It is currently Sun Oct 22, 2017 6:16 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 6 posts ] 
Author Message
 Post subject: RIP: Majalah diving lokal
PostPosted: Tue Jan 18, 2011 1:29 pm 
Offline
User avatar

Joined: Wed Jan 05, 2011 12:54 pm
Posts: 312
baru dengar kabar bahwa salah satu majalah diving lokal akan segera tutup. cukup sedih juga mendengarnya, secara gw koleksi banyak majalah diving lokal dan luar.

apa iya secara skala bisnis sebuah majalah diving sulit bertahan hidup di Indonesia, atau ini hanya masalah mis-management?


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Jan 18, 2011 3:21 pm 
Offline

Joined: Mon Jun 21, 2010 10:29 pm
Posts: 171
Location: Rotterdam
Sayang memang..

Di satu sisi, dalam beberapa tahun mendatang kemungkinan besar print magazine (majalah cetak) tidak populer lagi..mungkin sebaiknya mulai dikembangkan online magazine sekalian...pastinya akan lebih mudah diakses..


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Jan 18, 2011 11:11 pm 
Offline
User avatar

Joined: Fri Aug 25, 2006 10:33 am
Posts: 1564
kayanya UUD, seperti mayoritas problem di Indonesia..

_________________
Hernando Alkausar
--
www.hamueco.com/diving
+62-812-218-NNDO


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Jan 20, 2011 2:05 pm 
Offline
User avatar

Joined: Mon Jun 14, 2010 9:24 am
Posts: 516
Location: jakarta
waduch...
yang mana yaaa... harus memburu koleksi kalau begitu..
kalau dah gak terbit lagi kan bakal jadi koleksi yang 'mahal'

turun sedih dan prihatin..

salam
ar


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Jan 20, 2011 10:28 pm 
Offline
User avatar

Joined: Sat Sep 27, 2008 3:17 pm
Posts: 618
Location: sanur - bali
Apa krn masalah klasik ya? biaya operasional & produksi tinggi, pemasukan iklan & donatur minim, konten gak banyak...klise :)


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Sun Jan 23, 2011 1:56 am 
Offline
User avatar

Joined: Wed Jan 05, 2011 12:54 pm
Posts: 312
aria4m wrote:
waduch...
yang mana yaaa... harus memburu koleksi kalau begitu..
kalau dah gak terbit lagi kan bakal jadi koleksi yang 'mahal'

majalah "DD" om, edisi terakhir (tanggal cover 15 jan) masih terlihat di beberapa dive shop. tanya aja, mereka tau kok mana yang dimaksud.

guswid wrote:
Apa krn masalah klasik ya? biaya operasional & produksi tinggi, pemasukan iklan & donatur minim, konten gak banyak...klise

biaya operasional/produksi majalah tinggi biasa terjadi jika pengelolanya kurang berpengalaman di bidang media. berikut cerita singkatnya (daripada gw bengong di tengah malam gini):

lazimnya, biaya cetak majalah kudu ditutupi oleh penjualan 30%-50% dari total oplag. semakin rendah oplag majalah, maka ongkos cetak semakin tinggi, begitu sebaliknya, semakin tinggi oplag majalah maka ongkos cetak semakin rendah. untuk mendapat penyebaran yang cukup di nusantara khusus majalah spesialis (seperti halnya diving), oplag 7000 eksemplar merupakan angka yang moderat, baik dari sisi ketersediaan maupun untuk menghitung harga jual majalah yang diterima pasar. artinya, harus mendapat kurang lebih 3000 pembaca setiap bulannya. jika ini sulit tercapai, dapat dipastikan bayar cetak akan nombok. belum kalo sang percetakan ngga begitu kenal kita, sulit ngasih kredit. kalo kenal, bisa dapat kredit 90 hari.

itu baru urusan duit dengan percetakan. untuk mencapai penyebaran yang merata, dibutuhkan bantuan distributor. kalo yang pede, jelas mampu bikin distributor sendiri. kalo ngga, ya bisa nyari distributor dari grup media besar. fee penjualan biasanya berdasarkan kesepakatan yang di dalamnya terdapat diskon agen, biaya transport dan success fee jika penjualan di angka tertentu tercapai. namun yang paling ribet soal pembayaran. agen bisa bayar 90 hari aja, hari gini udah termasuk cakep banget. kalo ini sulit tercapai, walau penjualan BEP, akan sulit nutup tagihan dari cetakan. khusus urusan distribusi, banyak penerbit baru (termasuk lisensi dari luar atau bosnya kebanyakan sekolah di luar negeri) yang terlalu menganggap remeh kekuatan agen penjualan media di Indonesia.

kesimpulan: harga jual, jenis kertas, jumlah oplag ideal, tingkat penyebaran, dan tagihan ke agen; jika tidak berjalan ideal maka biaya cetak sulit ditutupi. (pengecualian bagi free mag, karena hanya menggantungkan hidup dari sponsor)

nah, fixed cost yang biasa terdiri dari gaji pegawai, listrik, kantor, dsb. kudu ditutupi oleh penghasilan dari iklan. iklan pada umumnya terbagi dua: direct dan indirect, ato bahasa betawinya langsung atau tidak langsung. direct biasanya pihak AE majalah berhubungan langsung dengan owner toko/merek. indirect berhubungan dengan pihak agency iklan (seperti mindshare, activate, dsb). dugaan gw (CMIIW), di dunia diving Indonesia, ngga ada satupun pemilik brand alat selam yang memberikan perhatian khusus untuk beriklan melalui agency karena memang Indonesia ngga dibudgetin. kalo pun ada brand tertentu beriklan, biasanya sekaligus dengan iklan dive shopnya, dan ini terkait dengan jenis iklan direct. salah satu ciri umum iklan direct adalah harganya yang jauh di bawah harga iklan indirect. so, singkat kata, kalo iklan tekor ya fixed cost tiap bulan harus nombok. kalo ternyata napasnya masih cukup untuk hidup, biasanya yang pertama jadi korban adalah kesejahteraan pegawai/wartawan.

cara umum yang biasa dilakukan penerbit untuk menambal biaya, mencari donatur yang kurang paham dunia media. dan secara umum, bagi yang punya duit dan kebetulan hobi di bidang yang dibahas majalah tersebut, ada nilai prestis tersendiri jika memiliki sebuah majalah. begitu ditawari proposal yang udah dipoles kanan kiri, ngga mikir langsung bikin komitmen dan mulai bakar duit.

dan terakhir soal isi. mo bikin majalah apapun, sepanjang ada pembaca yang cukup, CONTENT IS THE KING. penyakit utama para penerbit majalah baru adalah, membuat isi majalah sesuai yang mereka mau. dan mereka cukup pede bahwa pasar menerima. juga ada kecenderungan saat ini, sekalipun media hobi/spesial seperti diving atau otomotif, membawa konten ke arah lifestyle (terutama yang freemag). ngga sepenuhnya salah, secara mereka berharap dengan lifestyle lebih menjual untuk iklan, namun jangan berharap banyak pada pembaca. khusus untuk majalah spesialis, konten lifestyle kurang pas dengan pembaca di Indonesia. namun mencari wartawan bidang spesialis yang mampu menulis non-lifestyle di Indonesia bagi mencari jarum di kepulauan seribu.

kalo konten ngga menarik, ya jelas jumlah orang yang baca juga kecil, kalo jumlah yang baca kecil boro-boro bisa nutup biaya cetak. mo kibulin pengiklan dengan ngaku pembaca majalah kita tinggi? kalo agency punya riset sendiri, kalo owner ya otak dagangnya lebih canggih daripada AE tuh majalah. kalo duit seret, ya wartawan ngga bisa berharap gaji baik, kalo gaji pas2an gimana berharap mo nulis yang bener, dsb dsb, balik lagi ke awal....dan so on.

btw, jika ada kurang lebih 3000 pembaca majalah diving tiap bulannya di indonesia, tanpa iklan pun gw yakin majalah tentang diving bisa jalan, asal dikelola oleh pihak yang berkompeten secara profesional.


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 6 posts ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 2 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to: