It is currently Sun Oct 22, 2017 4:27 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 32 posts ]  Go to page Previous  1, 2, 3
Author Message
 Post subject: Re: Sekarang kira-kira berapa yaa divers (WNI) di indonesia.
PostPosted: Fri Nov 01, 2013 11:29 am 
Offline

Joined: Fri Mar 20, 2009 11:39 pm
Posts: 913
Location: Jakarta
Di luar dari total lokal divers, diving telah bantu banyak melestarikan lingkungan bawah air atau minimal attention ke sana naik banyak. Itu satu benefit yang long term dan nilai nya tidak bisa di hitung dengan uang, jika pun di hitung dengan uang bisa trilliunan value nya.

Dengan orang awam jadi diver, bisa tengok reef damage dan sukur2 bisa bantu goreng2 pemerintah untuk lebih menjaga lingkungan atau terbitkan aturan yang mendukung. Lingkungan di jaga, nelayan kita yang jutaan akan terbantu sebab cari ikan lebih mudah dan tak perlu terlalu jauh..............ini dalam scenario perfect world :mrgreen:

Jadi jangan lihat hanya income nya, lihat overall goodness nya.

Case To Note 1 :

Semua pulau 1000 di utara jakarta, yang punya pemerintah, hancur lebur kena bom.
Yang punya swasta malah di jaga dan lebih baik. Ini masih karena marine tourism lah, ada island owner yang diving , snorkling atau simply love the sea.

Laut adalah food source.
Hanya divers yang bisa tengok dan bawa kamera untuk bukti, what damage been done dan etc etc.
Jadi doku di sampingkan, kita ini satpam juga neh :mrgreen: , useful one.
Contoh shark finning dan Manta Ray dan Whale Shark dan juga Great White pun, kan di lindungin karena diver punya effort. Si Napoleon juga toh di lindungin.


Case To Note 2 :
Taman Nasional Ujung Kulon. Jawa Barat.
Last weekend kawan baru balik dari sana diving. Yang main bom makin edan....parah. Dang-Dung-Dang-Dung sini sana di Karang Copong.

1990 saya pertama kesana. Mantap, doku WWF masih kencang, yang sport fishing banyak, yang diving banyak.
Patroli sering dan tak ada istilah bom, jaring dan nelayan....mantap dah. Turun pun di air 20 meter, kudu suruh ikan pada minggir tuh surgeon dan ekor kuning...mana surgeon nya gede2 45 cm man !!!

Saat krismon 1997-1998 mulai dah enforcement lemah. Bom berbunyi sini sana pada level lumayan...banyak kagak tapi jaring banyak. Saya dan kawan2 masih diving dan masih pun patungan betulkan kapal patroli kecil di Pulau Peucang.

2009 atau kapan saya lupa deh tepatnya, keluar aturan kapal non government dan kecuali nelayan, tak boleh pakai bensin/solar subsidi. Di tangkap deh para pemilik kapal yang beli premium, kalo solar dilema besar sebab kalo solar industri kudu beli 5000 liter minimal. Kawan saya kena 6 bulan masuk penjara kapten nya, padahal beli ama licensed fuel supplier pada harga bukan harga POM, tapi ternyata surat izin jual BBM si seller udah expired dan jatah nelayan yang dia pakai ...kong-kali-kong ama POM bensin... :mrgreen:

Pernah saya lupa tahun berapa, Taman Nasional panggil Polisi air dan bawa kapal 36 meter dengan kaliber 50 di depan nya. PAke doku neh walaupun inter-agency assist, kan solar beli pake doku. Lumayan deh setahun-nan aman tuh UK.

Semenjak bensin susah....diving ke UK jadi makin mahal dan hotel nya di Peucang udah kayak Ghost Hotel.
Saya sampe bawa genset kecil dan makanan sendiri hahahaah.
Maka sekarang Karang Copong sih udah kasian banget deh.



Case to Note 3 : Pelabuhan Ratu
Kawan saya sering kapal nya di pinjam untuk chase boat saat ada informasi nelayan main bom atau pakai jaring illegal. Dia diver dan pemancing. Saya sendiri pernah telefon polisi air saat ada nelayan pakai jaring illegal. Datang loh tuh polisi air dan saya bayarkan biaya BBM sebab sangat senang response yang baik ini.

Case to Note 4 : Taman Nasional Bunaken
Ayooo siapa yang tau sejarah nya dan siapa yang goreng2 supaya Bunaken jadi TN ?
Diver loh.
" ................. penemu Taman Nasional Laut Bunaken tahun 1975 sekaligus pemilik Nusantara Diving Centre (NDC), Locky Tjipta Herlambang."

Apakah jika bukan saya diver saya jadi concern soal semua ini ?
Tak akan saya concern, karena saya tak paham....macam mana mau concern pulak ?
Jadi goodness nya diving jangan cuma di itung dari income $$ doank, walaupun kita diver lokal tidak banyak2 sangat.


Cuma memang kita harus sadar beberapa hal .
Pada ekonomi seperti Indonesia yang rising nation dan cuma US$3,300 - US$3,600 per capita per tahun, doku akan di pakai untuk hal lebih penting...wajar lah.

Diving selain bisa akses pantai kayak Tulamben, jika pakai kapal , so pasti mahal sebab BBM tak murah.
Kapal pun tak murah. Jadi yang mahal adalah cost of doing it, seperti Om Rendra uraikan.

Orang kita takut matahari, takut item dekil kalo nona2 yang putih cantik... :D , maka diver cewek tak akan sebanyak di negara yang horny ama matahari sebab kulit mereka emang perlu sun-tanning.

Basically orang Indonesia tidak terlalu water people, takut ama air. Apalagi 2004 Tsunami, sampai Anyer pun jadi sepi.

Infrastruktur kita di Eastern Indo emang jelek. Ini negara punya PR lah, doku ke gedean.
Mau diving jauh2 susah neh, transport nya tak reliable sangat.


LOB terawal yang bagus dan Indonesian owned nama nya Tropical Princess ( besi ), yang main di Biak saat Garuda masih transit Biak late 80s early 90s. Ini punya Andre Pribadi ( Scubapro Indonesia yang dulu, pertama ) dan dengan keluarga Djarum ( rokok ) yang hobby diving.

Selain nya adalah kapal asing yang sekali2 mausk Indo dan lakukan dive trip remote area yang di atur ama Dive Master. Ada beberapa kapal deh.



BISNIS
Kita-kita harus terima kasih ama bule2 yang berani mulai LOB dan pioneerkan diving di remote area land based.
Tercatat dalam sejarah ( tanya Dive Master ajah ) bahwa, semua area sulit, hampir semua pioneer nya orang asing yang mulai dengan susah payah. Wakatobi, Misool , Raja Ampat dan banyak lagi daerah susah...pada jaman start-up nya mereka.

Ini tidak heran, sebab gajah di depan mata tak akan nampak, tapi semut nampak :mrgreen:
Maksudnya adalah, kita take it for granted di berkahi ama Almighty bahwa kita kaya akan marine life dan marine area yang cakep...tapi tidak bisa hargai seperti orang asing yang negara nya miskin marine life, miskin warm nice tropical water, miskin karang cantik nan-indah.

Lihat semua reef protection yang besar, orang asing juga, baik NGO kah atau apa lah nama nya.
Orang Utan kita ajah yang belain orang asing.

Seperti Om Rendra bilang, passion kudu lebih besar dari kalkulator bisnis kalo mau main di dive business , apalagi remote area dive resort.

Kita harus sadari bahwa untuk bisa buang uang menginvestasikan ke risky business kayak dive resort area sulit, kita harus terlebih dahulu punya usaha yang jalan. Maka kita punya business utama yang jadi mesin uang kita.
Jika kita tinggalkan mesin uang utama kita demi jalankan dive resort di area sulit, resiko nya besar bagi keluarga.

Jadi kita perlu John Doe dengan kantong dalam yang sudah mapan, hilang Rp5 - 10M cuma nyengir doank tak mati sekeluarga...........untuk berani invest di dive resort atau dive related services deh. Cuma yang pinter dagang akan hitung, why risk doing business yang risky ? Tak salah sih John Doe berfikir seperti itu, sebab anak dan bini nya makannya bukan "passion" dan sekolah bayar tak bisa di bayar pakai "passion" juga.

Maka, selain kita perlu middle class yang siap hitam legam walaupun sunscreen udah SPF1000 ( ada kagak tuh ? :mrgreen: ) dan jadi diver, kita juga butuh upper middle class yang semi retired dan mau jalankan dive center/resort atau LOB dan tak mati kalo rugi. Sayang nya mayoritas populasi kita kan belum pun masuk "new rich", masih going to be.........dan kudu doyan ama air loh, bukan takut ama air.

Diving is doing, bukan alat doank.
Alat hanya alat, relatif one time investment deh per 5 tahun. Ogut punya BCD udah 10+ tahun....he he he.
Yang mahal diving TRIP nya euuyy.....

Blup blup blup.

_________________
Used to be dumb but no more....


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Sekarang kira-kira berapa yaa divers (WNI) di indonesia.
PostPosted: Wed Nov 06, 2013 12:38 pm 
Offline

Joined: Mon Aug 27, 2012 7:25 am
Posts: 73
rendra wrote:
bongabonga wrote:
Mas Rendra,

Maksudnya kali 30% ya, pajak barang mewah? Masa 130%?


bonga2


bener 130% bro....

Jadi, kalau berdasarkan buku tarif, untuk alat selam yg tidak ada kategori khusus ini bisa saja diperhitungkan sbb:

Pajak Bea Masuk (PBM) = up to 100%
PPN import = 10%
PPN BM = 10%
etc.. etc = 10%

Sum up, bisa sampai 130%...

Di HS book/ buku tarif 2012, baru wetsuit doang yg ada tarifnya.... yg lainnya msh masuk klasifikasi peralatan olah raga perairan yg belum diklasifikasikan... Pinter2an kasih penjelasan dan mohon maklum org bea cukai, supaya PBM nggak sampai 100%...

Nasiiiiiiiib.....


Udah pajaknya segitu, dikorupsi pula...

Nasiiiiiiiiiiiiib...... :((


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 32 posts ]  Go to page Previous  1, 2, 3

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
cron