It is currently Mon Oct 23, 2017 6:03 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 3 posts ] 
Author Message
 Post subject: Dive Training, Certified or Qualified
PostPosted: Tue Aug 13, 2013 12:13 pm 
Offline

Joined: Wed Jun 19, 2013 5:08 pm
Posts: 17
Mengundang teman-teman untuk berbagi, berkomentar dan memberi masukan dalam tulisan di blog saya: [url]ciptoag.blogspot.com[/url]. Kali ini topiknya adalah: Dive Training, Certified or Qualified.

_________________
Marine Ecotourism Development, Management and Marketing Consultant. Professional Underwater Instructor, Photographer and Film Maker.
serving the diving industry since 1992


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Dive Training, Certified or Qualified
PostPosted: Tue Aug 13, 2013 9:08 pm 
Offline
User avatar

Joined: Fri Aug 25, 2006 10:33 am
Posts: 1564
ini tulisan bagus koq belum ada yang comment ya?
semoga ga menyudutkan kami-kami yang freelance ini..

nambahin sumber, sekedar refresh our memory:
QUANTITY ..... or ...... QUALITY ...... ??? http://www.forumselam.com/viewtopic.php?f=3&t=1337

"dibalik pilihan hidup pasti ada alasan yang baik"

_________________
Hernando Alkausar
--
www.hamueco.com/diving
+62-812-218-NNDO


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Dive Training, Certified or Qualified
PostPosted: Fri Aug 23, 2013 2:15 pm 
Offline

Joined: Wed Jun 19, 2013 5:08 pm
Posts: 17
Monggo dibahas.........

Peningkatan siknifikan jumlah peselam rekreasi dunia di mulai di pertengahan tahun 90an dan terus berlanjut sampai saat ini. Disisi lain, tingkat persaingan usaha jasa penyelaman juga semakin luas dan sengit. Tak terkecuali persaingan antar agensi sertifikasi. Agensi sertifikasi berlomba-lomba menyediakan standar sertifikasi yang semakin “simple” dan “market friendly”, dan akibatnya semakin mudah orang untuk mendapatkan sertifikasi selam, bahkan sertifikasi di tingkat professional pun semakin mudah di dapat. Bisnis sertifikasi selam sudah menjadi industry besar dengan nilai jutaan USD, bahkan ada agensi selam dunia yang sudah dimiliki oleh perusahaan investasi sehingga wajar apabila tujuan profit lebih menonjol dibandingkan idealism pendidikan yang berkualitas.

Untuk melindungi diri masing-masing, agensi penyelaman ber lindung dibalik “liability release” dan juga formulir-formulir “pelepasan tanggung jawab”, bahkan ada agensi selam yang menyatakan bahwa instruktur yang memberi pengajaran selam menggunakan standarnya bukanlah personil yang dapat merepresentasikan diri terkait organisasi yang standarnya digunakan tersebut, alasannnya adalah agensi sudah menyediakan standar namun aktivitas instruktur dan/atau dive operator menjadi tangggung jawab masing-masing. Dengan kata lain, apabila ada instruktur / dive operator yang berlaku “semau gue” itu bukan tanggungjawab agensinya. Sepintas memang masuk akal, namun apabila di dalami artinya tidak ada proses Quality Assurance yang dapat memonitor kegiatan instruktur / dive operator yang diterapkan untuk mengontrol proses pengajaran. Quality Assurance hanya dilakukan secara pasif apabila ada laporan, terjadi kecelakaan atau indikasi pelanggaran setelah proses pendidikan berlangsung bukan pada saat proses itu sedang berlangsung. Ada pula agensi selam yang menggunakan system pengawasan aktif yang dilakukan dive operator terhadap instrukturnya. Pada system ini, dive operator menjadi bagian dari Quality Assurance sehingga selama tidak ada “pat gulipat” antara dive operator dan muridnya, bisa dianggap bahwa selama proses pendidikan dapat lebih mudah diawasi.

Kondisi semacam ini ditambah adanya tekanan persaingan usaha jasa pendidikan selam, menimbulkan dampak yang sangat negative. Fleksibilitas pelatihan dimanfaatkan untuk mengurangi porsi pelatihan baik secara kuantitas (banyaknya pengetahuan dan/atau ketrampilan) maupun kualitas (lamanya pengajaran dan repetisi pelatihan sangat berpengaruh pada tingkat “mastery”), pelanggaran standar di kemas sedemikian rupa dengan memanipulasi murid, bahkan yang lebih parah adalah kongkalingkong antara murid dengan instruktur/dive operator untuk mendapatkan sertifikat dengan membayar lebih murah dan/atau waktu lebih cepat. Hal seperti inilah yang sekarang menjadi potret miris perkembangan industry pelatihan selam di Indonesia (juga dibanyak tempat didunia). Meningkatnya jumlah peserta pelatihan tidak dibarengi meningkatnya kualitas peselam, kemudahan dan pemanfaatan teknologi informasi dimanipulasi untuk mempercepat pendidikan tanpa peduli hasil akhir dari pendidikan itu sendiri. Akibatnya, semakin sering kita mendengar kecelakaan yang berakibat kematian, bahkan pada saat pelatihan berlangsung.

Sebagai masukan: Dalam beberapa bulan kedepan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berencana untuk membuat 4 workshop bertajuk "Rancangan Peraturan Menteri terkait Standarisasi Usaha Wisata Selam", "Kode Etik Wisata Pengamatan Biota Laut", "Keselamatan Penyelaman" dan "Klasifikasi Titik Selam". Bagi para professional yang berminat untuk hadir dan berpartisipasi bisa mengirim data (nama, no telp dan alamat email ke saya (ciptoag@gmail.com). Penyelenggaraan kemungkinan di Jakarta, Bali atau Manado (untuk masing-masing topik terkait. Dive operator di lokasi diadakannya workshop akan mendapat undangan.

_________________
Marine Ecotourism Development, Management and Marketing Consultant. Professional Underwater Instructor, Photographer and Film Maker.
serving the diving industry since 1992


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 3 posts ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 2 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
cron