 2 kali tamu tamu manca negara pulang melalui Sorong dan datang dari Sorong dimana team penyambutan selalu siap menyambut kedatangan tamu tamu baru dengan lagu lagu Papua.
Lagu lagu daerah Papua tidak kalah seperti lagu lagi daerah yang berasal dari Tapanuli dan Ambon.

Image
Papua Exploere menyediakan jasa Wireless LAN gratis, tetapi anda jangan mimpi untuk dapat browsing dengan kecepatan yang memadai. Tinggalkan Laptop dan Gadgets anda, bukankah anda sedang berlibur di Raja Ampat ?

Image
Menikmati suana mendung dari balkon bungalow.

LoB (LiveaBoard) dengan kapal Pinisi Seahorse
Kalau uang "kecil" biaya naik kapal Pinisi selama di Raja Ampat bagi anda tidak menjadi masalah, pilihan menggunakan kapal Pinisi sebagai LoB (Libeaboard) adalah lebih tepat untuk dapat menjangkau pulau pulau yang cukup jauh dari Sorong, misalnya pulau pulau di gugusan Misol bagian tenggara atau Misol bagian barat atau pulau pulau di sekitar Triton Bay di Fak Fak.

Image
Kapal Pinisi Seahorse

Image
Kapal Pinisi Seahorse membawa 2 speedboat alumunium. Dalam perjalanan malam, 1 Speedboat selalu dikerek ke atas kapal.

Image
Speedboat sedang dikerek keatas kapal.

Image
Speedboat dengan 8 divers dari manca negara, 2 ABK dan seorang dive guide dan Cruise Director wanita dari Jerman yang juga ikut menemani para divers.

Speedboat ini cukup lebar, sehingga sayapun yang selalu menggunakan Apnoe fin yang cukup panjang tidak selalu bersentuhan dengan fin dari Diver yang duduk dihadapan saya.
Selain itu saya tidak perlu takut kepala saya ke jeduk atap speedboat fiberglass yang pada umumnya dipakai di resort resort.
Speedboat Alumunium design ini tidak memberi kesempatan kepada ABK untuk duduk berleha leha atau dudk duduk santai seperti pada speedboat fiberglass yang memiliki tempat duduk yang lebih nyaman sehingga ABK harus selalu berada dalam posisi berdiri, sehingga ABK dapat dengan cepat mengetahui bila tamunya yang baru muncul kepermukaan air.

Kapal ini memiliki 2 anak tangga dibagian belakang sehingga para Divers dapat cepat naik ke speedboat, terutama kalau speedboat berada di pinggiran bibir tebing pulau, sehingga para divers bisa cepat naik ke speedboat tanpa ABK harus menghidupkan mesin kapal untuk mengetengahkan kapal ke tempat yang lebih dalam lagi.

Image
Begitu speedboat membawa kembali para Divers ke kapal Pinisi dan mereka bebenah membilas kamera yang mereka bawa kemudian para Divers selalu mendapat handuk kering dan segelas air putih.

Image
Kamar tidur kapal Pinisi sangat sederhana

Image
Dibelakang ransel biru saya terlihat pintu kamar kecil dan kamar mandi.
Rungan di kapal Pinisi cukup sederhana tetapi nyaman untuk tidur seorang diri.

Image
Makan siang selalu dibuka dengan Salad, makan malam selalu dibuka dengan sepiring sup hangat.
Makanan di sebuah LoB yang dibuat oleh seorang Chef cook tidak kalah pentingnya seperti kemampuan seorang Dive Guide/Cruise Director ketika mengajak tamunya untuk menyelam, semuanya adalag suatu Synergie keserasian dalam Business Bahari.

Image
Acara setelah makanan utama selalu ditutup oleh sebuah dessert yang berkwalitas makanan hotel bintang 4.
Chef Cook di kapal Pinisi Seahorse adalah orang Indonesia yang dibantu oleh seorang pelayan anak muda yang baru berumur 23 tahun dan bekerja sangat cekatan, cepat dan ramah.

Setelah makan malam selesai, biasanya giliran Cruise Director untuk menemani ngobrol tamu tamunya.
Sangat disayangkan, di Indonesia para Dive Guide belum dipercayakan atau mendapatkan kesempatan untuk ikut duduk makan malam bersama dan menemani tamu para penyelam. Banayak Dive Guides yang cukup mampu menguasai bahasa asing dan saya kira kesempatan duduk bersama dan ikut berdiskusi dengan tamu manca negara dapat menambah wawasan dan pengetahuan umum seorang Dive Guides.
Kita di Indonesia kadang lupa bahwa Value atau nilai seseorang tidak saja dari penampilan luar sehingga mereka yang tidak bule tidak mendapat kesempatan untuk menambah wawasan pengetahuan umum.
Silahkan anda koreksi bila pendapat saya salah..!

Image
Ruang Kemudi kapal Pinisi Seahorse yang setelah diinspeksi oleh saya, kapal tsb memiliki peralatan standard sebuah kapal, mulai dari Radio HF Single Side Band (SSB) berikut Antenna Tuner, VHF MArine Radio, Fish FInder, GPS dsb.

Image
Setiap kali saya liburan, inspeksi lingkungan dan keselamatan tempat saya berlibur selalu menjadi perhatian saya.
Sudah 3 kapal Pinisi yang saya periksa perihal pengolahan limbah sampah, limbah kamar kecil dan bagaimana pengolahannya. Saya memang bukan tamu yang umum, di gambar ini saya masuk kebawah dek yang sangat sempit dan harus merayap untuk maju atau mundur, ruangan dibawah dek ini relativ tidak bau dimana limbah dari kamar kecil di tampung di septik tank, pompa pembuangan tinja di hidupkan subuh subah atau tengah malam untuk membuang tinja ketengah laut.

Di kapal Pinisi Seahorse saya minta untuk melihat dan diajarkan perihal penggantian filter compressor Bauer.
Salah satu kenyamanan Diving adalah udara bersih yang di hirup dari tabung.

Image
Tanki penampungan air limbah bekas mandi juga berada dibawah dek.

Image
Kapal Pinisi yang beroperasi sebagai LoB (LiveaBoard) di Indonesia terus bertambah, sainganpun terus bermunculan.
Disebelah kanan foto ini terlihat sebauah Pinisi lain yang beroperasi sebagai LoB dan pada hari itu masih ada 3 kapal Pinisi dengan kapasitas lebih besar dan lebih mewah yang parkir cukup dekat dari kapal kami.

Tinggal selama seminggu atau 12 hari di atas sebuah kapal Pinisi khas Indonesia akan menjadi sebuah pengalaman yang unik. Untuk dapat menikmati wisata Raja Ampat selama 1 minggu dengan menggunakan kapal pinisi standard bintang 4, biaya yang harus anda bayar lebih dari USD $ 420 per hari per orang (Standard twin Cabin $420-500 per person per night) dan harga ini tergantung dari kelas luxury kapal yang akan di tumpangi.
Ukuran harga USD $ 500-600 per orang per hari adalah harga rata ratanya dan kapal kapal tersebut biasanya dapat menampung 12-14 orang. Beberapa kapal Pinisi yang lebih besar lagi dapat menampung sampai 25 penyelam untuk sekali perjalanan.

Selain biaya seperti ditulis diatas, masih ada biaya lainnya yang anda harus bayar (berlaku juga untuk yang memilih tinggal di resort):
-biaya Pin konservasi Taman Laut Raja Ampat,
-biaya tambahan untuk menyelam dengan Nitrox,
-biaya tambahan untuk minuman berkadar alkohol seperti Bir, Wine dan Softdrink.
-biaya tips untuk semua ABK (tentunya tergantung dari kepuasan anda, sekitar USD $ 200-400 per trip)

Tulisan mengenai perjalanan dengan kapal Pinisi akan di sambung di bagian lain tulisan ini.

Tinggal di resort biayanya sedikit lebih murah, kami membayar 2495 Euro per orang per bungalow dengan double bed berdua bersama isteri saya.

Perbedaannya bermalam di Resort dengan tinggal di kapal Pinisi adalah :
-di Resort tidak terdengar suara mesin kapal, suara Diesel generator dan suara Kompresor
-di Resort anda dapat berjalan jalan di area Resort yang jauh lebih luas dari dek kapal Pinisi.
-menikmati suara burung berkicau subuh subuh seperti kicauan burung Cendrawasih, burung Kakak Tua hitam/putih dsb.

Kesamaan antara tinggal di Resort dan ikut LoB
Tergantung dari stamina kesehatan anda dan kemampuan menyelam anda, baik di Resort maupun dari kapal Pinisi :
-anda setiap hari dapat diving gratis sampai 4 kali perharinya,
-transportasi dari Resort dan kapal Pinisi ke lokasi penyelaman akan selalu menggunakan Speedboat untuk ukuran 6-8 orang,
-lama perjalanan ke lokasi penyelaman dari kapal Pinisi biasanya lebih singkat, sekitar 10-20 menit, sedangkan dari Resort ke lokasi penyelaman sekitar 10 menit - 1,5 jam tergantung dari jarak Resort ke lokasi penyelaman.
-antar jemput dari & ke Airport untuk ke pelabuhan tempat penjemputan speed boat milik Resort maupun untuk ke pelabuhan tempat kapal Pinisi berlabuh
-Makanan 3 kali sehari yang disajikan baik di Resort maupun di kapal Pinisi Seahorse berkualitas seperti di hotel bintang 4 di Eropa.

Untuk kualitas makanan yang disajikan saya betul betul sangat puas, karena rasa dan penyajiannya betul betul authentis seperti di hotel hotel berbintang 4 di Eropa, padahal saya sedang berada di Raja Ampat yang jauh dari mana mana.
Kebetulan sejak 2 tahun terakhir saya lebih banyak bekerja & tinggal diluar Austria, setiap bulan 1-3 minggu saya bekerja di Eropa dan standard hotel bagi kantor saya bekerja adalah hotel bintang 4.

Sekedar informasi dari apa saja yang included di LoB Seahorse :
-Cruise price includes : Seahorse saloon
-Accommodation in twin or double bed shared cabin.
-Single cabin, non sharing cabin +50%
-Meals: snacks, breakfast, lunch, and dinner (while on board)
-Drinks: coffee, tea, mineral water (while on board)
-Compressed air, Air Tanks, weight belt and weights
-4 guided dives per day
-Transfer from hotel to harbour on departure and return dates ; (in Bali only in the Nusa Dua, Kuta, and Sanur areas.)
-Dive guide
-Government taxes
-Land tours included in the itinerary

-What is not Included :
-Nitrox - $180 for 10 nights and $125 for 7 nights
-Raja Ampat National park fee, Fuel surcharge and port clearance $350
-Travel insurance - HIGHLY RECOMMENDED!
-Dive insurance – HIGHLY RECOMMENDED we recommend Divers Alert Network (DAN)
-Dive Equipment rental, and any dive courses taken on board
-Onboard telecommunication
-Alcoholic beverages
-Laundry on board
-Crew gratuities
-International and domestic air, land, sea transportation, tax and excess baggage charges
-Visa, hotels and food ashore before and after the cruise.

Tips:
Code of conduct for diving with & photographing Pygmy Seahorse
http://www.oceanrealmimages.com/blog/04/07/11/code-conduct-diving-photographing-pygmy-seahorses

Peralatan Underwater Photography
Setelah 15 tahun lebih saya tidak membeli peralatan diving dan Housing untuk underwater photography dan setahun yang lalu BCD kesayangan saya bocor, saya memutuskan untuk liburan diving kali ini membeli semua peralatan baru termasuk Housing down grade dari Roll Roycenya Underwater Housing yang saya pakai selama ini dari Seacam Housing (made in Austria) untuk kamera Nikon ke Nauticam Housing untuk kamera Panasonic Lumix GX7.

Kamera yang saya bawa ke Indonesia adalah :
-Panasonic Lumix GX7 dengan Nauticam Housing
-Nikon 1 versi 3 lengkap dengan Grip & Eye View Finder untuk foto diatas air atau didaratan.
-GoPro Hero 3+ Black edition

Kamera Housing :
-Nauticam Housing untuk Lumix GX7
-Original GoPro Housing

Lensa dan Dome/Port yang digunakan :
-Lensa Panasonic Lumix 7-14 mm / F4,0
-Lensa Olympus 45mm / F1,8
-Lensa Panasonic Lumix 14-42mm F3.5-5.6

Lensa untuk kamera Nikon 1 versi 3
-Native lens Nikon 1 VR 10-30mm / F3.5-5.6 (= setara dengan lensa 27-81mm)
-Native lens Nikon 1 VR 6,7-13mm / F3.5-5.6 (= setara dengan lensa 18-35mm)

-Adapter FT1 untuk kamera Nikon 1 versi 3
-Lensa AF-S Nikkor 70-200mm f/2.8 VR
-Lensa AF-S Micro Nikkor 60mm F/2.8

Strobe
-4 buah Strobe Sea & Sea YS-D1

Lain lain
-2 Axis Handheld Gimbal untuk GoPro Hero 3+ yang digunakan diatas permukaan laut & dikapal.
-Carbon Pole Mast sepanjang 6 meter yang collapsible untuk Pole Photography.
-Boombandit Camera Cran untuk GoPro Hero 3+ dan camera Nikon 1
-Masker dengan GoPro adapter
-Backscatter Flip Macromate combo dengan 2 Red Filter

Birding
Kamera Nikon 1 versi 3 saya gunakan untuk Birding, karena Kamera Nikon 1 menggunakan CX Format dengan Crop faktor 2.7 yang berarti lensa zoom Nikon 70-200mm setara dengan lensa zoom 189-540mm pada kamera Nikon 1.

Macro Photography
Lensa AF-S Micro Nikkor 60mm digunakan untuk macro Photography dengan Adapater FT1 untuk kamera Nikon 1

Perlengkapan Diving

Image
Terdiri antara lain dari :

Image
Saya tidak menyarankan anda menggunakan masker dengan dudukan kamera GoPro, karena gelembung pernafasan anda akan selalu terlihat di lensa.

Image
Red Filter adalah "must have" untuk kamera yang tidak menggunakan strobe.

Image
BCD Wing yang saya gunakan.

-Air Travel Cressi BCD Wings Buoyancy
-5mm Wet Suite
-Apnoe fin

Untuk pertama kali saya menggunakan BCD Wing yang sebetulnya untuk saya dalam melakukan Underwater Photography sangat cocok dan membuat badan saya selalu dalam keadaan horizontal. Salah satu yang kurang menyenangkan dalam menggunakan Cressi BCD Wing adalah kantung pemberat yang hampir dalam setiap penyelaman lepas dan jatuh, bisa dibayangkan bagaimana kagetnya saya, karena saya langsung naik ke permukaan dan sangat sulit untuk mengontrol badan saya supaya tetap berada di dasar laut. Akhirnya ujung belakang kantung pemberat timah terpkasa saya ikat.
Idealnya untuk saya adalah semacam Halcyon Traveler BCD, dimana timah pemberat dipasang di kiri & kanan backplate BCD.

Selama ini saya selalu menyelam di Indonesia dengan Trilaminat Half Dry Dive Suite (silahkan baca disini untuk keterangannya scroll kebawah).
3 kali sehari menyelam dengan Trilaminat Half Dry Suite, saya tidak pernah kedinginan, kali ini saya membeli 5mm Wet Dive Suite, ternyata cukup tebal dan saya memerlukan cukup banyak timah.

_________________
Subagio Rasidi Kusrini (etoy)


Last edited by etoy on Mon Apr 13, 2015 8:21 am, edited 2 times in total.

Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Mon Apr 13, 2015 6:31 am 
Offline

Joined: Wed Oct 15, 2014 12:15 am
Posts: 9
Location: Vienna, Austria
Tulisan kunjungan saya ke Raja Ampat tidak saja akan membatasi tentang keindahan bawah laut Raja Ampat, tetapi saya juga ingin membagi dan menulis secara objektif tentang keadaan sehari hari yang saya lihat dan saya alami selama saya berada 22 hari di Raja Ampat.

Kontribusi pariwisata bahari kepada masyarakat Raja Ampat.
Dalam waktu yang relatif singkat 1 dekade, pertumbuhan pariwisata Raja Ampat bagaikan meroket, salah satu pionir yang dengan gigih memperkenalkan Raja Ampat adalah
-Max Ammer, pionir yang memperkenalkan Raja Ampat, resort pertamanya sempat dibakar oleh orang yang tidak senang terhadap Max Ammer, kini resort yang ketiga berada di cape Cri.
-Kapal Pinisi Pindito, kapal ini adalah kapal pertama yang beroperasi sebagai LoB di Raja Ampat, kapal ini dimiliki oleh seseorang yang berasall dari swiss, sampai saat ini kapalnya selalu overbooked, musti tunggu paling sedikit 2 tahun untuk dapat ikut LoB (Liveabroad) dengan kapal Pinisi Pindito.

Inilah salah satu pionir pionir yang memperkenalkan keindahan Raja Ampat kedunia luar sehingga akhirnya banyak turis domestik dan turis asing yang berdatangan ke Raja Ampat, harga hargapun meroket, destinasi Raja Ampat hanya untuk orang orang yang berduit. Benarkah demikian dan kenapa harus begitu mahal ?

Jujur saja, selama 22 hari di Raja Ampat, saya melihat kontribusi pariwisata bahari baru sedikit yang dirasakan secara lansung oleh masyarakat Raja Ampat, baik mereka sebagai penjedia jasa Pariwisata Bahari maupun sebagai pekerja di resort resort dan di kapal kapal Pinisi yang beroperasi sebagai LoB (Liveaboard), kesan saya karena :
-masyarakat Papua yang bekerja di sektor pariwisata di Raja Ampat cukup malas,
Alam Papua di Raja Ampat telah menyiapkan segala galanya untuk kebutuhan kehidupan sehari hari mereka, buat apa capai capai kerja ?
-Disiplin kerja dan etos kerja sangat rendah.
Sulit untuk mengulangi tugas kerja yang sebetulnya setiap hari itu itu saja, semua harus "di tongkrongin" langsung, apalagi kalau mereka mendapat tugas baru yang betul betul baru pertama kali mereka lakukan.
-Keinginan dan kemampuan untuk dapat menguasai bahasa asing yang paling minimpun sangat rendah.
Informasi ini saya dapatkan dari beberapa staf native speaker dan orang orang yang lama berkecimpung di dunia bahari di Raja Ampat, mereka berusaha mengajar bahasa Inggris untuk staf mereka.
-Pariwisata Bahari masih dilihat sebagai sumber uang "sapi perahan".
-System Adat dengan ketua adat yang di anut di Raja Ampat yang sebetulnya dapat mempermudah jalannya Business, tetapi malah dapat menambah kerumitan bila seorang calon pengelola Pariwisata Bahari yang berasal dari pihak orang asing tidak mengikut sertakan seorang ketua adat dalam perencanaan businessnya.

"Tidak ada gading yang tidak retak" kata pepatah, seorang kepala adat juga manusia yang dapat khilaf membuat kesalahan, apa jadinya kalau seorang ketua adat memerintahkan orang orang didesanya yang bekerja membawa speedboat resort untuk mengambil 1 liter bensin perharinya, ini hanya sebuah contoh kecil tentang khilafan yang terjadi disebuah resort.

Harga pangan mahal.
Kebutuhan pangan untuk industri pariwisata bahari bagi para Wisman di Raja Ampat masih banyak yang harus di import dari Bali atau Surabaya dan supaya semua kebutuhan bahan pangan tiba dalam keadaan segar, berarti bahan bahan pokok ini harus di datangan dengan pesawat dari Bali atau Surabaya, misalnya Steak, kiju, Cream dsb.
Saya tiba di Sorong sebelum BBM dinaikan, harga 1 liter bensin yang dijual dipinggir jalan pada saat itu Rp 13.000,-, jadi jangan heran kalau kebutuhan pangan untuk memenuhi kebutuhan industri bahari di Resort resort masih harus dibawa ke Raja Ampat dengan speedboat 2x200 PK yang banyak "minum" BBM.

Image
Penjualan bensin tradisional di Papua.

Tenaga kerja lokal Papua
Di kapal kapal Pinisi yang beroperasi sebagai LoB (Liveaboard) di Raja Ampat, sangat sedikit sekali tenaga kerja asli Papua yang diperkerjakan, mayoritas pekerja di kapal Pinisi milik orang asing adalah dari orang orang yang berasal dari Sulawesi (Makassar, Bugis, Manado), orang NTB & NTT (Sumbawa, Sumba, Flores dan sekitarnya).

Di resort resort mayoritas Dive Master dan Dive Guide kira kira adalah 1:1 antara orang orang asli lokal Papua dari Raja Ampat dan Sulawesi Utara. Para Dive Master dan Dive Guide yang berasal dari Sulawesi Utara biasanya lebih cepat untuk beradaptasi dengan tamu tamu resort yang dapat berhasa Inggris.

Beruntung resort resort di Raja Ampat masih berusaha untuk menggunakan tenaga kerja lokal Papua yang berdiam disekitar resort untuk cleaning service, gardening, pekerjaan dapur, anak kapal speedboat, dive Master, dive guide dll, bila perbandingan antara jumlah pekerja pendatang dan pekerja lokal Papua seperti yang terjadi di kapal kapal Pinisi juga terjadi, bisa dibayangkan dampak kecemburuan sosial yang akan terjadi akan makin besar.

Sewa pulau dan mabok
Kepemilikan resort resort dan kapal Pinisi mayoritasnya adalah milik orang asing yang bermitra Business atau beristerikan dengan orang lokal Indonesia dari luar Papua.

Tanah di pulau pulau di Raja Ampat disewakan untuk 10 sampai 20 tahun kepada calon pengelola orang asing yang bermitra Business dengan orang Indonesia. Pemdapun melarang untuk membayar sewa pulau secara sekaligus, untuk itu dibuatkan peraturan supaya sewa pulau dibayar sekali setahun dibagi dengan jangka waktu lamanya sewa pulau tsb.

Peraturan ini beralasan, karena orang Papua senang pesta pesta dan kuat minum.
Awalnya agak aneh sebelum saya ke Raja Ampat, saya mendengar cerita cerita diskriminatif, bahwa orang Papua yang memiliki uang tidurnya di selokan sedangkan orang papua yang melarat mampu untuk tidur ditempat tidur berkasur.

Ternyata cerita cerita burung tsb ada benarnya, saya jumpai cukup banyak pemabok di kota Sorong dan juga satu kapal sampan bermotor yang berisi 5 pemabuk di tengah laut di Misol Selatan yang berkeliling dari satu kapal Pinisi ke kapal Pinis berikutnya untuk meminta uang dan alkohol secara paksa.

Pemabok mudah ditemui di Sorong, cukup ke Mall Ramayana sekitar jam 10-an pagi di kota Sorong, pemabok pertama sudah bermunculan di kedai Es Teller 77 atau rumah makan Solaria Resto.
Sayangnya baik petugas Security Mall maupun pegawai kedaipun takut menghadapi mereka, karena bila para pemabok dilarang apalagi ditangkap, mereka akan datang sekampung untuk membuat onar, miris sekali melihat pemandangan para pemabok hilir mudik kesana kemari yang dibiarkan berkeliaran di Mall Ramayana atau di pasar pasar.

Saya kira konsumsi alkohol yang berlebihan berasal dari kesenjangan sosial antara orang orang lokal Papua dan pendatang dari luar papua yang mayoritasnya sangat rajin, selain itu orang papua yang berada di papua sangat sulit berbaur dan berintegrasi dengan pendatang.

Kapal Pinisi rawan pemerasan
Ide untuk membayar Pin Konservasi Taman Laut Raja Ampat adalah ide yang bagus untuk ikut membiayai Konservasi Taman Laut Raja Ampat, apalagi kalau uangnya betul betul digunakan untuk Konservasi Taman Laut atau untuk kesejahteraan orang lokal Papua Raja Ampat atau untuk pembuatan/renovasi yang dapat menunjang infrastruktur Industri Pariwisata Bahari seperti renovasi Jetty, pembuatan tangga ke puncak bukit di Waigeo seperti ke puncak bukit di Penemu. Apakah pembuatan infrastruktur penunjang Pariwisata Bahari harus menunggu Sail Raja Ampat berikutnya atau menunggu kedatangan Presiden Joko Widodo ?

Sayangnya banyak alasan alasan janggal yang digunakan baik oleh oknum polisi maupun tetua adat yang menjadi "polisi" untuk memeriksa Pin Konservasi Taman Laut Raja Ampat para penyelam yang berada di atas kapal Pinisi.

Mereka biasanya datang menggunakan sampan bermotor 20 atau 40 PK, mereka datang dari pulau terdekat begitu mereka melihat ada kapal Pinisi buang jangkar.
Tanpa legitimasi yang jelas, apalagi tanpa tanda pengenal atau seragam kepolisian atau seragam Instansi pemerintahan, mereka datang ke kapal meminta daftar penumpang dan tanda bukti pembayaran Pin Konservasi Taman laut. Kalau tidak mendapat apa yang diminta, mereka akan meminta foto copy passpor tamu tamu kapal Pinisi.

Cruise Director yang berpengalaman pertama tama akan menyodori bir kalengan kepada para pemeras terselubung sebagai pembuka pembicaraan. Dengan bir atau alkohol orang Papua mudah diajak bergaul dan pembicaraan menjadi easy going dan penuh basa basi yang biasanya di akhiri dengan kepergian mereka ke kapal berikutnya dengan dibekali beberapa kaleng bir lagi dan inilah yang dapat menjadi malapetaka untuk kapal berikutnya.

Saya mengalami sendiri bagaimana para penumpang sebuah kapal sampan berisi 5 orang pemabok dimalam hari datang ke kapal Pinisi yang saya tumpangi dan berkeinginan untuk memeriksa Pin Konservasi Taman Laut para penumpang kapal Pinisi.
Pertama mereka datang berteriak teriak di ruangan kapten kapal meminta daftar penumpang, meminta foto copy passport dan bukti pembayaran Pin dari setiap tamu kapal Pinisi.

Sebetulnya sangat memalukan bagi saya sebagai orang yang berasal dari Indonesia melihat kelakuaan demikian di depan belasan orang asing. Penampilan para pemeras terselubung yang datang pada siang hari, biasanya lebih menjengkelkan lagi, mereka selain memakai celana loreng juga memakai tutup kepala bagaikan Ninja, dimata orang asing tidak banyak bedanya seperti bajak laut yang beroperasi di laut sekitar Somalia.

Pemerasan terselubung sangat membahayakan industri pariwisata bahari di Papua, penuturan ABK yang saya tumpangi lebih gawat lagi di Monokwari dan Nabire, banyak instansi resmipun yang harus di beri upeti untuk keamanan, tanpa upeti dijamin kapal tidak bisa buang jangkar atau tidak bisa angkat jangkar.

Di Teluk Cendrawasih yang terkenal sebagai tempat untuk melihat ikan Hiu Paus, sebuah kapal Pinisi yang akan buang jangkar di Teluk Cendrawasih harus :
-membayar 500 ribu sampai 2 juta Rupiah untuk dapat lego & angkat jangkar,
-sewa tempat di Bagan bisa sampai 3 Juta Rupiah untuk sekali trip 2-3 hari,
-para tamu yang naik ke Baganpun masih dibebani antara 250-500 Ribu Rupiah per tamu per trip dan
-masih ditambah pembelian ikan teri untuk memberi makan ikan Paus sekitar 700 Ribu Rp-1 Juta Rupiah.

Harga harga ini sangat tergantung dari kepandaian negosiasi dari Cruise Director kapal Pinisi atau kapten kapal dan harga dapat berubah rubah dan naik setiap saat.
Saya khawatirkan suatu saat nanti, setiap kamera yang digunakan oleh para penyelam untuk membuat foto foto dibawah laut di Raja Ampat akan dihitung dan harus membayar extra per kamera pula.
Bukankah pemalakan in telah terjadi di loket masuk ke danau Kelimutu, Flores dan pada waktu waktu tertentu di Bromo ?

Homestay untuk industri pariwisata Bahari
Pemda di Raja Ampat sangat berhati hati dalam memberi perijinan untuk pembukaan usaha baru di bidang Resort, karena tujuan mulia Pemda di Raja Ampat salah satunya adalah untuk memajukan Industri Pariwisata Bahari bagi orang lokal Papua sendiri misalnya memberi kredit untuk membuka Homestay, untuk itu Pemdapun dengan instansi terkait memberikan Kredit kepada orang orang lokal Papua Raja Ampat.

Di banyak tempat di pulau pulau kecil, Homestay bantuan Pemda bermunculan dan setelah Homestay tsb. selesai dibangun, mayoritas tingkat pengisiannyapun Nol besar karena :
-pemilik homestay tidak pernah membuat promosi dari Homestay yang dimiliki atau
-signal Handphone jarang yang tembus atau nomer Handphone telah berganti nomer & tidak sesuai dengan yang ada di Website sehingga calon tamu tidak bisa memesan Homestay atau
-pemilik Homestay tidak mengerti bahasa Inggris, calon tamu tidak bisa berkomunikasi dengan pemilik Homestay.

Hari pertama saya bermalam di hotel di Sorong, saya berkenalan dengan sepasang suami istri usia lanjut dari negeri Belanda yang rencananya ingin menggunakan Homestay yang sudah dipesan terlebih dahulu dan akhirnya terdampar di Airport & merasa jengekel karena sesuai janji akan di jemput di Airport di Sorong oleh pemilik Homestay, ternyata mereka berdua sama sekali tidak dijemput dan merekapun tidak tahu bagaimana caranya untuk kepulau yang ada Homestay tsb.

Makanan di homestay
Kata pepatah "lain padang lain belangnya" untuk kita orang Indonesia disuguhkan gulai kepala ikan adalah suatu makanan lezat, jangan sekali sekali menyuguhkan gulai kepala ikan kepada orang asing, kucing mereka di eropa saja tidak memakan kepala ikan, apalagi untuk laut disekitar Raja Ampat yang kaya akan ikan, adalah suatu penghinaan apabila tamu orang asing hanya disuguhi gulai kepala ikan atau makanan yang hanya berputar putar ke nasi goreng dan mie instant lagi.

Promosi
Banyak pemilik Resort dan pemilik kapal Pinisi yang mengeluarkan biaya promosi sampai ratusan juta untuk dapat mengikuti promosi produk produk yang mereka miliki di jual di Pameran Industri Pariwisata Bahari bergensi seperti di :
-Das Boot di Düsseldorf, Jerman,
-Asia Dive Expo (ADEX) di Singapore
-DEMA Show di Las Vegas, USA

Dan masih ada ajang Promosi Pariwisata Bahari lainnya di manca negara yang wajib diikuti termasuk juga di Indonesia di Deep Indonesia di Jakarta.

Liburan diving saya tidak saja diisi sepanjang hari dengan Diving melulu, diwaktu luang antara 2 penyelaman saya selalu mencoba berdialog dengan orang orang yang baru saya kenal seperti apa yang saya tulis disini.

Mayoritas Pariwisata Bahari yang dilakukan di Raja Ampat masih terfokus pada wisata Diving, objek wisata lainnya yang berada di Raja Ampat masih sebatas sebagai produk sampingan kalau kebetulan ada kebutuhan dari pihak tamu seperti untuk:
-Wisata Advanture dengan Sea Kayak,
-Birding
-Pengenalan kebudayaan Papua, seperti :
melihat kehidupan sehari penduduk di pulau pulau
memperkenalkan batik Papua,
lukisan kulit kayu

Pemandu wisata untuk Birding baru sebatas mengantarkan turis ke tempat yang biasanya ada burung Cendrawasih, nilai informasi mengenai burung Cendrawasih yang di berikan kepada tamunya Nol besar, jadi para wisman jangan terlalu mengharapkan untuk mendapatkan informasi mengenai burung Cendrawasih apalagi informasi panjang lebar dalam bahasa Inggris.
Banyak nilai nilai jual suatu produk wisata yang ada didepan mata di Raja Ampat yang mungkin dilihat setiap hari didepan atau disamping rumah belum mampu dimanfaatkan dan dikemas sebagai suatu paket produkt wisata yang bisa di jual sebagai nilai tambah suatu industri.

Oleh oleh khas Irian di Sorong
Batik
Saya berdua dengan isteri saya juga mempunyai hobby berat mengumpulkan kain kain tenun dan Batik Indonesia, batik Papua memiliki corak khas Papua dan warna yang berani, kalau soal warna bisa saya samakan dengan batik Madura karena keberanian penggunaan warna berbeda dari batik Solo atau batik Jogya.
Kebetulan ketika saya ke pasar di Sorong, saya menjumpai sebuah toko Cindramata yang khusus menjual batik batik Papua sebagai batik cap dan batik tulis, harganya dalam Rupiah juga murah, syukur Alhamdulilah barang barang bawaan saya sudah terlalu banyak overweight, sehingga isteri saya bisa diingatkan untuk tidak membeli lebih dari 6 potong batik Papua dan biasanya dirumah langsung masuk peti dikolong tempat tidur, karena apartement kami sudah penuh seperti museum, tidak ada sejengkalpun tempat yang tersisa untuk memajangkan oleh oleh dari setiap perjalanan kami.

Koteka & tas Noken
Koteka ukuran besar seperti yang saya bawa ke Austria 30 tahun yang lalu sulit dicari di kota Sorong, mungkin harus dicari di Wamena atau mungkin orang kota seperti di kota Sorong sudah kena evolusi perkotaan sehingga kotekanya tinggal yang berukuran kecil untuk "barang" yang juga kecil.
Tas Noken yang biasanya dipakai oleh para ibu ibu dan digantungan di kepala, selain ukurannya kecil juga anyamannya tidak seperti yang saya miliki 30 tahun yang lalu. Buat saya yang menarik adalah kenapa ukurannya jadi kecil, apakah karena kaum ibu ibu di Sorong lebih banyak menggunakan tas Plastik dibandingkan kaum ibu ibu yang tinggal di pedalaman Papua ?

Para Wisman yang diving di Raja Amapat baik yang bermalam di Resort maupun yang bermalam di kapal Pinisi menghabiskan hari terakhir liburan mereka biasaya di Resort atau kapal Pinisi dimana mereka begitu tiba di kota Sorong, mereka langsung di antar ke Airport kota Sorong.
Memang kota Sorong belum menyediakan tempat yang nyaman untuk di kunjungi, ajang promosi pariwisata lainnya seperti tempat kuliner khas Papua atau kerajinan tangan Papua tidak jelas lokasinya, padahal setiap wisman yang berkesempatan bermalam di kota Sorong pasti akan merogoh kocek yang jatuh ke orang orang lokal Papua dibandingankan jatuh ketangan bule bule pemilik resort dan kapal Pinisi.
Kota Sorong memiliki banyak discothek yang saya kira lebih diperuntukan untuk kebutuhan orang orang lokal papua daripada Wisman dan patut dicatat, Papua memiliki banyak pengidap penyakit HIV dibandingan dari pulau pulau lainnya di Indonesia.

Obat obatan tradisional Irian
Waktu di kota Sorong saya habiskan seharian penuh di pasar untuk ngobrol dengan ibu ibu di pasar tradisional yang sayang saya lupa nama pasarnya, tetapi letaknya tidak jauh dari ujung "Tembok Berlin" kota Sorong.

Pasar tradisional ini memiliki tempat pelelangan ikan, tempat pendaratan kapal kapal kecil nelayan, tempat parkir dan pasar tradisional.
Tempat parkir yang berbatasan dengan pinggiran laut dan sekalian berfungsi sebagai tempal kapal nelayan mendarat, pinggiran pantai digunakan juga merangkap sebagai pembuangan sampah, ya semua kotoran dari pasar langsung di tampung dan di dibuang di pinggir pantai ini.

Raja Ampat letaknya cukup jauh dari Sorong, tetapi dengan makin berkembangnya industri pariwisata dan makin bertambahnya penduduk kota Sorong, tumpukan sampah akan terus bertambah yang suatu hari sampah sampah ini akan menggantikan Terumbu karang, Gorgonian dan ikan ikan di gugusan Raja Ampat.
Di pasar tradisional mayoritas penjualnya adalah Mama Mama orang Papua yang menjual mulai dari buah buahan seperti pisang, sirih pinang sampai kebutuhan sehari hari seperti sagu ambon, beras, umbi umbian makanan orang Papua sampai ke panci gorengan dan masih banyak lagi.

Selama ngobrol di pasar yang becek, kami duduk seperti Mama Mama Papua yang berjualan di pinggir jalan, posisi duduk kami sama rendahnya seperti para Mama Mama yang duduk bersila atau jongkok berlama lama, sehingga kami mudah untuk diterima, apalagi saya selalu menawarkan sirih pinang dan kebetulan isteri saya mau ikutan ngunyah sirih pinang bersama Mama Mama Papua.

Dalam kesempatan ngobrol ngobrol yang selalu saya tanyakan adalah :
-bahan untuk obat obatan tradisional Papua dan
-cara pengobatan tradisional,
-jumlah anak anak dan KB,
-penghasilan dan pekerjaan suami suami mereka
-dll.

Sayang hanya Mama Mama Papua yang sudah berumur yang masih memiliki pengetahuan tentang bahan obat obatan dan mengetahu cara pengobatan tradisional.
Menurut Mama Mama yang lama ngobrol dengan kami para generasi muda lebih mengetahui cara menggunakan Smartphone atau Internet dari pada menggunakan daun gatal atau mengetahui khasiat sarang semut Papua atau pembuatan dan khasiat minyak merah yang diproduksi dari buah merah.

Kami berjanji dengan 2 Mama Mama Papua untuk menyaksikan pembuatan minyak buah merah yang prosesnya cukup rumit harus dimasak 24 jam dan diaduk aduk selama dimasak yang menggunakan kaju api dari pohon tertentu.
Dari banyak informasi yang saya dapatkan dari mulut ke mulut dan juga dari Internet minyak buah merah banyak sekali khasiatnya, antara lain untuk menyembuhkan Kanker, sakit gula dan juga untuk menaikan gairah sex (libido).
Isteri saya curiga kenapa saya ingin mencoba buah merah. Setalah 22 hari dari Raja Ampat, hari terakhir saya mampir kembali kepasar di Sorong lagi, sayang kedua Mama Mama Papua yang kami kenal sebelumnya tidak ada dipasar lagi, sehingga kesempatan menyaksikan pembuatan minyak buah merah gagal, sebagai gantinya saya mencari cari minyak buah merah di pasar pasar yang ternyata tidak mudah juga ditemukan.
Akhirnya saya ketemu juga minyak merah di Apotik dan sempat membeli sebotol ukuran 250ml seharga 250 ribu Rupiah, walaupun sampai saat ini masih saya minum 1 sendok makan per harinya, tetapi komentar isteri saya, libido saya tetap tidak ada perubahan sama sekali.

Inilah kehebatan obat obat tradisional yang tidak ada penelitian ilmiahnya tetapi (katanya) khasiatnya dianggap mampu menyembuhkan beragam penyakit penyakit yang membutuhkan pengobatan intensive seperti kanker, penyakit gula dsb.
Sayang dengan kemajuan jaman dan ketidak tertarikan generasi penerus, obat obatan tradisional akan hilang dari bumi Papua.

Tips:
-Minyak buah merah yang asli dan tidak dicampur dengan minyak nabati lainnya tidak akan membeku bila dimasukan ke lemari pendingin.
-Cairan minyak buah merah sangat kental dan memiliki rasa asap dari kayu bakar.

_________________
Subagio Rasidi Kusrini (etoy)


Last edited by etoy on Mon Apr 13, 2015 7:13 am, edited 1 time in total.

Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Mon Apr 13, 2015 6:32 am 
Offline

Joined: Wed Oct 15, 2014 12:15 am
Posts: 9
Location: Vienna, Austria
Tradisi Sasi

Bukan suatu keberuntungan bila anda dapat menjumpai banyak terumbu karang yang masih utuh dan anda dapat menjumpai gerombolan ikan ikan mulai dari ukuran ikan teri sampai ukuran ikan ikan besar yang dapat ditemui selama penyelaman di Raja Ampat.

Keberuntungan ini adalah berkat kesadaran masyarakat nelayan di kepulauan Raja Ampat dalam menangkap ikan dan biota laut yang tidak mengeksploitasi penagkapan ikan secara berlebihan.

Masyarakat nelayan di kepulauan Raja Ampat menerapkan tradisi Sasi, dimana laut maupun darat untuk sementara waktu di tutup untuk penangkapan ikan & biota laut sehingga alam dapat memberikan kesempatan kepada ikan dan biota laut untuk berkembang biak sebelum ditangkap dan kelestarian alam akan tetap terjaga.

Tradisi Sasi dimulai dengan rapat adat di tempat ibadat, seperti di Mesjid ataupun di Gereja. Tokoh adat, kepala desa dan warga menyiapkan sejumlah sesaji untuk menandai tradisi Sasi akan dilangsungkan.
Karena tradisi Sasi ditetapkan secara adat, masyarakat di kepulauan Raja Ampat tidak ada yang berani melanggar tradisi ini, kecuali orang orang pendatang dari Sulawesi atau Maluku.

Pelanggaran tradisi Sasi akan dikenai denda adat dengan memperhitungkan biota yang telah diangkat dari permukaan air, penduduk malah percaya pelanggaran tradisi Sasi dapat menyebabkan sakit yang dipercayai sebagai kekuatan para normal.

Patroli
Di areal Misool Timur-Selatan masyarakat diberi hak untuk melakukan patroli pengawasan dengan dibangunnya pos patroli di Pulau Gamfi, Pulau Waaf, dan Pulau Jaam.
Pos pengawasan di Pulau Waaf dibangun dari bantuan dana tarif masuk pariwisata Raja Ampat. Memasuki Raja Ampat, wisatawan wajib membeli pin seharga Rp 500.000 untuk orang asing dan Rp 250.000 untuk orang Indonesia yang berlaku pada tahun kita memasuki kawasan Raja Ampat.

Sayangnya patroli yang dilakukan oleh masyaarakat setempat tidak selalu berjalan seperti tujuan awal untuk mencari pelanggaran penangkapan ikan dan biota laut.

Selama saya menyelam di Misool Timur-Selatan, kapal Pinisi kami hampir setiap hari selalu didatangi team patroli yang minta :
-melihat Pin setiap tamu,
-meminta foto copy passport para tamu kapal
Yang sebetulnya diluar legitimasi mereka, karena mereka :
-bukan pejabat imigrasi yang sedang bertugas atau
-bukan anggauta polisi yang sedang bertugas.

Kedatangan mereka dengan sampan bermesin 20 PK dengan bercelana loreng dan bertutup kepala hitam bagaikan Ninja dari satu kapal Pinisi ke kapal Pinisi yang lainnya tidak memberi kesan yang baik kepada para tamu tamu asing.

Apalagi kalau team patroli ini sudah dalam keadaan setengah mabuk.

Image
System Patroli yang dilaakukan di Misool belum mampu mencegah Illegal Fishing seperti yang saya jumpai tidak lama setelah meninggal gugusan Misool

Tidak heran Raja Ampat harus di jaga dengan Patroli, pulau pulan yang berada di gugusan Raja Ampat memang sangat memukau untuk di rampok, ikannya sangat banyak, Flora & Fauna seperti pohon anggrek & burung burung khas Papua yang adapun cukup menarik untuk di rampok dan tanah Papua sangat kaya akan SDA dan pengawasan baru sebatas wacana, jadi tidak heran di Raja Ampat telah ada tradisi Sasi.

Image

Image

Image

Image

Image

Image
Lihatlah warna yang mengandung di tebing karang ini, Bauxit kah, besi atau emas kah ?

Image
Indahnya senja di Misool dengan pulau pulau kecil yang tersebar dimana mana.

Jangan heran bila anda sedang liburan di kapal Pinisi kemudian didatangi orang Papua yang bercerita bahwa laut di ujung pulau sana samapai laut di ujung pulau disana yang tidak kelihatan oleh mata adalah milik nenek kakek atau keluarga besarnya.

Kita orang Jakarta akan bilang, sejak kapan nenek moyong lo punya laut dan pulau pulau ?

_________________
Subagio Rasidi Kusrini (etoy)


Last edited by etoy on Mon Apr 13, 2015 7:20 am, edited 1 time in total.

Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Mon Apr 13, 2015 6:32 am 
Offline

Joined: Wed Oct 15, 2014 12:15 am
Posts: 9
Location: Vienna, Austria
Kapal Pinisi
Pinisi adalah kapal layar tradisional khas Indonesia yang dibangun dan digunakan oleh orang orang Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan sebagai alat transportasi pengangkutan barang antar pulau di Indonesia.

Salah satu tempat pembuatan kapal Pinisi yang terkenal terletak di Kelurahan Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan.

Kapal Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan jenis layar sekunar dan umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang yang mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengharungi tujuh samudera besar di dunia (diambil dari Wikipedia).

Image

Lamanya Pembuatan sebuah Kapal Pinisi yaitu sekitar 3 sampai dengan 6 bulan kadang-kadang lebih lama, tergantung dari kesiapan bahan seperti kayu untuk lunas kapal Pinisi, musim dan keuangan pemilik kapal.

Jenis kapal pinisi
Ada beberapa jenis kapal Pinisi, namun pada umumnya ada 2 jenis kapal Pinisi yang sampai saat ini masih dibuat:
-Lamba atau lambo.
Adalah kapal Pinisi modern yang sekarang dilengkapi dengan motor diesel .
-Kapal Pinisi jenis Palari
Adalah bentuk awal kapal Pinisi dengan lunas yang melengkung yang berukuran lebih kecil dari jenis Lamba.

Pinisi Schooner
Pinisi Schooner adalah kapal Pinisi yang dioperasikan untuk
LoB (Liveaboard) dari jenis kapal Pinisi Lamba.

Untuk memajukan industri pariwisata bahari di Indonesia para investor asing seperti pemilik kapal Pinisi Pindito yang berasal dari Swiss menggunakan bentuk klasik kapal Pinisi tradional yang kemudian dialihkan fungsi dari sekedar kapal transportasi antar pulau menjadi sebuah kapal Pinisi komersil Diving untuk LoB (Liveaboard) yang dilengkapi dengan :
-interior mewah,
-service/pelayanan kapal setara dengan standard hotel bintang 4 atau bintang 5,
-Food & Beverage dengan koki setara dengan standard hotel bintang 4 atau bintang 5,
-peralatan navigasi kapal modern seperti Radar, Chart Plotter, GPS, Marine Communication System,
-peralatan Rescue Raft dan peralatan Rescue untuk para penyelam,
-peralatan diving & infrastruktur diving untuk pembuatan Nitrox di kapal,
-peralatan desalinisasi air laut menjadi air tawar,
-ABK yang terlatih untuk pengoperasian kapal Pinisi untuk LoB (Liveaboard),

Kapal Pinisi Pindito adalah salah satu kapal pionir dan kapal pertama yang dioperasikan di Raja Ampat, NTB, NTT & Maluku Tenggara.
Ketika bulan Juli 2014 & November 2014 saya mengunjungi beberapa kapal Pinisi di pelabuhan di Bali dan di Raja Ampat, telah bermunculan kapal kapal Pinisi baru yang lebih modern dari kapal Pinisi Pindito dengan daya angkut penumpang sampai 2 kali lebih banyak (25-30 Divers) dibandingkan dengan kapal Pinisi Pindito yang daya angkutnya hanya separuhnya saja.

Kapal Pinisi modern yang jauh lebih modern dari kapal Pinisi pionir Pindito antra lain kapal Pinisi WAOW, Zen, Raja Laut, Dewi Nusantara, Mutiara Laut, Alila Purnama.

Tips:
Bila anda berkesempatan diving dengan LoB (Liveaboard) di kapal Pinisi milik orang asing, saya sarankan untuk mengambil kapal Pinisi dengan daya muat kapal yang tidak melebihi 12-14 Divers, karena makin banyak Divers di kapal Pinisi yang dapat dibawa apalagi kalau mayoritasnya adalah Underwater Photographers, anda sebagai penyelam serasa seperti dalam segelas "Cendol" dengan penyelam lainnya yang saling berebutan untuk mendapatkan objek dibawah air yang dapat di foto. Belum lagi kalau dalam lokasi penyelaman yang sama juga ada ada kapal Pinisi lain yang juga membawa Divers dan UW Photographers.

Redudancy
Semua peralatan yang berada dibawah dek kapal Pinisi biasanya tidak kelihatan oleh para tamu kapal Pinisi, bulan Juli 2014 & November 2014 yl ketika saya berada di Indonesia saya beruntung bisa melihat "isi perut" yang berada dibawah dek dari beberapa kapal Pinisi.

Raja Ampat jauh dari mana mana yang berarti hampir semua kapal Pinisi yang beroperasi di Raja Ampat harus membawa peralatan double untuk Redudancy bila ada kerusakan sehingga pengoperasian kapal dapat tetap berjalan sekalipun ada peralatan yang rusak.

Mesin Kapal
Redudancy mesin kapal adalah suatu keharusan, alam dilaut seperti badai, gelombang besar, angin, karang gosong tidak kenal ampun, bila mesin kapal tiba tiba mogok atau kekurangan tenaga pendorong saat badai terjadi, hanya soal waktu kapan sebuah kapal Pinisi akan karam.
Mesin yang digunakan di kapal Pinisi modern antara lain adalah mesin kapal yang dibuat khusus sebagai Marine Engine seperti mesin dari MAN buatan Jerman atau Caterpilar atau Yanmar Marine.
Kapal Pinisi Indonesia biasanya menggunakan Mesin truk Fuso, murah meriah, kalau mesin rusak kapal bisa "didorong".

Diesel Generator
Diesel Generator kapal hidup 24 jam secara bergantian (Redudancy) untuk segala kebutuhan yang memerlukan listrik seperti :
-AC,
-penerangan,
-Cool Storage di dapur,
-Dive Compressor untuk mengisi tabung dan membuat Nitrox dengan membran.
-Water Maker
-dsb

Harga BBM di Sorong yang minimal 2 kali lipat dari harga BBM di Jakarta membuat pengoperasian sebuah kapal Pinisi untuk LoB menjadi sangat mahal.

Setiap kapal Pinisi memiliki dek atas atau atap kapal yang cukup luas, biasanya digunakan untuk jemur baju, seprei kamar dan handuk handuk tamu, sayang tekhnologi Solar Panel belum dimanfaatkan diatas kapal Pinisi, dari pantauan saya ada beberapa atap kapal Pinisi yang cukup luas untuk menaruh Solar Panel dalam jumlah besar diatas atapnya dan dapat menghasilkan aliran listrik yang cukup besar untuk menutupi kebutuhan penerangan, Cool Storage dan Water Maker.

Tentunya aliran listrik dari solar panel yang disimpan di beberapa batteri kapasitas besar dapat di konvert ke 220 volt

Sejak lebih dari 10 tahun saya menggunakan Solar Panel di weekend house saya di pinggiran kota Vienna, Austria yang sampai saat ini "0" zero maintenance, hanya di musim dingin ketika langit lebih banyak berawan dan matahari jam 5 sore sudah menghilang, produksi listrik dari Solar Panel menurun.

Water Maker
Desalinisasi adalah proses pemisahan kandungan garam dari air laut dimana produk dari proses desalinasi adalah air tawar yang dapat dikonsumsi oleh manusia.
Ada banyak metode yang digunakan pada proses desalinasi, diantaranya :
-Destilasi dan
-Reverse Osmosis (RO).

Desalinisasi air laut yang digunakan di kapal Pinisi menggunakan sebuah alat yang dinamakan Water Maker.
Metode yang digunakan di kapal Pinisi adalah Reverse Osmosis (RO),
Proses produksi air bersih dengan metode desalinasi dilakukan melalui beberapa tahapan, meliputi:
-pengambilan air laut kedalam tangki yang disediakan,
-pengolahan awal air laut,
-proses pemisahan garam dan
-pengolahan akhir.

Pengambilan air laut dilakukan ketika kapal sudah berada di tengah laut dan berair bersih, air laut dipompa kedalam sebuah tabung penampungan besar.

Perawatan Water Maker yang rutin dan mengganti filter secara berkala adalah suatu keharusan sehingga diperlukan dedikasi yang tinggi dari seorang ABK yang sangat berpengalaman dan bertanggung jawab. Harga filter untuk Water Maker sangat mahal, tidak heran ketika saya di Bali, kapal yang super modernpun, ABK yang berpengalaman berusaha untuk merecycle filternya kembali.

(Hampir) Tidak ada kapal Pinisi yang dioperasikan sebagai LoB membawa air tawar tawar dalam tangki di kapal Pinisi, semua kapal memproduksi air tawar sendiri dengan desalinisasi air laut menggunakan Water Maker :
-Water Maker kapasitas besar digunakan untuk produksi air tawar 200-400 liter per jam untuk keperluan di dapur, kamar mandi, WC, bilas peralatan diving.
Water Maker kapasitas besar bekerja sesuai kebutuhan secara shift bergantian 6-8 jam per hari.
-Water Maker kapasitas kecil 20-60 liter per jam biasanya digunakan untuk memproduksi air yang berkualitas untuk diminum. Bahan yang digunakan adalah air tawar yang dihasilkan dari Water Maker kapasitas besar.

Tips :
Bagi yang ingin memiliki kapal Pinisi untuk LoB penting dalam tahap design awal perencanaan kapal tsb untuk sudah dipikirkan dimana lubang pengambilan air laut harus diletakan.

Limbah air
Limbah air yang berasal dari dapur, kamar kecil & kamar mandi dikumpulkan kedalam septik tank yang 2 kali sehari di buang kelaut diwaktu subuh dan malam hari.

Bisa dibayangkan berapa ton limbah air setiap harinya dibuang kelaut bila pada saat ini ada kurang lebih 45 kapal Pinisi yang beroperasi di Raja Ampat pada saat High Season ?

Tips :
Lubang pembuangan terletak berlawanan arah dari tangga naik kekapal yang biasanya berada ditengah bagian kiri lambung kapal sehingga lubang pembuangan limbah air berada di lambung sebelah kanan untuk menghindari salah buang ketika para Night Divers terlambat kembali kekapal dimalam hari.

Sampah
Sampah di kapal Pinisi Sea Horse dikumpulkan kedalam kantong plastik dan dibuang di tempat penampungan sampah di pelabuhan Sorong.

Logistik Dapur
Standard makanan yang disajikan di kapal Pinisi yang beroperasi sebagai LoB memiliki standard hotel bintang 4 atau bintang 5, tidak heran banyak kebutuhan bahan makanan yang harus di import dan diterbangkan langsung dari Bali atau Surabaya ke Sorong, karena tidak semuanya dapat dibeli di kota Sorong.
1 Trip yang terdiri dari 12 hari untuk 12 Divers dan 14 ABK & Cruise Director membutuhkan bahan makanan seharga Rp. 60 juta.

Ingin memiliki kapal Pinisi untuk LoB (LiveaBoard?)
Kapal Pinisi ukuran 30an meter, lebar 6,5-7 meter dalam keadaan kosong tanpa mesin & tanpa pembagian ruangan dibawah & diatas dek kapal, bila anda "tongkrongin" sendiri dalam pembuatannya kira kira akan menghabiskan biaya 1-2 M Rupiah.

Tergantung dari tingkat kemewahan kapal Pinisi yang sedang anda bangun, kebutuhan redudancy seperti mesin kapal, Diesel Generator, Water Maker, Diving Compressor, alat alat diving, 2x speed boat incl. Outboards dsb bisa menelan biaya 4-10 M Rupiah.

Biasanya para pemilik kapal Pinisi orang asing yang membuatkan kapal Pinisi di Bira akan mempercayakan orang dari luar Bira sebagai mandor ketika kapal tsb dalam proses pembangunan, karena :
-si orang asing masih harus cari uang di negaranya untuk biaya pembuatan kapal atau
-si orang asing belum mempunyai badan usaha di Indonesia, sehingga belum memiliki Visa permanen untuk Indonesia atau
-si orang asing masih harus mencari Business partner orang Indonesia atau isteri orang Indonesia sehingga memudahkan mendapatkan Visa permanen.
-dsb

Mandor kapal adalah orang kepercayaan pemilik kapal atau anggauta keluaraga pemilik kapal.
Banyak orang asing yang dalam pembangunan kapal Pinisi kehabisan uang ditengah jalan, sehingga mereka terpaksa pulang "kampung" dulu ke negara asalnya untuk :
-mencari uang dan kembali 1-2 tahun kemudian untuk meneruskan pembuatan kapalnya atau
-pulang ke negaranya untuk mencari investor (biasanya Dive Shop atau Travel Ageny) yang bisa di yakinkan dengan konsep businessnya untuk ikutan menjadi Business Partner.

Tips:
Bila anda memiliki uang "kecil" antara 4-10 M Rupiah untuk membuat kapal Pinisi idaman anda yang dapat dioperasikan sebagai LoB, penipuan oleh mandor kapal biasanya terjadi karena anda sebagai pemilik kapal antara lain :
-tidak mengerti seluk beluk pembuatan kapal atau,
-tidak mengerti seluk beluk diving dan peralatan yang diperlukan atau,
-tidak mengerti seluk beluk perihal perizinan untuk pengoperasian kapal yang sangat jelimet dan penuh birokrasi atau,
-tidak mengerti ketiga tiganya.

Penipuan bisa dimulai pada saat peletakan lunas kapal sampai selesai pembuatan kapal dan sampai kapal turun kelaut.

Setelah kapal terapung di laut, proses pembutan kapal diteruskan dengan pembagian ruangan dibawah dek seperti kamar tidur untuk tamu dan ABK, pembagian ruangan mesin (Disel Generator, Water Maker, Compressor, tangki BBM, Tangki air laut, Septik Tank dsb) dibawah dek, setelah itu dek kapal ditutup dan diteruskan dengan pembuatan kamar duduk diats dek, kamar kapten dsb.

Sebelum kapal turun kelaut phase yang rentan penipuan adalah dalam pengadaan kayu yang berkualitas dan pengadaan mesin kapal.
Setelah kapal turun kelaut phase yang rentan penipuan/markup dalam pengadaan barang barang keperluan kapal seperti Disel Generator, speed boat, Rescue Raft, alat alat navigasi , alat alat selam seperti air compressor, dives tanks, peralatan pembuatan Nitrox dsb.

Saya geleng geleng kepala ketika mendengar kapal adik perempuan saya dibelikan sebuah mesin truk Fuso bekas sebagai mesin kapal oleh mandor kepercayaanya yang katanya cukup satu mesin saja. Mungkin kalau mogok dilaut, kapalnya bisa di dorong ramai ramai..!

Business Pariwisata Bahari seperti kapal Pinisi untuk LoB adalah business serius yang memerlukan pengetahuan, keahlian & keseriusan dalam bekerja dan harus diserahkan kepada orang orang yang akhli di bidangnya dan bersih dari penyelewengan sehingga tidak bisa dipercayakan begitu saja kepada teman, suami atau anggauta keluarga yang sifatnya amatiran.

Para mandor kapal Pinisi yang menjual dirinya sebagai tenaga ahli dan sebagai tenaga konsultant dalam pembuatan kapal Pinisi, dalam pekerjaan pembuatan kapal Pinisi sehari harinya adalah tidak lebih dari pada seseorang yang berfungsi sebagai seorang penghubung yang menterjemahkan keahlian para tenaga lokal dalam pembuatan kapal Pinisi kepada para clientnya yang mayoritasnya adalah orang orang yang tidak mengerti proses pembuatan kapal Pinisi seperti :
-orang asing
-orang kaya baru (Indonesia) yang ingin memiliki kapal Pinisi

Para Mandor juga berfungsi sebagai penterjamah bahasa bagi orang asing dan kalau anda beruntung mendapatkan mandor yang "tahu" banyak, maka seorang mandor kapal akan menerangkan kepada clientnya bagaimana prosedur pengurusan surat surat kapal dan perijinan sampai kapal tsb layak beroperasi sebagai LoB.
Kriteria umum seperti dalam hal membuat rumah, seseorang yang berprofesi sebagai arsitek akan membuat gambar details dan ukuran rumah terlebih dahulu sebelum disetujui oleh seorang client yang ingin memesan sebuah rumah, demikian pula seorang mandor kapal professional akan berusaha menyiapkan gambar details dari kapal yang akan dibuat.

Jangan terlalu banyak diharapkan dari para mandor yang berkedok sebagai tenaga konsultant pembuat kapal Pinisi, mereka :
-tidak mampu untuk bekerja secara professional sebagai arsitektur kapal dalam pembuatan kapal Pinisi
-tidak memiliki keahlian & kemampuan dalam membuat denah kapal atau membuat bagan kapal apalagi membuat rincian pembagian ruangan kapal
-tidak memiliki keahlian dalam pengadaan barang/mesin modern sebagai pelengkap sebuah kapal Pinisi yang akan dioperasikan sebagai LoB.
-dll

Sehingga tidak heran kepemilikan kapal kapal Pinisi yang akan digunakan untuk LoB lebih banyak dipegang oleh orang asing yang lebih gigih "nongkrongin" kapalnya sendiri (walaupun mereka harus bolak balik ke Indonesia).
Para mandor biasanya akan mencari barang barang rongsokan yang masih dapat digunakan oleh kapal Pinisi dan menjualnya setinggi mungkin kepada pemilik kapal dengan meng marktup gila gilaan yang harganya lebih mahal dari harga barang baru.

Tadinya setelah 40 tahun merantau di Eropa saya masih mempunyai sedikit harapan untuk kembali ke Indonesia sebagai expatriat dan berencana untuk bekerja sebagai Cruise Director dikapal adik perempuan saya dan sekalian ingin ikut memasarkannya diluar Indonesia, tetapi setelah melihat penipuan/mark up yang dilakukan oleh mandor kapal kepercayaannya, akhirnya saya tarik niat saya untuk menjadi Cruise Director

Seorang mandor kapal dari Bira yang sebelumnya menjadi mandor kapal adik saya, saat ini sedang naik daun dengan gagasan pembuatan kapal Pinisi, untuk edukasi yang pada saat ini banyak di tulis di media online dan akan direalisir di Makasar.

Penyelesaian kapal sering tertunda tunda, bagaimana proses selanjutnya bila kapalnya tidak selesai dibangun padahal kapal yang dibangun dengan dana yang sangat mahal telah dipromosikan sebelum kapal siap pakai padahal kapal tsb masih memerlukan :
-pemasaran intensiv dengan jadwal penyelesaian yang akurat untuk dijual sebagai produk pariwisata bahari baik di pasar domestik maupun di pasar International,
-menaikan SDM para ABK supaya para ABK mampu bekerja secara profesional tidak kalah dengan para pegawai hotel bintang 4 atau bintang 5 didaratan

Akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri dan cukup puas hidup di rantau sebagai seorang tenaga IT Specialist yang bisa pulang liburan diving sekali sampai 2 kali setahun ke Indonesia.

Tips :
Saya yakin banyak orang Indonesia yang mampu untuk memiliki kapal Pinisi untuk dioperasikan sebagai LoB, untuk itu anda harus banyak mengetahui antara lain :
-proses pembuatan kapal Pinisi
-pengawasan dalam pembuatan kapal pinisi
-melengkapi kapal Pinisi dengan peralatan modern seperti mesin kapal, diesel aggregat, Water Maker, peralatan Navigasi kapal, peralatan keselamatan kapal dll
-melengkapi kapal Pinisi dengan peralatan modern untuk diving mulai dari tabung, BCD, air komprossor, pembuatan Nitrox, peralatan keselamatan deco sickness dll
-Tidak kalah pentingnya adalah kemampuan diving sebagai seorang owner kapal Pinisi.
-Memiliki konsep marketing pemasaran kapal Pinisi yang menarik sehingga banyak orang yang akan membeli produk kapal Pinisi anda.

Sementara ini konsep pemasaran kapal Pinisi dan Resort yang saya lihat di Raja Ampat masih lebih banyak mengandalkan penjualan paket diving sedangkan kapal Pinisi yang mendapat izin beroperasi sebagai LoB di Raja Ampat sudah mencapai lebih dari 45 kapal (pada tahun 2014 yl.), di beberapa dive spot seperti di Cape Cri Island dan Misool para divers yang berseliweran di bawah air sudah bagaikan "cendol" saja.

Konsep Pariwisata Bahari Raja Ampat
Pariwisata bahari Raja Ampat masih terbatas pada diving, sedangkan kombinasi diving dengan kegiatan lain masih sangat minim seperti :
-konsep diving dipadu dengan kayaking,
-konsep diving dipadu dengan pengenalan alam dan kebudayaan sekitar Raja Ampat,
-Birding di alam Papua masih jauh dari rasa nyaman karena tempat observasi burung masih sangat sederhanya sekali.

Sorong sebagai kota besar tempat kedatangan dan keberangkatan para Wisman sebelum ke atau sesudah dari Raja Ampat :
-belum bisa menyajikan sebagai destinasi yang menarik untuk disinggahi oleh para divers dari manca negara padahal kotanya cukup "hijau" dengan pepohonan,
-tempat penjualan souvenir di Sorong sulit diketemukan
-kuliner di sepanjang Tembok Berlin di kota Sorong belum menjadi magnet para wisatawan, menu yang di jual disepanjang Tembok Berlin masih itu itu saja seperti yang banyak dapat anda temui di kota kota lainnya di Indonesia, masih belum ada menu khusus Papua yang bisa menjadi daya tarik bagi para Wisman.

Tulisan saya sangat panjang, mudah mudahan anda tidak cepat cepat bosan membaca tulisan saya dan anda bisa mendapat sedikit gambaran :
-kendala mengembangkan Business Pariwisata Bahari di Indonesia,
-kenapa Diving di Raja Ampat sangat mahal,
-kenapa pemilikan Resort & kapal Pinisi untuk LoB (hampir) semuanya berada ditangan orang asing.

Misi & visi bapak Presiden Joko Widodo untuk memajukan Indonesia sebagai negara maritim yang saya kira juga termasuk di bidang pariwisata bahari masih banyak memerlukan uluran tangan khususnya dibidang Diving dari anda sebagai Divers, bila perkembangan pariwisata bahari dibiarkan terus berkembang seperti sekarang pariwisata bahari Indonesia akan sama seperti SDA (sumber daya alam) Indonesia lainnya yang terus terusan dikuasai oleh orang asing.

PS:
Bila anda seorang Blogger dan ingin melakukan "Cut & Paste" dari tulisan saya, saya sebagai penulis akan sangat berterima kasih kepada anda bila anda dapat mencatumkan nara sumber (nama saya sebagai nara sumber) di blog anda, karena tulisan panjang ini tidak dibuat dalam sehari dari "Copy & Paste" 1:1, tetapi dari pemikiran, pengalaman saya dilapangan selama di Raja Ampat & Bali serta referensi dari Internet.

Rencana destinasi Diving 2015
LoB dengan kapal adik saya di rute "Forgotten Island" diperkirakan akan start mulai awal November 2015, start dari Maumere, Flores.
Perjalanan perdananya adalah untuk :
-mengetest kemampuan kapal
-mengetest peralatan keselamatan seperti ENOS System, Rescue dsb.
-mengetest cara kerja ABK
-memperkenalkan Cruise Director dengan ABK dan kemampuan bekerja sebagai Team Work.
-Mudah mudahan kapal ini dapat dilengkapi dengan Technology Pactor over HF untuk Email seperti yang digunakan para Yachtis
-Pembuatan foto dibawah laut, didaratan untuk keperluan promosi
Mudah mudahan rencana destinasi Diving menyusuri route Forgotten Island sampai ke Raja Ampat bisa kesampaian, karena waktu adalah barang luxus yang (hampir) tidak saya miliki lagi.

Bila anda seorang Diver dan tertarik untuk perjalanan perdana ini dan bersedia sedikit bertualang dalam phase testing ini, kami akan menyiapakan harga yang memadai.

Sebagai penutup saya mengucapkan terima kasih kepada adik saya Latifah Elisa Kusrini yang telah menjadi sponsor dan membiayai penuh semua pengeluaran saya bersama isteri dari Austria ke Raja Ampat pp

Vienna, 13. April 2015
Salam dari Vienna, Austria
etoy (Subagio Rasidi Kusrini)

_________________
Subagio Rasidi Kusrini (etoy)


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Mon Apr 13, 2015 7:59 am 
Offline

Joined: Sat Mar 20, 2010 7:31 pm
Posts: 222
Location: Jakarta Selatan
Mantaaap oom !

kangen pingin ke sana lagi !

:-bd

_________________
* my buddy : my camera *


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Mon Apr 13, 2015 12:04 pm 
Offline
User avatar

Joined: Fri Dec 10, 2010 10:38 am
Posts: 78
Location: Benhill Jakpus
Keren tulisannya. Tidak hanya. Menuliskan keindahan RA tp disisi lain Ada sesuatu hal yg patut diangkat.


Brgds
Rangga AF


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Mon Apr 13, 2015 12:55 pm 
Offline

Joined: Wed Feb 29, 2012 1:06 am
Posts: 171
Tulisannya bagus banget Om....
Jadi pengen balik lagi ke Raja Ampat... hehehe


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Tue Apr 14, 2015 6:03 am 
Offline
User avatar

Joined: Fri Aug 25, 2006 10:33 am
Posts: 1564
Tulisannya bagus sekali bung Etoy, menyeluruh dan sarat informasi.

Ditunggu tulisan-tulisan berikutnya.

_________________
Hernando Alkausar
--
www.hamueco.com/diving
+62-812-218-NNDO


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Tue Apr 14, 2015 7:43 am 
Offline
User avatar

Joined: Tue Mar 31, 2015 2:23 pm
Posts: 118
Location: Palembang, Indonesia
Wah, ngiler.. Pengen.. =p~

_________________
Yuri Rahardi Pratomo
YuZi Store - Palembang, Indonesia
xDEEP Indonesia - European Made
GULL Japan - AQUATEC Taiwan
Phone/WA : +62-811-7101905
BBM : YURI1987
Skype : rahardi.pratomo
E-mail : [email protected]


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Tue Apr 14, 2015 10:07 am 
Offline
User avatar

Joined: Tue May 14, 2013 5:29 pm
Posts: 34
Location: Jakarta, Indonesia
wuuuiiiihhh... mantaaaappp... super keren tulisannya, Bang Etoy. :-bd :-bd
saya nambah ilmu dan pengalaman baru lagi nih.
ditunggu tulisan2 berikutnya... :)

trip "forgotten island"-nya kabar2i disini aja Bung Etoy... ;)

_________________
Thank You and Best Regards
Ibnu K. Wijaya
Indonesia Dive Explorer
RAID Divemaster


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Tue Apr 14, 2015 8:07 pm 
Offline

Joined: Tue Mar 20, 2007 5:58 pm
Posts: 1052
halo mas etoy salam kenal.. duh tulisannya sadis bgt.. bacanya asik & menambah pengetahuan saya.. btw mas etoy ada hubungan sodara sama mirza kusrini?

_________________
BanyuBiru Explorer Indonesia - Center for Diving Excellence | GUE Affiliate | Dive Training & EFR Training | Halcyon Dive Systems Dealer | DAN Asia Pacific Supporter | W: www.banyubiru.org | F: Banyu Biru Explorers | T: @banyubiru_xplor


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Wed Apr 15, 2015 1:47 am 
Offline

Joined: Wed Oct 15, 2014 12:15 am
Posts: 9
Location: Vienna, Austria
Hantulaut : halo mas etoy salam kenal.. duh tulisannya sadis bgt.. bacanya asik & menambah pengetahuan saya.. btw mas etoy ada hubungan sodara sama mirza kusrini?

Dear Hantulaut,

Jawabannya OoT (Out of Topic) dan maaf untuk pembaca yang tidak tertarik atas reply ini.

sebetulnya saya baru mau mereply yang memberi komentar atas tulisan saya ini baru weekend ini, karena saya masih stress pekerjaan dan minggu depan saya tugas di Jerman lagi yang lebih stress lagi dari pada kerja di Austria, maklumlah kata pepatah "lain padang, lain belangnya", lain negara dan bangsa, lain lagi cara memecahkan masalah IT.

Fire Fighter
Saya semacam "Fire Fighter" di bidang IT untuk jaringan Network dan 3rd. level supporter, jadi kalau 2nd. level support yang terdiri dari orang orang India di Bangalore dan orang Bulgaria tidak bisa menangani masalah IT lagi, saya harus bisa menanganinya dan harus terbang ketempat yang bermasalah.

Saya termasuk Jetset tanpa Glamour, terbang terus terusan, sehingga menambah stress tetapi harus tetap tenang, tetap senyum, tetap ramah dan tetap berkepala dingin menghadapi masalah jaringan Network atau devices yang bermasalah padahal orang orang disekeliling sudah pada stress setengah gila kalau jaringan network tidak jalan karena perusahaan tempat saya bekerja memproduksi antara lain Insulin untuk orang yang sakit gula (Diabetis), Hormon pertumbuhan anak dan produk produk unggulan lainnya dimana untuk Insulin Corporate perusahaan saya bekerja menguasai pasaran dunia.

Setiap menit jaringan tidak terkoneksi, untuk eropa saja bisa hilang jutaan Euro dari pesanan yang tidak bisa dilayani, para manager jadi stress yang buntutnya diteruskan ke para Fire Fighter yang hanya sedikit jumlahnya.

Pertanyaannya apa hubungannya dengan Mirza Kusrini ?
Sebagai Fire Fighter saya jadi orang yang keras dan terbiasa untuk cepat menyelesaikan masalah, apalagi kalau liburan ke Indonesia, minggu pertama saya frustasi berat karena semuanya serba lambat dan termasuk juga adik adik saya.
Maklumlah 40 tahun hidup di rantau, di bilang bule bukan, di bilang Melayu juga bukan. Diving memberi saya ketenangan jiwa dan belajar menikmati kehidupan, jadi pulang ke Eropa segar dan berenergi.

Ahli Kodok
Mirza Dikari Kusrini adalah adik perempuan saya yang paling bungsu, dia seorang dosen di IPB, Ph.Doctornya dibuat di Universitas di Quensland, saya tidak tahu apakah ibu Mirza sudah jadi guru besar atau belum, tetapi dia salah satu ahli kodok Indonesia nomer 2 untuk bidang ini di Indonesia.

Semua Kodok yang ada di Indonesia di selidiki dan beliau selalu menemukan species baru, dia naik dan panjati pohon yang tingginya 40-60 meter diseluruh pelosok Indonesia, perjuangannya luar biasa dan banyak sekali karya tulis ilmiahnya yang di publikasikan di Scientitic journal di luar negeri.

IUCN
Terkahir saya ketemu Ibu Mirza di Swiss, kira kira 4 tahun yang lalu, beliau duduk sebagai volunteer (tidak di gaji sesenpun) dan petinggi di badan konservasi International IUCN, yaitu sebuah badan konservasi alam dunia yang berkedudukan di Swiss.

Kependekan IUCN adalah dari International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources.

IUCN hidupnya dari donatur dari seluruh dunia, setahun sekali para donatur berkumpul di Swiss dengan para ahli termasuk juga ahli biology dari manca negara untuk antara lain :
-mengumpulkan uang untuk konservasi binatang yang hampir punah dari dunia,
-menentukan binatang mana yang menjadi prioritas harus diselamatkan terlebih dahulu.

Ibu Mirza dan para team ahlinya di IUCN adalah orang orang yang menentukan binatang mana di dunia yang harus diselamatkan terlebih dahulu dan menyalurkan dana yang jumlahnya jutaan dollar.

Saya ketemu ibu Mirza terakhir disebuah Cafe House 4 tahun yang lalu dekat kota Genewa di Swiss setelah sidang dengan para milyuner & konglomerat negara industri yang datang ke swiss untuk memberi setetes (mungkin tidak sampai 1 persen) dari keuntungan Corporate mereka. Para Milyuner datang dengan Lear Jet pribadi atau Jet milik Corporate mereka bekerja.

Disini saya baru melihat di Cafe House tsb bahwa orang orang yang duduk santai ngobrol dengan penampilan sederhana atau seperti koboi adalah para milyuner penyandang dana IUCN, disini ibu Mirza meyakinkan para milyuner di waktu bebas sambil berbincang bincang di Cafe House betapa pentingnya binatang binatang yang tinggal semata wayang di dunia harus diselamatkan.

Salah satu yang saya sangat banggakan adalah ketika ibu Mirza berhasil menggeser kedudukan para petinggi Malaysia yang bercokor di IUCN, karena mereka menganggap dirinya lebih pintar dari orang Indonesia dan mereka malah merasa seperti mewakili Indonesia. Tentu disini mereka harus bersaing secara ilmuwan dengan pengetahuan mereka.

Setelah bertemu di Swiss, saya masih menemani ibu Mirza ketika beliau memberi presentasi perihal dunia Kodok Indonesia di fakultas Biology Universitas Vienna, ternyata banyak juga mahasiswa asingnya dan konco konco professornya.

Tulis menulis dan kekayaan intelektuel
Tulis menulis adalah suatu kebanggaan untuk saya, kita bertiga mulai dari nol besar bahu membahu ketika melarat dan bisa sukses di kemudian hari, kami sama gilanya dalam menulis seperti bapaknya pada waktu itu yang juga rajin menulis membuat skripsi untuk banyak mahasiswa ekonomi universitas terkenal di Jakarta dengan meja tulis berupa nisan kuburan di pekuburan kumuh di Prumpung, Jatinegara.

Itu kontak terakhir saya dengan ibu Mirza di Swiss & Austria, kita bertiga suka menulis :
-saya sebagai anak paling tua & laki laki satu satunya sering menulis berita perjalanan karena suka bertualang & travelling dari jaman susah sesusahnya pertama kali hidup diperantauandi Eropa.

Menulis dan bercerita adalah kekuatan dan kekayaan intelektual saya, dimasa kere ketika saya selama 17 tahun menjadi mahasiswa abadi hampir tanpa uang, saya sering cari duit sebagai presentator berita perjalanan.
-Adik saya yang di tengah dari 5 bersaudara dari 1 ibu rajin menulis untuk business, makanya bisa maju dan mampu untuk membuat kapal Pinisi tanpa bantuan bank atau sponsor.
-Adik yang paling bungsu adalah ibu Mirza, seorang pure Scientist sehingga tulisannya ya tulisan ilmiah tapi mudah dibaca dan dicerna..

Sekarang anak perempuan saya Susi yang paling tua juga sama, salah satu kerjaan sambilannya di Universitas adalah membuat Seminar teman teman mahasiswanya dengan imbalan 200-300 Euro sekali nulis karya ilmiah.

Dulu waktu kecil ibu Mirza sering saya jitakin kepalanya karena gemes, belakangan saya lupa, beliau sudah besar & tidak bisa di jitakin fiktif dengan penampilan keras saya, sehingga kita hilang kontakt sama sekalil. No news, good news, tetapi hubungan kakak beradik tidak bisa dihapus dari ingatan, apalagi di format seperti hard disk computer, disini saya belajar ambil positifnya dari kehidupan bawah laut saja, menghargai lingkungan berarti juga menghargai orang lain, jadi masing masing sajalah.

Dosen Killer
Saya tidak tahu benar atau tidak, kata ex mahasiswanya yang pernah bikin S1 sampai S3 dengan beliau, ibu Mirza adalah dosen Killer, tetapi disukai oleh banyak mahasiswanya karena mereka jadi bisa menulis karya ilmiah, pokoknya selama karya ilmiahnya belum benar, si mahasiswa akan terus dididik sampai karya ilmiahnya dibenarkan dan baru akan di uji kalau karya ilmiahnya sudah benar atau tukar dosen, maklumlah orang kita masih sangat kreatif kalau untuk "Cut & Paste", tapi jangan berkecil hati, ini masalah international koq, di Austria dan Jermanpun pernah ada menteri yang harus mundur dari jabatan menterinya karena cut & paste karya ilmiahnya.

Kalu di Indonesia diberlakukan pemeriksaan karya ilmiah seperti di Austria & Jerman, DPR & MPR di Indonesia bakalan kosong tuh.

Kegiatan Sosial
Ibu Mirza banyak memberi kegiatan sosial gratisan kepada anak anak sekolah untuk menjaga kodok dilingkungan mereka dan saya pernah melihat film penyuluhan kepada penangkap kodok di Indonesia yang pernah diputar selama 50 menit di televis Perancis.

Kalau Hantulaut ada hubungan dengan ibu Mirza, saya kira ibu Mirza dapat di minta pemikirannya untuk memberi ceramah mengenai konservasi laut untuk para divers, karena Master yang dibuat ibu Mirza adalah perihal hutan mangrove dipesisr pantai. Dari cerita OoT saya untung bisa kembali ke Laut lagi, salah salah saya bisa di banned oleh Admin.

Mudah mudahan Hantulaut (maaf saya tidak tahu nama anda yang sebenarnya) tidak sempat merasakan kerasnya seorang dosen Killer ibu Mirza, yah ambil positifnya saja.

Vienna, 14. April 2015
Salam dari Vienna, Austria
etoy (Subagio Rasidi Kusrini)

_________________
Subagio Rasidi Kusrini (etoy)


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Wed Apr 15, 2015 11:26 am 
Offline

Joined: Tue Mar 20, 2007 5:58 pm
Posts: 1052
wah terimakasih jawabannya yang seru hehehe.. mirza kusrini (saya manggilnya mickey) itu dulu teman saya expedisi Operation Raleigh di pulau Seram. jadi temen lama banget pas saya masih aktif kegiatan outdoor & keluar masuk hutan (sekarang keluar masuk laut aja). seneng juga bisa nyambung & tau kalo ternyata mas etoy itu kakaknya mickey. silahkan lanjut mas, senang bisa ketemu dan baca tulisan mas etoy (dan latar belakang mickey) yang menginsipirasi banyak orang.

_________________
BanyuBiru Explorer Indonesia - Center for Diving Excellence | GUE Affiliate | Dive Training & EFR Training | Halcyon Dive Systems Dealer | DAN Asia Pacific Supporter | W: www.banyubiru.org | F: Banyu Biru Explorers | T: @banyubiru_xplor


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Raja Ampat dilihat dari kacamata lain
PostPosted: Sat Apr 18, 2015 7:11 am 
Offline
User avatar

Joined: Tue Sep 15, 2009 3:15 am
Posts: 1396
Location: Katameya Heights
mas Etoy ini kalau menulis memang luar biasa detail dan sangat mendalam,
bisa jadi satu buku sendiri

Kita sendiri pernah menginap di Kri eco resort dan sempat bincang2 cukup dalam dengan Max Amer yang mau bercerita panjang lebar mengenai kiprahnya di papua
yang juga saya apresiasi, seluruh dive guide Kri adalah orang asli papua; demikian juga dengan dapur/restaurant, kecuali supervisornya yang dari jawa, seluruh team adalah penduduk setempat.
Memang harus diakui saudara2 kita dari papua belum terbiasa dengan industry wisata, namun dengan kesabaran dan pendekatan yang benar, investasi human resource akan lebih sustainable.

anyway, salam untuk keluarga

_________________
https://www.flickr.com/photos/wisnupurwanto/


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 15 posts ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: Bing [Bot] and 2 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to: