It is currently Tue Oct 24, 2017 3:55 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 61 posts ]  Go to page 1, 2, 3, 4, 5  Next
Author Message
 Post subject: QUANTITY ..... or ...... QUALITY ...... ???
PostPosted: Tue Jun 22, 2010 7:43 pm 
Offline

Joined: Sat Mar 20, 2010 7:31 pm
Posts: 222
Location: Jakarta Selatan
Quantity or Quality ….. ???

Mau nanya aja.
Tidak bermaksud apa2, hanya ingin tahu & agar bisa mendapat sedikit gambaran sebenarnya apa yang dicari dari kegiatan menyelam ini. Di atas dua pilihan di bawah tentu pasti untuk menyalurkan hobi dan menambah teman :)

backgroundnya begini ...

Saya pernah dengar ada beberapa penyelam yang dengan bangganya mengatakan bahwa dia telah menyelam lebih dari 100…500… bahkan > 1000 dives !!!

Melihat angkanya sih memang tinggi...

Namun, kalo denger ceritanya sih menyelammnya seringnya di P.1000, Merak
Tapi dia belum melihat the real paradise on earth : Raja Ampat dan Wakatobi.

Yang jadi pertanyaan saya adalah anda akan memilih mana:

A. Log dive tinggi tapi nyelamnya hanya di P.1000 or Merak

B. Log cuma belasan ( < 20 ) tapi sudah menyelam di Raja Ampat, Wakatobi, Bunaken & Tulamben


A or B
???

Salam


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Jun 22, 2010 8:43 pm 
Offline

Joined: Tue Jan 19, 2010 10:57 pm
Posts: 64
kalau nyelamnya udah di Raja Ampat + Wakatobi rasanya sih tidak mungkin log baru <20.

Untuk bisa diving di Raja Ampat saja, kalau tidak salah, minimal log harus 25. Dan kalau sudah di sana, ya pasti divingnya lebih dari 15 kali ya, hehehe. Saya saja dapat 21 kali selama 7 hari.

IMHO, jumlah dive membuat kita akan lebih menguasai diving dan jadi lebih menikmati.

Sementara jumlah site yang dikunjungi itu memperkaya khazanah kita tentang ragam bawah laut yang ada di berbagai lokasi.

Jadi ini dua aspek berbeda buat saya pribadi.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Jun 22, 2010 10:00 pm 
Offline

Joined: Tue Mar 20, 2007 5:58 pm
Posts: 1052
hehehe.. ternyata ada yang punya pemikiran sama dengan saya. kebetulan saya sedang nulis membahas soal ini, tapi karena kesibukan saya artikelnya belum jadi sampe sekarang (alesan klasik hehehe..)

saya coba angkat kenyataan yang ada seperti ini:

1. ada diver yang log nya sudah ratusan (sebut lah antara 200-300 log) tapi divingnya masih amburadul. bouyancy jelek, pengetahuan teori diving parah, pengetahuan equipment nyaris nol dsb-dsb.

2. ada diver yang log nya masih puluhan (sebut lah dibawah 50 log) tapi sudah diving di hampir semua top dive destination. sayang sekali si diver ini tau nya cuman nemo sama hiu doang.. diajak ngomong soal nudibranch, eh dia bengong.. diajak ngobrol soal pigmy seahorse dia melongo..

3. ada diver yang 'overkill' dengan alat-alat diving yang kelas "top of the top", tapi pasang BCD ke tangki aja kebalik, baca NDL di dive computer nggak ngerti & parahnya nggak tau kalo 'no fly time' itu adalah 24 jam setelah diving.

4. ada diver yang 'pelit' dengan membeli alat-alat diving yang nggak jelas kualitasnya & cenderung cari barang yang super-duper murah tanpa peduli safety sama sekali. yang penting udara keluar dari 1st stage dia sudah happy..

5. ada diver yang model kucing, alias punya 9 nyawa.. maunya nyerempet bahaya melulu.. nembus 70 meter dengan single tank, tapi pengetahuannya baru open water. maunya mainan di arus tipe 'washing machine' terus..

6. ada diver yang model 'paman gober', yang maunya trip serba murah.. tangki diisi tukang tambal ban juga dia oke-oke aja. sewa alat diving yang sudah tambal sulam hayuk wae.. sama instruktur abal-abal juga nurut, yang penting sertifikat keluar.

7. ada diver yang tipe 'donald trump'.. maunya serba ekslusif, trip gak boleh gabung sama orang lain kecuali bareng tukang jilatnya. gak mau kenal & ngobrol sama diver lain. pokoknya laut dia yang punya deh..

udah ah, angka keberuntungan saya 7 soalnya hahaha.. nah, 7 tipe karakter diver yang saya sebut itu benar-benar ada & itu hasil dari 'pengamatan' saya selama ini.

monggo silahkan jadi bahan ngobrol & mudah-mudahan jadi masukan untuk kita bersama. tolong dibantu doa supaya artikel saya cepet jadi. semoga om bluefx & om rendra nggak sering nyulik saya sepulang dari kantor, supaya masih ada waktu untuk bisa ngetik *hahaha.. fitnah banget..*

salam,


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Jun 22, 2010 10:19 pm 
Offline
User avatar

Joined: Sat Sep 27, 2008 3:17 pm
Posts: 618
Location: sanur - bali
Saya setuju sama pernyataan rickypesik :)


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Jun 22, 2010 10:30 pm 
Offline

Joined: Sun May 16, 2010 12:53 am
Posts: 90
kalau dilihat dari 7 contoh divers di atas, kesannya semuanya negatif.

mudah2an newbie ini tidak menajdi salah satu dari contoh di atas...


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Jun 22, 2010 10:36 pm 
Offline

Joined: Sat May 08, 2010 11:49 pm
Posts: 62
Location: Adelaide
hantulaut wrote:
6. ada diver yang model 'paman gober', yang maunya trip serba murah.. tangki diisi tukang tambal ban juga dia oke-oke aja. sewa alat diving yang sudah tambal sulam hayuk wae.. sama instruktur abal-abal juga nurut, yang penting sertifikat keluar.


Boleh tahu mas/(other forum members) yang instruktur abal-abal itu seperti apa ya? :) dalam pikiran saya kalau seseorang sudah sampai level instruktur kualifikasinya jg sudah mencukupi menurut standar agency-nya ya?

best wishes


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Jun 22, 2010 10:54 pm 
Offline

Joined: Tue Mar 20, 2007 5:58 pm
Posts: 1052
@m0xty: belum tentu semua guru bagus kan? saya tau ada instruktur yang 'malas' ngajar, alias nyuruh divemaster untuk ngajar teori & praktek. nanti dia tinggal tandatangan sertifikat..

ada juga instruktur yang ngajarnya asal, yang penting semua teori & praktek diajarin lunas tapi gak peduli muridnya bisa apa enggak hal-hal yang diajarkan..

itu maksud sayah soal instruktur abal-abal.. kalo instruktur laba-laba ituh gurunya spiderman hehehe.. *sapiderman kalo di sunda mah..*


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Jun 22, 2010 11:00 pm 
Offline

Joined: Tue Mar 20, 2007 5:58 pm
Posts: 1052
enyong wrote:
kalau dilihat dari 7 contoh divers di atas, kesannya semuanya negatif.

mudah2an newbie ini tidak menajdi salah satu dari contoh di atas...


@enyong: itu realita yang ada diantara para diver.. seperti saya bilang, itu semuah tidak mengada-ada. kondisi itu sayah angkat supaya jadi bahan diskusi kita disini.

buat saya jumlah dive log vs banyaknya lokasi yang sudah diselami TIDAK menjadikan seorang diver menjadi CAKAP atau istilah enggris nya "mastering the skill". yang paling IDEAL adalah ketika si diver itu rajin me 'review' apa yang kurang dari dirinya & nggak pernah berhenti belajar. caranya banyak, nanti kita bahas sama-sama sejalan dengan mengalirnya diskusi ini.

banyak loh diver yang nggak peduli mengenai skill nya & gak mau belajar lagi setelah dapet sertifikat. ada juga diver yang hanya ngejar sertifikat setinggi-tingginya. hasilnya? nol besar..

ayo silahkan dilanjut ngobrolnya..


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Jun 22, 2010 11:03 pm 
Offline

Joined: Thu Aug 06, 2009 3:03 am
Posts: 1022
Location: Gili Trawangan
m0xty wrote:
hantulaut wrote:
6. ada diver yang model 'paman gober', yang maunya trip serba murah.. tangki diisi tukang tambal ban juga dia oke-oke aja. sewa alat diving yang sudah tambal sulam hayuk wae.. sama instruktur abal-abal juga nurut, yang penting sertifikat keluar.


Boleh tahu mas/(other forum members) yang instruktur abal-abal itu seperti apa ya? :) dalam pikiran saya kalau seseorang sudah sampai level instruktur kualifikasinya jg sudah mencukupi menurut standar agency-nya ya?

best wishes


kalau menurut saya instruktur adalah panutan pertama kita pas kita diving, ya seperti pepatang guru kencing berdiri murid kencing di wc kan mas..jadi kalau bagi saya pemilihan instruktur sangat penting bukan hanya tempat diving yang terkenal saja seperti bali,bunaken,raja ampat yang akan memberikan instruktur yang baik saja loh...

buat saya kriteria yang baik sih
1. bisa mengajar dengan baik dan memperhatikan muridnya
2. ilmu dan log yang sudah banyak ( diatas 200 lah )kalau dia aja baru 50 masa kita blajar dr orang baru juga.
3. ketaatan terhadap agencynya

karena menurut saya (untuk PADI) setelah seseorang lulus IDC maka dia dapat menjadi instruktur diving dan mengeluarkan license sendiri tanpa diawasi oleh dive center pun. mangkanya banyak freelance instruktur kan. jadi apabila dia ngajar semaunya dia dan dia dengan tidak bertanggung jawab memberikan kelulusan kan berarti dia kurang bagus (menurut saya).

saya pernah ketemu instr yang mau tanda tangan PIC hanya dengan ngajar 1 kali di kolam saja. saya kasihan dengan muridnya saja sih saat itu.

dengan system agency yang dapat memberikan program Go Pro maka seorang yg belom pernah diving dapat jadi instruktur dengan ikutan course selama 2 bulan dari open water - instruktur. nah instruktur yang dihasilkan perlu dipertanyakan kualitasnya kan, bukan berarti jelek tetapi kalau bs milih yang sdh lama mending milih yang lama deh saya.

wah jadi yang sering nyulik namanya itu ya mas hantu?hahahah


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Jun 22, 2010 11:28 pm 
Offline

Joined: Thu Aug 06, 2009 3:03 am
Posts: 1022
Location: Gili Trawangan
apalagi skr kan materi tersedia dalam bentuk dvd jadi kita tinggal ntn aja,nah ini bisa bikin instruktur makin malas dalam mengajar dan hanya suruh ntn dvd aja tanpa ngasih atau menjelaskan materinya kan.

saya sepakat dengan pernyataan log dan dive site gak jaminan dia jago.
karena menurut saya diving bukan maslaah jago jagoan. dan menurut saya hanya kita pribadi yang bs bertanggung jawab sama diri kita pas berada di laut. mngkanya dibuat liability release kan supaya tidak ada pihak yang disalahkan.

dan dive site sangat dipengaruhi dengan faktor 'KEUANGAN". tarohlah seorang yang diving dan skillnya tingg serta log ribuan karena dia seorang dive guide, mungkin belom pernah diving di daerah lain selain di laut depan kampungnya. hal ini byk kita temui misalnya guide yang ada di p pramuka mungkin blom pernah diving di dive spot lain apalagi di dive spot kelas dunia karena gak ada dana. nah ini bukan berarti dia tidak memiliki skill dan kemampuan diving yang memadai kan.

dan kebanyakan local guide yang ada juga mungkin sertifikasinya bukan Divemaster karena keterbatasan dana. jadi sertifikasi juga bukan jaminan kan.

silahkan dilanjut


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Jun 22, 2010 11:48 pm 
Offline
User avatar

Joined: Sat Mar 27, 2010 9:43 am
Posts: 5
hantulaut wrote:
hehehe.. ternyata ada yang punya pemikiran sama dengan saya. kebetulan saya sedang nulis membahas soal ini, tapi karena kesibukan saya artikelnya belum jadi sampe sekarang (alesan klasik hehehe..)

saya coba angkat kenyataan yang ada seperti ini:

1. ada diver yang log nya sudah ratusan (sebut lah antara 200-300 log) tapi divingnya masih amburadul. bouyancy jelek, pengetahuan teori diving parah, pengetahuan equipment nyaris nol dsb-dsb.

2. ada diver yang log nya masih puluhan (sebut lah dibawah 50 log) tapi sudah diving di hampir semua top dive destination. sayang sekali si diver ini tau nya cuman nemo sama hiu doang.. diajak ngomong soal nudibranch, eh dia bengong.. diajak ngobrol soal pigmy seahorse dia melongo..

3. ada diver yang 'overkill' dengan alat-alat diving yang kelas "top of the top", tapi pasang BCD ke tangki aja kebalik, baca NDL di dive computer nggak ngerti & parahnya nggak tau kalo 'no fly time' itu adalah 24 jam setelah diving.

4. ada diver yang 'pelit' dengan membeli alat-alat diving yang nggak jelas kualitasnya & cenderung cari barang yang super-duper murah tanpa peduli safety sama sekali. yang penting udara keluar dari 1st stage dia sudah happy..

5. ada diver yang model kucing, alias punya 9 nyawa.. maunya nyerempet bahaya melulu.. nembus 70 meter dengan single tank, tapi pengetahuannya baru open water. maunya mainan di arus tipe 'washing machine' terus..

6. ada diver yang model 'paman gober', yang maunya trip serba murah.. tangki diisi tukang tambal ban juga dia oke-oke aja. sewa alat diving yang sudah tambal sulam hayuk wae.. sama instruktur abal-abal juga nurut, yang penting sertifikat keluar.

7. ada diver yang tipe 'donald trump'.. maunya serba ekslusif, trip gak boleh gabung sama orang lain kecuali bareng tukang jilatnya. gak mau kenal & ngobrol sama diver lain. pokoknya laut dia yang punya deh..

udah ah, angka keberuntungan saya 7 soalnya hahaha.. nah, 7 tipe karakter diver yang saya sebut itu benar-benar ada & itu hasil dari 'pengamatan' saya selama ini.

monggo silahkan jadi bahan ngobrol & mudah-mudahan jadi masukan untuk kita bersama. tolong dibantu doa supaya artikel saya cepet jadi. semoga om bluefx & om rendra nggak sering nyulik saya sepulang dari kantor, supaya masih ada waktu untuk bisa ngetik *hahaha.. fitnah banget..*

salam,


Tumben om ada no 4??? biasanya tabu tuh pake angka 4....hehehe :lol: :lol:


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Jun 23, 2010 12:16 am 
Offline

Joined: Sat Mar 20, 2010 7:31 pm
Posts: 222
Location: Jakarta Selatan
hantulaut wrote:
buat saya jumlah dive log vs banyaknya lokasi yang sudah diselami TIDAK menjadikan seorang diver menjadi CAKAP atau istilah enggris nya "mastering the skill". yang paling IDEAL adalah ketika si diver itu rajin me 'review' apa yang kurang dari dirinya & nggak pernah berhenti belajar. caranya banyak, nanti kita bahas sama-sama sejalan dengan mengalirnya diskusi ini.

banyak loh diver yang nggak peduli mengenai skill nya & gak mau belajar lagi setelah dapet sertifikat. ada juga diver yang hanya ngejar sertifikat setinggi-tingginya. hasilnya? nol besar..

ayo silahkan dilanjut ngobrolnya..


That's the point !
Setuju sekali


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Jun 23, 2010 12:49 am 
Offline

Joined: Sat Mar 20, 2010 7:31 pm
Posts: 222
Location: Jakarta Selatan
rickypesik wrote:
kalau nyelamnya udah di Raja Ampat + Wakatobi rasanya sih tidak mungkin log baru <20.

Untuk bisa diving di Raja Ampat saja, kalau tidak salah, minimal log harus 25. Dan kalau sudah di sana, ya pasti divingnya lebih dari 15 kali ya, hehehe. Saya saja dapat 21 kali selama 7 hari.

IMHO, jumlah dive membuat kita akan lebih menguasai diving dan jadi lebih menikmati.

Sementara jumlah site yang dikunjungi itu memperkaya khazanah kita tentang ragam bawah laut yang ada di berbagai lokasi.

Jadi ini dua aspek berbeda buat saya pribadi.


Dari pengalaman saya yg masih dangkal (<20 log dives) ini kebetulan saya pernah free dive dan menyelam di keempat lokasi2 tsb

Saya memang jarang menyelam krn bentrok dgn hobi yg lain...fishing :) ..., pas baru dpt sertifikat OW PADI kemudian kebetulan mendapatkan tugas kerja (hanya bbrp hari) di lokasi2 tsb.

Sehari sebelum pulang ke Jakarta saya biasanya menyempatkan 2 atau 3 dives ... kan sayang kalo udah di sana tapi gak menikmati marine biodiversity-nya ...

salam


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Jun 23, 2010 6:56 am 
Offline
User avatar

Joined: Tue Sep 15, 2009 3:15 am
Posts: 1396
Location: Katameya Heights
Menjawab pertanyaan OP.
Saya nggak bisa pilih A atau B. Buat saya/kami sekleuarga, quantity ataupun lokasi yang kita kunjungi bukan untuk dibangga2kan dan bukan sesuatu yang harus dipilih secara terpisah.
Kami cuma ingin menikmati ke indahan alam bawah laut yang tidak kita jumpai di topside, mensyukuri ciptaan Nya, relax dari kesibukan rutin sehari-hari, melakukan aktifitas bareng sekeluarga; education, sekaligus untuk meningkatkan kualitas hub. diantara kita.
Setiap kali diving kita sekeluarga selalu berdiskusi apa yang kita jumpai, coba mengidentifikasinya, memahami tabiatnya; katakanlah pelajaran marine biology yang menyenangkan.
Anak-2 juga selalu saya minta untuk membuat laporan/report dan mengupdate blognya.
Jadi diving juga merupakan sarana pendidikan yang baik.

Karena jadi hobby, mau-tidak mau quantity akan meningkat karena kita begitu menyukai aktifitas ini.
Dengan meningkatnya quantity, diharapkan skill juga akan meningkat meskipun peningkataanya tidak sama utk setiap orang.
Dengan meningkatnya skill, tentunya akan lebih bisa menikmati diving tsb.
Tidak dapat dipungkiri keinginan untuk mengunjungi lokasi diving terbaik. Namun demikian kita hendaknya juga cukup tahu diri dan tidak memaksakan untuk melakukan sesuatu diluar kemampuan.
Diving di tempat yang sama - berulang-ulang juga tidak ada salahnya. Saya sendiri sangat menikmati beberapa lokasi diving - misalnya Tulamben - yang telah kami kunjungi berulang kali dan nggak pernah bosan.
Jadi bisa sering diving ya bersyukur, bisa mengunjungi lokasi2 top ya bersyukur.
Yang terpenting - safety is always no. 1 priority dan juga concern terhadap lingkungan yang kita kunjungi.


Mengenai Instruktur - kebetulan di keluarga ada 4 divers; dan saya mengalami / melihat kualitas instruktur memang bervariasi - saya pikir hal sama seperti profesi lainnya. Istri saya kurang beruntung, karena mendapat instruktur - yang mohon maaf - amburadul, dan nggak punya safety mindset. Pengen cepat2 menyelesaikan course.
Namun saya pribadi dan anak2 bersyukur karena mendapat instruktur yang berdedikasi tinggi.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Jun 23, 2010 8:48 am 
Offline
User avatar

Joined: Fri Aug 25, 2006 10:33 am
Posts: 1564
yang pasti sih akan lebih nyaman bergaul sama diver yang jujur, tidak sombong, dan rajin menabung.. hehe

_________________
Hernando Alkausar
--
www.hamueco.com/diving
+62-812-218-NNDO


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 61 posts ]  Go to page 1, 2, 3, 4, 5  Next

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to: