It is currently Mon Dec 11, 2017 11:00 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 100 posts ]  Go to page Previous  1 ... 3, 4, 5, 6, 7  Next
Author Message
 Post subject:
PostPosted: Fri Aug 27, 2010 10:52 am 
Offline
User avatar

Joined: Sat Sep 27, 2008 3:17 pm
Posts: 618
Location: sanur - bali
Ize wrote:
Saya kalo impor alat selam biasanya kena 30-40 % pajak impor. Tp setelah pajak pun, biasanya (tp tidak selalu) tetep lbh murah daripada beli di Jakarta, jadinya sy lbh sering impor deh :)


Setuju banget, kl ngebandingin hrg lokal sama scubastore (+tax dll) msh ttp lebih murah import. Toko lokal overheadnya terlalu tinggi kali ya? atau ngambil provitnya ketinggian?


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Aug 30, 2010 4:58 am 
Offline

Joined: Fri Mar 20, 2009 11:39 pm
Posts: 913
Location: Jakarta
Saya bantuin jawab soal beda harga deh.

Pasaran alat selam ( alat tok, bukan jasa nya ) di dunia sekitar US$1 miliar atau 9 trilliun rupiah per tahun. Take and give a 1 atau 2 ratus juta US$ deh. Eropa adalah market terbesar di dunia, bukan USA yang dimana market USA sekitar US$360 juta per tahun ( Rp 3.24 Trilliun rupiah ) untuk 2009. Asia pasaran terkecil, dan Jepang pasaran terbaik di Asia yang relatif kecil dalam skala global.

Peraturan penjual/toko untuk menjual sesuai terms and condition produsen , yaitu dalam braket harga suggested retail atau minimum retail price sesuai pabrik hanya bisa di enforce di USA dan Asia, tetapi tidak bisa ( karena hukum ) di enforce di European Union.
Bagi 2 merek besar, setau saya penjualan on-line tidak boleh dilakukan di USA dan Asia, kecuali di Eropa, balik lagi karena hukum di Eropa.

Lalu ada skala bisnis yang tidak mungkin toko/distributor di Asia atau di USA pun yang bisa lawan volume sales di Eropa. Maka yang kuat akan semakin kuat dan yang lemah akan tetap lemah dan bisa makin lemah dalam bisnis global seperti saat ini.

Outlet kelas ScubaStore/Dive Inn dengan mudah bisa menjual alat selam senilai US$ 5 - 8 juta setahun atau mungkin lebih ( Rp 45 - 75 milliar milliar coy ). Jika di bandingkan dengan toko di Asia yang andaikan punya sales US$300,000 ( Rp 2.7 milliar ) per tahun deh, maka ini 1:16 sampai 1:26.
Dealer sekelas ScubaStore dengan daya beli sebesar itu, pasti harga belinya beda atau minimal payment terms nya sangat lunak dibanding dengan dealer Asia yang ukuran nya imut-imut. Economy of scale memang powerful. Sama dengan Carefour , harga beli barang mereka bisa lebih murah dari pasar traditional sebab skala nya jubilah gede banget dan boleh dapat hutang 60 hari pula dari produsen. Its all about economics, size rules.

Apa yang ditawarkan oleh Carefour ? Harga acceptable. Gedung bersih, tak perlu tawar-tawar dan kualitas penjagaan produk makanan relatif bagus karena kulkas mereka besar dan turnover mereka besar = stock lebih segar.

Semakin maju negaranya, credit makin mudah sebab hukum melindungi creditor dan aturan main nya jelas secara hukum. Ini juga salah satu sebab ScubaStore bisa besar dari segi kemudahan financing.

Lalu, kebanyakan alat selam pabrik nya di Eropa, khususnya regulator dan sebagian besar fin. Maka modal barang bagi retailer di Eropa sudah untung di shipping cost yang jauh lebih murah.

Bagi merek alat selam yang punya wakil di Asia Pacific, akan ada biaya gudang, biaya kirim Eropa ke Asia, biaya staff dan segala macam biaya lain untuk distribusi level 2 ini. Ini akan makan 15-20% dari cost of goods, tergantung produk apa. Lalu policy semua perwakilan merek alat selam di Asia Pacific pastinya bayar dulu baru barang di kirim dan sebagian produk malah harus deposit awal sebelum production di mulai, ini istilah nya Drop Shipment.

Dari uang masuk ke account wakil di Asia Pacific sampai barang tiba di let say Indonesia lah, bisa 45 - 60 hari. Penjualan dan bla bla bla, total turn around time akan perlu sekitar 120 hari dari uang jadi barang dan barang jadi uang lagi. Jika cost of money dalam rupiah dan tanpa hedging segala, interest bearing money 8% sudah hilang disini. Jadi jangan heran jika dealer/toko di Asia sudah lebih mahal approx 28% modal barangnya nya bagi negara yang lending rate nya tidak rendah.

Lalu ada shipping cost dari gudang Asia Pacific ke retailer di Indonesia atau di Asia.
Cilakanya pajak adalah berdasarkan CIF value. Ini artinya pajak akan berhitung modal di titik pengiriman + shipping. Maka kemudahan dengan adanya perwakilan di Asia Pacific bagi merek tertentu, akan ada penalty pajak lebih , sebab landed cost of goods di gudang di Asia Pacific mereka sudah termasuk biaya distribusi level 2, pasti lebih mahal daripada harga CIF di pabrik produsen di Eropa. Bagi negara bebas pajak seperti Singapura ( GST bisa refund di Airport ) dan Hong Kong, so pasti modalnya tuh toko juga bisa X% lebih murah ketimbang negara Asia lain yang ada X% pajak nya.

Contoh gampang adalah jika alat selam di Eropa ( karena pabrik banyak nya di Eropa ) harganya pada distribusi level 1 nya adalah US$10, maka di perwakilan di Asia Pacific menjadi US$12. Jika pajak di negara tujuan andaikata 20% maka US$12 x 20% = US$2.4, total jadi US$12 + US$2.4 = US$14.4 dan di tambah pajak 20% dari shipping cost karena pola pajak berdasarkan CIF ( cost + insurance + freight ) tersebut. Jika shipping cost dan insurance adalah 10% maka final nya barang US$10 menjadi ( 12 + 10% ) x 20% = US$15.84 di negara Asia yang pajaknya 20%.

Jika toko mengambil average margin 25%, artinya dari barang yang modal nya US$12 dari wakil di Asia Pacific, setelah di kirim dan kena pajak menjadi lah US$15.84 harga modal nya, maka harga di retail menjadi US$19.80 ( +25% ).

Nah, untuk ukuran Scubastore yang jika bisa main di margin 10% ajah deh ( anggap 10% masih single digit deh ), karena barang tersebut modalnya lebih murah di Eropa karena tidak ada biaya distribusi level 2 seperti di Asia Pacific, maka barang US$10 tambah 10% margin, bisa di jual US$11 di on-line store mereka. Beda sekali kan harga retail US$11 dengan US$19.80 di negara Asia yang ada 20% pajak ? VAT Eropa tidak berlaku untuk produk yang di expor ke luar dari EU countries, ini jadi selling point penting bagi ScubaStore yang kalo enggak salah di Spain pusat nya, tapi gudangnya bisa berada di negara Eropa manapun.

Jika cost of money toko Asia tersebut adalah 8% dari modal untuk turn around 120 hari ( atau 2% perbulan ) , ujung2 nya toko cuma dapat berapa ? 25% - 8% = 17% untuk kerja 4 bulan. Per bulan cuma 4.25% ? Income lain nya dari mana ? Yah, dari mengajar selam, lakukan trip cari uang receh dan apapun kesempatan seputar bisnis selam untuk cari uang yang halal.

Sebab inilah kita akan lebih banyak lihat toko kamera ketimbang toko alat selam yang tumbuh berjamur dimana-mana. Kenapa ? Sebab kamera walaupun margin tipis, 5% atau di bawah 5%, sebulan bisa jual dengan mudah toko yang cukup ramai sekitar Rp 100-200 juta nilai kamera per merek. Distributor lokal kasih nafas para dealer payment terms 30 hari. Transaksi tidak sampai 30 hari tuntas sebab kamera harga Rp1.5 juta adalah fast turnover kayak kacang goreng. Jadi modal X bisa di gulung-gulung jadi 4X selama sebulan. Karena kamera demand di Indonesia termasuk besar, hargapun bisa bersaing dengan global market pada umumnya, sebab distributor bisa impor dalam ukuran beberapa container direct dari produsen.

Tetapi format distribusi level 2 ( alat diving ) ini via perwakilan merek itu alat selam di Asia Pacific cocok untuk retailer kecil di Asia, kecil artinya yang tidak bisa beli barang 1 container 20 feet per order. Kalo alat selam 1 container 20 feet, wah entah berapa value nya.

Kebanyakan di Asia, kecuali di beberapa dealer merek tertentu di negara seperti Korea ( kaya ), Jepang
( kaya ) dan Thailand ( karena 14 juta turis ) , pembelian alat selam sebanyak 1 container per order bagaikan mimpi basah, di idam-idamkan tetapi never come true.

Shipping melalui container itu murah banget per kg nya dari Eropa ke Asia, yang mahal adalah handling dan sewa gudang dan man power di perwakilan Asia Pacific yang di perlukan untuk pilih-pilih barang bagi sekian banyak dealer kecil di berbagai negara Asia.

Disini retailer di Asia keteter sebab tidak mampu beli alat selam satu full container langsung dari pabrik di Eropa dan mau tak mau kena biaya distribusi level 2 yang bisa mencapai 20%. Market demand tidak bisa justify pembelian sebesar ini. Sekali lagi retailer Asia kalah effisien dengan ukuran king kong retailer on-line di Eropa.

Lalu satu hal yang penting bagi pedagang, adalah credit terms.
Skala retailer king kong Eropa bisa dapat credit 30 hari dari pabrik/produsen. Karena mereka besar dan market prediction nya sudah konstan, mereka bisa siapkan minimum stok per 20-30 hari turn over. Mereka bisa order barang per 1-2 minggu pun dari produsen. Jadi dengan modal US$0.3 juta mereka bisa pat gulipat 12-20x setahun untuk dapat sales 5-6 juta US$ pertahun. Di Asia jika ada retailer/distributor menjual US$5-6 jt setahun, dana nya minimal perlu US$ 2 juta. Semakin banyak lapisan embel-embel kesulitan impor di negara tersebut, semakin besar lagi modal nya sang toko/retailer ynag jadi tidak produktif sebab waktu impor akan molor makin lama. Bukan soal cost of money saja disini yang jadi problem, yang paling sulit adalah jaga posisi stok supaya memadai. Tidak ada pedagang yang akan beli lagi barang HANYA setelah semua 100% habis, pasti ada minimum amount yang harus selalu di jaga sebagai stok. Ujung-ujung nya semua perlu biaya sebab impor makan waktu, bunga pinjaman dan bla bla bla.

Mau punya toko yang lengkap ?
BCD ada berapa ukuran ?
Fins dan booties ada berapa ukuran dan warna ?
Wetsuit ada berapa ukuran ?
Dari segi ukuran saja , satu toko harus punya minimal 4+ item per model kayaknya.
Dari segi warna, berapa item per model harus di stok ?

Karena cost of money murah dibantu credit terms mantaf dari produsen, delivery super cepat, sales besar, mereka on-line retailer besar di Eropa bisa main margin di single digit dan pada akhir tahun tetap untung mereka lebih besar secara $$ dari retailer Asia karena skala nya retailer on-line Eropa yang ukuran king kong minimal 16 - 26x lebih besar dari retailer Asia.

Yang terakhir adalah tidak ada nya toko fisik dan cuma gudang, biaya on-line store lebih kecil dibanding kemampuan handling sales nya dengan toko fisik. Staff sedikit dan sewa tempat tidak perlu di lokasi strategis/mahal. Mau di lokasi low class pun tak masaalah sebab tidak ada retailing. Retailing fisik adalah biaya tinggi dan buat kepala pusing. Lalu dengan re-stocking yang bisa di lakukan per 2 minggu oleh dealer on-line Eropa, gudang mereka tidak perlu besar sebab turnover cepat. Jadi sangat menguntungkan bahwa sebuah usaha dengan turn-over 20x lipat lebih besar dari retailer Asia, tapi ukuran gudang cuma perlu sama besar. Sewa gudang adalah biaya yang tidak murah juga. Di sini dekatnya posisi retailer dengan produsen adalah satu keunggulan yang nyata dari segi biaya logistik.

Jadi diver lokal coba-coba barang di toko di Indonesia, mana BCD yang muat dan wetsuit yang muat, regulator yang well built dan lain-lain, lalu beli di ScubaStore, ini irit biaya besar bagi Scubastore dan toko lokal yang gigit jari.

Jika Scubastore dengan turn-over besar let say US$5-6 juta setahun ajah deh dan margin 10%, maka barang US$500 mereka bisa jual US$550. Lalu kita import sendiri via DHL atau UPS. Karena toko besar bisa dapat discount 50% dari DHL dan UPS, maka US$20 biaya kirim ( 2kg shipping weight ) untuk regulator seharga US$550 sangat lah masuk akal atau US$10 per kg yang juga tidak murah sangat sebenarnya, tapi masih acceptable. Maka untuk barang tertertentu yang ringan dan mahal seperti regulator high end dan computer high end, beli dari Scubastore mungkin bisa lebih murah jatuh nya setelah pajak pun. Jika yang di beli adalah fin dan masker, pembeli bisa malah rugi saat bayar semua biaya setiba di negara tujuan kayak Indonesia.

Jika beli di Scubastore dan di kirimnya ke Singapura, kena GST 7.5% doank dan dibawah lah oleh sanak keluarga ke Indonesia. Ini bukan comparison apple to apple, ini adalah meringakan biaya tetapi ada bantuan jasa keluarga atau teman yang tidak kenakan ke sang pembeli biaya nya. Jika akhirnya tetap total cost lebih murah, untung lah si pembeli. Sebetulnya pemegang merek lokal bisa jual murah ke pembeli lokal, tetapi buyer self collect di Eropa barang nya .... ha ha ha.


BERSAMBUNG......

_________________
Used to be dumb but no more....


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Aug 30, 2010 5:09 am 
Offline

Joined: Fri Mar 20, 2009 11:39 pm
Posts: 913
Location: Jakarta
Wakil merek besar alat selam di Indonesia perlu melakukan beberapa obligasi, tergantung merek yang di pegang :

01. Harus ikut dive show seperti Deep indonesia.
02. Harus pasang iklan lokal
03. Harus adakan technical seminar supaya teknisi selalu updated dan semua client besar seperti resort dan professional user seperti instructor akan di training setiap tahun di 3 lokasi. Jakarta, Manado dan Bali. Minimal 2 lokasi, yaitu Bali dan Jakarta.


Deep Indonesia sewa tempat nya tidak murah. 6 x 6 meter bisa 80an juta sebelum dekorasi dan biaya lain. Hilang lah minimal 100-120 jt per tahun bagi yang punya booth 6 x 6 meter per.

Iklan setahun 20-30 juta merem dah, tergantung berapa besar ukuran di yellow pages dan majalah mana dan berapa sering.

Technical Seminar didukung oleh produsen tenaga trampilnya , tetapi biaya lokal di subsidi oleh wakil lokal tuh merek. Participant bayar sedikit. Setahun ini bisa makan Rp 30-40 jt biaya bagi pemegang merek.

Jadi sebulan sudah ada biaya obligasi sebagai pemegang merek, minimal ( 120 + 30 +40 ) / 12 = +-16jt tanpa di hitung operasional toko, staff dan lain-lain.



Apapun promosi dan produk fisik yang bisa di adakan di Indonesia untuk diver bisa beli, pegang2 kek, coba2 kek atau apa pun yang memperbolehkan diver "merasai dan melihat dengan nyata " produk ini, semua adalah biaya pemegang merek lokal. Jika pembelian merek tersebut di lakukan di Scubastore, yang rugi adalah toko pemegang merek tersebut di Indonesia.

Secara sales policy, Scubastore tidak boleh menjual beberapa merek tertentu keluar dari Eropa. Ini adalah commitment mereka ke produsen. Apakah ini di enforce oleh Scubastore, entah lah.

Produsen juga sadar bahwa dengan skala dagang ScubaStore dan 2 retailer on-line besar lain nya di Eropa, jika dealer mereka di USA atau Asia kena apes nya, mereka bisa ke hilangan dealer di luar negara Eropa. Makanya bagi merek tertentu Scubastore hanya boleh kirim/export ke negara European Union doank. Ini merupakan ke adilan bagi market yang tidak bisa jual dalam volume besar dan untuk menjaga sales policy merek tertentu bahwa penjualan tidak boleh dilakukan on-line ( di USA dan Asia ) sebab harus ada toko fisik dan tenaga trampil yang bisa adakan produk nyata, berikan nasehat teknis dan technical after sales support.

Technical Support dan warranty adalah biaya bagi wakil merek dan ini keuntungan bagi end user alat selam ini yang beli lokal. Bagi produk tertentu dan pada merek tertentu untuk yang di beli di Eropa, claim warranty hanya bisa di lakukan ke Eropa, bukan global.

Setiap tindakan promosi supaya merek X ada nama/beken di Indonesia, adalah biaya wakil merek lokal dan ini harus di kompensasi dengan penjualan ke customer lokal. Tanpa penjualan tak ada untung dan tanpa untung bisnis mandek. Bagi yang sudah diving lebih dari 15 tahun, pasti mereka tau merek alat selam apa saja yang sudah sempat nongol lalu hilang teggelam di Indonesia. Ini tidak heran sebab memang market Indonesia sangat kecil, cuma 10% dari market Thailand pun. Jika total transaksi tidak tercapai di angka yang bisa support existence merek tersebut di Indonesia, hanya ada 2 pilihan. Rugi terus atau stop jualan merek tersebut.

Jadi apakah bisa lebih ekomonis dengan beli dari ScubaStore ?, pasti bisa selama beda harganya dan segala macam biaya lain masih tercover, ini dari segi $$ nya.

Soal warranty bagaimana ?
Baca FAQ setiap merek produk yang anda ingin beli di website mereka di Eropa, jangan yang website USA atau Asia Pacific sebab policy nya beda. Jika warranty anda di tolak di Asia, jangan ngambek, read the fine print. Jika anda di kenakan surcharge tambahan saat annual service karena ini produk tidak beli di sumber lokal, juga jangan ngambek.Tidak ada orang yang mau work for nothing. Diving industry bukan lah lembaga sosial, ini dagang.

Jika ada yang ingin beli merek yang tidak ada wakil di Indonesia, jangan gampang berfikir bahwa setiap toko akan bisa perbaiki/service nya. Regulator model dan merek tertentu perlu special tools untuk bisa di pretelin tanpa cacat, untuk bisa pasang o-ring pada posisi sulit dan benar dan beberapa komponen vital lain nya. Juga anda perlu suku cadang yang asli. Tidak akan 1 toko mau impor 1 unit repair kit tok khusus untuk regulator anda jika merek dan tipe itu tidak ada perwakilan di Indonesia. Yang umun terjadi adalah service di lakukan tanpa penggantian repair kit resmi atau sulap menyulap pakai komponen dari merek lain. Suku cadang sama kah antara merek ? ......... 99% tak sama lah yau.

Annual service resmi dengan repair kit resmi adalah pengantian semua suku cadang tanpa kompromi, sesuai panutan buku technical manual dari produsen tersebut. Tidak ada cerita masih bagus komponen X dan Y, maka tidak usah di ganti. Misi dari annual service atau service berkala per 50 atau per 100 dive ( tergantung merek ) adalah untuk memastikan bahwa semua komponen selalu akan berfungsi baik dan tidak akan rusak selama periode tersebut. Rusak di dalam air pada kedalam 30 meter adalah hal yang tidak ada satu pun produsen akan perbolehkan terjadi di alat seperti regulator. Makanya selalu produsen akan minta berbagai komponen di ganti jauh sebelum cacat akan terjadi. Ini life support equipment, bukan sepeda jengki euyy.

Lalu setiap toko level kelengkapan alat testing regulator nya beda-beda, ada yang punya test tools lengkap sesuai saran/ketentuan produsen, ada yang cuma ala kadarnya dan tuning regulator dengan cara sekedar setel intermediate pressure doank, soal cracking setting alias ease of breathing di second stage kagak bisa di set sempurna sebab tidak ada measuring tools nya. Kencangkan mur baut atau fitting di regulator saja HARUS pakai kunci torsi dan banyak toko yang tidak mau beli alat ini yang cuma sekitar Rp 3 jt doank udah merek top.

Di Indonesia service regulator sangat murah sebab toko terpaksa menilaikan labornya sangat rendah karena memang market nya belum mature dan labor rate kita memang masih relatif murah.
Di Amerika, Eropa dan negara maju lain nya, satu set regulator, octopus, gauges dan BCD hose akan kena annual service labor sekitar Rp1 juta di authorized dealer, sebelum termasuk suku cadang.
Lalu banyak toko yang policy nya hanya service merek sendiri karena memang seperti itu lah logisnya, tak mungkin kita kirim Suzuki kita ke Toyota Astra Motor toh ?

Diving yang mahal bukan lah alat nya, yang mahal adalah trip nya.
Alat beli sekali bisa tahan 500 - 1000 dive gampang. Paling fin dan wetsuit jebol dulu lah.
Jika satu dive harganya Rp 250,000 maka per 100 dive saja biaya sudah Rp 25 juta dan 1000 dive sudah 250 jt. Ini dive versi murah Pulau Sangiang dan Pulau Pramuka atau siapapun yang lokasinya bisa land based diving tanpa kapal dan tanpa perlu via jasa resort. Kalo lokasi bagus dan kudu terbang ke sana dan pake kapal, yah mahal lah per dive nya.

Pemain industri diving banyak macam, ada yang cuma dagang dan ada toko fisik tanpa berikan konstribusi nyata ke dunia pendidikan diving. Ada yang mau cuma jualan tapi tidak mau punya toko fisik. Ada yang tidak maupun punya service center yang factory approved dan dengan factory trained technician, yang penting hanya jualan. Policy produsen kan beda-beda, tergantung bobotnya merek tersebut di dunia diving sebesar apa. Semakin besar bobotnya, kriteria menjadi pemegang merek lokal nya akan semakin sulit sebab ada hal tertentu yang berurusan dengan kualitas dan after sales support sebuah life support equipment yang tidak bisa di tawar.

Sama dengan mobil kelas Mercedes Benz, untuk menjadi authorized workshop criterianya ketat sekali sebab mau sebagus apapun tuh mobil, tanpa after sales support memadai tidak bisa end user nimakti produk tersebut long term nya. Dulu sebelum Ferrari ada perwakilan di Indonesia, owner kudu terbangkan teknisi dari Singapura dan bayar mahal neh. Kan mobil kagak bisa di masukin tas dan bawa ke Singapura untuk di service/diperbaiki toh.

Kehidupan suatu perusahaan perlu $$. Makin kecil volume dagang nya, mau tak mau margin harus lebih besar untuk bisa exist sebab total profitnya tidak memadai. Memang ironis, tapi ini facts nya dagang barang atau manufacturing.






Cara kedua untuk low cost adalah kurangkan after sales support, kurangkan inventory, kurangkan promosi, kurangkan atau tiadakan training bagi teknisinya nanti soal perbaikan urusan belakangan yang penting jualan dulu, tiadakan fasilitas yang non-profitable atau yang kurang profitable seperti kolam training untuk menyelam yang dalam/design nya cocok untuk training dive, kurangkan professional dalam jajaran staff nya...contoh jangan gajih instruktur, cari yang staff biasa ajah biar murah meriah dan kurangkan tanggung jawab sosialnya di industri diving. Tanggung jawab sosial contohnya : sumbangan sosial dalam bentuk alat atau training ke non profit organization.

Bagi diver yang punya akses authorized service center di luar Indonesia yang professional jika merek alat nya tidak di wakili di Indonesia, ini no problem.

Jika diver newbie yang tidak tau apa-apa dan fokuskan pembelian alat semata-mata karena harga di luar negeri lebih murah, pandai-pandai belanja sebab regulator dan BCD cuma di jamin bagus sampai batas annual service nya atau service berkalanya, lebih dari ini jam pakainya anda merisikokan safety demi uang yang pastinya tidak worth it. Memang regulator jaman sekarang sangat bandel bisa perform 2 atau 3 kali lebih lama dari expected annual servicenya, tetapi tidak akan ada produsen yang akan perbolehkan hal ini dalam owner manual nya. Resikonya akan sangat buruk bagi mereka. Tetapi ini balik lagi adalah hak pilih si diver. It's your life, it's your call.


Diving mahal ?
Mahal adalah definisi bagi yang income nya 1X tapi main sport yang biaya nya 2X, jadi sulit jelaskan definisi mahal bagi semua orang, sebab income mereka beda-beda. Yang pasti mahal adalah sebuah tas kulit merek Hermes ato apa lah yang handbagnya bisa Rp40+ juta. Itu jelas image/brand yang di beli bukan kualitas kulitnya.

Lalu lain merek alat selam, juga lain harga, kayak mobil lah. Pilih mobil model 2000 cc, satu korea, satu jepang, satu German, pasti harganya beda. German merek A dan merek B ajah bisa beda jauh harganya.

Diving products seperti regulator bukan lah fashion goods dimana marketting image of the brand menentukan harganya. Harga barang merek X yang secara historis lebih tinggi dari merek Y dan Z dan jika ini berlaku sudah sekian lama ( puluhan tahun ) dan pasar menerimanya, ini indikator yang gampang, ini indikator kualitas, performance, inovasi, reliability dan reputasi yang lebih baik dari competitornya. Tidak ada barang yang lebih mahal dari competitornya dan tetap laku atau exist sekian lama, dan mampu tetap bertengger di posisi atas tersebut jika bukan semata-mata kepuasan pengguna yang support semua ini. Ini kan hukum pasar.

Kapan alat diving di Indonesia bisa turun harganya sampai seperti Scubastore ?
Kalo ampe rendah gitu pasti tak mungkin, kecuali pabrik alat selam pindah ke Indonesia dan jumlah pertumbuhan diver seperti di Eropa.

Kalo mau harga retail turun let say 20%, bisa ini terjadi jika ada pertumbuhan diver lokal yang mencapai sekitar 20,000 diver pertahun dan 80% beli alat dan tetap diver turis asing jumlahnya harus meningkat dengan baik/stabil setiap tahun.





Berapa sertifikasi PADI sedunia ( termasuk yang punya multiple certification ) untuk 2009 ?
Jumlah nya konon adalah +-900,000 diver.

Yang diver PADI lokal Indonesia dan recreational ( bukan staff dive shop ) berapa untuk tahun 2009 tanpa menghitung multiple certification ? Entah lah, paling top 1,200 an individu kayaknya, dari total yang konon 16,000 diver multi nasional ( termasuk yang multi-sertifikasi ) di Indonesia untuk 2009.

Berapa sertifikasi PADI di Eropa pada tahun 2009, termasuk multi-sertifikasi ? Banyak neh, banyak banget. Sekian ratus ribu. Belum lagi menghitung dive training agency lain yang juga kuat di Eropa.

Jika diver di Indonesia andaikata ada 2,000 diver baru pertahun dari semua dive agency yang ada, dan 60% beli alat selam yang senilai andaikata US$700 deh, berapa potensi pasar ? Cuma US$840,000 per tahun.

Jika di Indonesia ada total 100 dive resort/operator/LOB deh ( yang aktif ) , dan satu resort belanja 10 set per 2 tahun untuk melayani tamu asing nya. Maka ada potensi pasar dari orang asing via rental equipment di resort cuma US$ 350,000 setahun, jika pun per 2 tahun ganti alat.

Berapa total potensi pasar kira-kira ? US$1,190,000 per tahun approx. Berapa banyak resort ( owner nya banyak orang asing neh ) dan diver yang belanja di luar Indonesia, kayaknya 15-20% ada deh, jadi sisah cuma US$952,000 ( realistis ) per thaun untuk di keroyok ama semua merek alat selam di Indonesia. Kacian deh. Nilai ini mah di kepret ama penjualan BlackBerry seminggu ajah udah tenggelam. Group restoran Padang Sederhana se JaBoTaBek saja bisa membukukan penjualan tahunan berlipat-lipat kali di di banding penjualan alat selam di seluruh Indonesia...wak kik kik kik.

Blackberry tahun 2009 merem 300,000 unit terjual di Indonesia. Jika ambil low end model nya dengan harga US$300 ajah deh = US$ 90,000,000 ( ampir 1 trilliun rupiah....ceyem euuyyy ). Maka nya service Blackberry bulanan di Indonesia termasuk salah satu yang termurah di dunia dan sales growth nya yang ter EDAN di dunia , dalam persentase per tahun nya. Tapi apakah harga hardware Blackberry di Indonesia lebih murah dari USA ( produsen nya ) dengan sales sebesar itu ? Kayaknya enggak deh, masih murahan di USA.

Kita tunggu lah jumlah diver lokal berkembang, semoga harga alat selam bisa turun seiring dengan itu.

Happy internet shopping guys and girls.

SP

_________________
Used to be dumb but no more....


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Aug 30, 2010 7:37 am 
Offline
User avatar

Joined: Mon Dec 14, 2009 9:47 pm
Posts: 177
Location: di atas ombak, di bawah laut
^^

makasih infonya om.. sekarang saya jadi tau klo ternyata diving equipment kita masih harus lewat gudang AsPac dulu seblum nyam indo, kirain langsung dari pabrik

:)

_________________
-ardi-
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Let's Go Diving


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Aug 30, 2010 9:03 am 
Offline
User avatar

Joined: Sat Mar 21, 2009 6:40 pm
Posts: 161
Pak Surya.. mantap tenan penjelasannya Bos.. detail banget, sampe dicontohin pake perhitungan bisnis hehehe..

kayaknya harus bantu diveshop lokal nih.. biar ngak redup dan tiba2 hilang.. ntar yg sulit kita kita juga.. so rekan2.. jikalau mau beli divegear, cek dulu distributornya di indonesia, klw ngak tersedia baru deh blanja di bule bule.. biar kita bisa bantu 'pakle pakle' di negara kita sendiri...

serius mode ON... 8)

_________________
Frandi @ambon
27773E0C


'sambil menyelam minumnya tetap teh botol SoSro'


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Aug 30, 2010 9:28 am 
Offline

Joined: Wed Jul 14, 2010 1:44 pm
Posts: 163
Location: Midden - Java
wah muentep tenan pejalasan bro surya

mudah2 an semua penyelam indonesia mau peduli dengan perkembangan bisnis domestik.

maka itu jangan beli di pasar (retail) bule (baca care****) tapi di pasar mbok. iyem aja (lho tidak nyambung ya)


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Aug 30, 2010 10:13 am 
Offline
User avatar

Joined: Sat Sep 27, 2008 3:17 pm
Posts: 618
Location: sanur - bali
TOP abis...makasih mbah Surya buat penjelasan detilnya. Jadi jelas skrg apa penyebab dan alasannya. Kl udh tau gini jd gak nyesel lagi deh bayar lebih mahal di toko lokal, it's all reasonable.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Aug 30, 2010 3:16 pm 
Offline

Joined: Thu Jun 03, 2010 10:07 pm
Posts: 37
om surya, penjelasan yang masuk akal, yang ingin saya tanyakan apakah wajar kalau dive shop menjual barang dengan harga lebih tinggi dari pricelist atau msrp? atau seharusya harga msrp bisa di diskon sekitar 10-20%?


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Aug 31, 2010 6:26 am 
Offline
User avatar

Joined: Fri Aug 25, 2006 10:33 am
Posts: 1564
semoga bisa makin bijak dalam memilih..
*ayo ikut majukan produk Indonesiaa.!!
hihi promosi terselubung nih.

_________________
Hernando Alkausar
--
www.hamueco.com/diving
+62-812-218-NNDO


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Aug 31, 2010 7:52 am 
Offline

Joined: Sun May 16, 2010 12:53 am
Posts: 90
om surya punya data berapa banyak diver di singapore dan malaysia dibanding indonesia?

kenapa dive shop di singapore dan malaysia bisa lebih bertahan dan lebih komplit daripada di indonesia?


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Aug 31, 2010 3:43 pm 
Offline

Joined: Fri Mar 20, 2009 11:39 pm
Posts: 913
Location: Jakarta
Hello All,

Pertama adalah terima kasih bagi semua yang ingin support dive equipment retailer lokal. Saya yakin semua retailer di Indonesia akan senang mendengar pemahaman seperti ini.

Kedua, saya harus bilang bahwa ini semua adalah hak pembeli. Tidak ada salah nya bagi yang ingin membeli di luar negeri, selama untung rugi sudah di pertimbangkan dengan matang.

Andy12 memberikan sebuah pertanyaan anda sangat baik. Harus di pahami bahwa apa yang namanya MSRP atau Manufacturer Suggested Retail Price adalah harga tanpa perhitungan biaya lokal masing-masing negara. Ini adalah angka dimana kurang tak boleh, lebih boleh, itu lah MSRP. Saat barang pindah tangan dari produsen ke distributor/dealer, apapun biaya nya untuk barang bisa tiba di negara tujuan adalah biaya tambahan bagi distributor/dealer, maka akan ada harga baru yang di sebut harga eceran lokal per negara.

MSRP di tentukan oleh produsen supaya tidak ada dealer/distributor yang saling tikam harga, sebab tiap negara beda-beda dalam biaya nya. Semakin ribet negara nya dan semakin jauh negara nya dari sumber barang, akan lebih mahal final retail nya atau final SRP, Suggested Retail Pricing. Manufacturer tidak ada hak menentukan harga final sebab biaya X, Y dan X bukan mereka yang tanggung
Dealer/distributor tidak punya permadani terbang yang di kemudikan oleh Jin & Jun dan bisa buat shipping zero cost. Everyone hope this is the case, but it is not.

10% discount sudah umum di semua toko selam, walk-in pun dapat 10% bagi kebanyakan produk alat selam. Lebih dari 10% mungkin akan perlu pembuktian pembelanjaan dengan nilai yang lebih. Jika buyer X beli barang senilai 10jt, apakah hak dia terhadap discount sama dengan buyer Y yang beli barang 40 juta ? Kayaknya akan beda deh. BCA saja ada yang nama nya BCA Prioritas bagi nasabah yang uang nya lebih dari "X" juta. Kenapa ini bisa seperti ini ? Balik lagi hukum pasar, you buy more you get better discount ( up to a certain point ) , you have more money in the bank you are a priority client bagi bank. Adil ? Yah tidak adil lah kalo kita tidak yang dapat prioritas, tetapi ini lah stimulan ekonomi dan basis dari progress dan free market. Yang lebih berprestasi dan capable akan dapat reward yang lebih. Tanpa stimulan seperti ini tidak akan ada orang yang mau kerja lebih rajin dari rekan kerja nya dan negara tidak akan maju.

Kita sebagai pembeli selalu akan cari bang-for-the-buck yang paling tinggi, ini wajar. Ini pasar bebas dan tidak akan bisa atau boleh di salahkan. Its your money. spend it the way you see fit. Tidak ada cerita sedih dalam dagang, biarkan mereka bertempur. Jika kita berfikir seperti warga Jepang dimana selalu local business di dukung mati-mati an, itu baik. Tetapi ini bukan suatu keharusan. Jangan suatu bisnis di manjakan, nanti tidak akan bisa mandiri.

10% lebih mahal suatu produk di Indonesia ketimbang negara produsen cukup umum bagi banyak produk. Jika kita tau up to 20% adalah biaya logistik dan embel-embel lain, kayaknya tidak perlu di tanya kenapa bisa beda 10% pun, sebab jawaban nya sudah jelas.

Sama dengan pembeli, pedagang punya hak untuk tentukan margin nya sendiri.
Kan tidak ada pemaksaan diver harus beli dari toko X atau Y. Biarkan pasar bebas menentukan nya.

Enggak usah jauh-jauh cari perbedaaan harga. Harga eceran semen di Jakarta berapa dan produk yang sama di Sorong Irian Jaya berapa ? Yah itu lah, Jin dan Jun bukan karyawan kita, maka logistik ada biaya. Stocking ada biaya. Kemudahan ada biaya. Ready stock produk di lokasi ada biaya nya.

Anda bayar berapa harga Aqua 500 ml di theater Studio 21 ?
Rp 7,500 kah atau lebih ?
Harga di CareFour berapa ? Rp 2,000 paling top. Kok bisa 250% beda nya di Studio 21 ? Tanya sama yang jual donk.
Apakah mereka make more money dari dive shop ?
YEP, much more money per investment dollar dan NET nya per bulan pun lebih besar. Area dagang cuma 1.5 meter x 6 meter tapi ada 6 karyawan.
Good business?.... yipeee yeah !!

Ini semua balik ke manusia nya.
Yang mau ngirit bisa ngirit, yang kagak mau pusing tak mau pusing.
Kenapa tidak mau pusing ? Sebab diving bagi yang tidak gawe di industri diving adalah hobby. Hobby adalah dimana uang di belanjakan untuk di tukarkan dengan fun dan pleasure. Itu namanya hobby. Kenapa beli motor Harley Rp 400 juta kalo Honda bebek cuma 14 juta , kan sama-sama motor ? Kalo iya pun cc nya beda 10x lebih besar, kenapa harga nya tidak cuma beda 15x ajah, kok malah 28x lipat ? Tanya sama produsen donk.

Maka simply put, siapa yang punya uang, itu hak belanja dia, mau di mana belanja, teserah dia.

Blup....blup...blup.
SP

_________________
Used to be dumb but no more....


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Aug 31, 2010 8:57 pm 
Offline

Joined: Fri Mar 20, 2009 11:39 pm
Posts: 913
Location: Jakarta
enyong wrote:
om surya punya data berapa banyak diver di singapore dan malaysia dibanding indonesia?

kenapa dive shop di singapore dan malaysia bisa lebih bertahan dan lebih komplit daripada di indonesia?



Mas Enyong,

Tergantung definisi komplit ini apa dulu.
Jika definisi komplit adalah satu toko banyak barang dari berbagai merek, ada sebab nya.

Jika definisi komplit adalah toko yang pegang merek X lalu stock nya lengkap alias hampir semua model ada, beda lagi cerita nya.

Kalo dive shop business di Malaysia saya kurang kuasai, kalo Singapura saya cukup tau banyak tetapi semua jawaban nya mudah.

Di Singapura jika toko selam adalah multi merek, ini artinya toko tersebut bukan di miliki oleh distributor. Itu toko adalah dealer dari biasanya merek besar X, Y dan Z.

Jika toko di miliki oleh distributor, pastinya 80% produk nya akan merek yang di wakilkan dan aksesoris atau second line nya adalah produk yang biasanya lebih murah dari merek utama tetapi tidak mungkin merek nya adalah merek saingan yang direct competition.

Jadi maksud dari lebih komplit beda pemahaman nya kan.

Jika di Indonesia karena volume dagang kecil, maka sulit cari satu toko yang akan jual merek besar X,Y dan Z di dalam satu toko. Dan khususnya di Jakarta, pasti setiap toko besar karena mereka mewakili merek mereka sendiri, akan hanya adakan merek mereka sendiri. Jual merek sendiri ajah susah, masak mau jualin merek orang lain ?

Jika anda bertanya kenapa mereka dive shop di Singapura atau Malaysia bisa lebih bertahan ?
Balik lagi jawaban nya ke transaksi dagang nya memang memadai.

Jangan terpukau dengan populasi Indonesia yang fantastis 220 juta penduduk di banding Singapura yang cuma 4 juta tetapi market lebih besar. Malaysia sekitar 28 juta penduduk. Lihat income per capita penduduk nya berapa :

Indonesia 2009 income per capita per tahun : US$2,329
Malaysia : US$6,975
Singapura : US$ 37,293 ( yikeeeeessss !!!! )

Upah Minimum Regional kita kalo kagak salah US$90 atau Rp850K per bulan, maka per tahun yang paling low wage cuma punya earning US$1,080
Diving adalah hobby, bukan kebutuhan.
Maka prioritas orang adalah makan demi hidup, nabung kalo bisa, baru happy-happy kalo ada sisah.

Formula spending yang paling simple adalah seperti ini :
60% biaya untuk hidup dan obligasi macam-macam
10% biaya tak terduga
20-30% savings
0-10% boleh pake untuk happy happy dah.

Jika diving murah andaikata Rp 500K per trip dan di lakukan 2x sebulan, artinya Rp 1 juta per bulan.
Jadi ini di terjemahkan gajih 10jt sebulan lah kira-kira earning power tuh diver jika pola spending nya konservatif.

Karena di Singapura gajih tidak kecil dan Rp10jt cuma Sin$1,500 an , akan banyak dari penduduk Singapura yang akan mampu diving ( kalo mereka mau ) , sebab gajih Sin$3,500 itu umum dan termasuk kecil jika individu itu bukan lah blue collar labor.

Ini baru bicara potensi orang lokalnya. Yang buat Singapura mantaf adalah posisi nya sebagai pusat dagang di Asia, mirip kayak Hong Kong. Jika negara kaya maka jajaran pemerintahan nya akan punya alat lengkap dan rutin di ganti. Singapore Marine Police dan Singapore Navy kalo beli alat selam kagak main-main jumlah nya setahun. US$100,000 - 200,000 mah merem. Jangan anggap remeh asset alat perang Singapura, Indonesia hanya se upil dari nya dan alat tempur kita bukan model ter baru pun dan kalah jauh di perawatan sama Singapura.

Lalu Singapura adalah pusat petroleum Asia, alat selam selalu ada demand nya bagi offshore oil platform, walaupun banyak yang pakai Kirby helmet.

Alasan lain adalah Singapura dapat turis kira-kira 9.6 juta setahun ( Indonesia cuma 6.5 juta ).
Dari 9.6 juta turis Singapura, 1.75 juta adalah orang Indonesia. Ini report tahun 2009 dari Singapore Tourism Board.

Lalu orang Indonesia adalah spender terhebat di Singapura, tahun 2008 saja belanja Sin$648,000,000 atau Rp 4.3 trilliun. Tengok halaman 10 :
https://www.stbtrc.com.sg/images/links/ ... 2008v3.pdf

Kalo 0.1 % dari 4.3 trilliun kena ciprat alat selam ke semua toko di Singapura saja dari orang Indonesia, sudah SIn$648,000 per tahun ato Rupiah 4.3 milliar. Ini baru potensi orang Indonesia doank, belum 8+ juta turis lain nya jika ada di antara nya yang diver.

Ingat Singapura itu bebas pajak untuk kebanyakan produk dan GST bisa di ambil balik di airport. Udah untung duluan deh mereka.

Malaysia juga turis nya banyak loh dan diving destination mereka lumayan ramai. Income per capita mereka kan 3x kita, jadi pembeli lokal mereka juga memiliki potensi.

Jadi kita harus lihat kenapa diving di negara lain bisa survive dan jauh lebih besar dalam bentuk penjualan alat. Pertama adalah uang lokal memadai dan kedua adalah uang asing/turis banyak kaleee.

Kekayaan sebuah negara, stabilitas politiknya, ke amanan nya dan apa pun hal yang perlu untuk memajukan negara tersebut, dan foreign tourist dollar nya adalah adalah benefit bagi lokal business nya. Lalu pita merah di negara tertentu yang buat dagang mati sebelum mulai pun.
Lihat Bom Bali 1 , apa itu bukan disaster bagi Bali, bagi Indonesia dalam bentuk turis dollar ?
Diving kena apes nya kah...so pasti lah. Ini jelas security dan stabilitas negara nilai nya priceless.

Main line usaha saya adalah urusin kapal pesiar bukan diving.
Setiap tahun di distributor meeting, saya paling malu. Malu minta ampun sebab 6 tahun pegang merek , tak satu kapal pun di terjual. Kenapa ? Karena think tank government kita tidak secerdas negara lain.

Thailand dulu ada pajak impor 40% untuk kapal pesiar, Indonesia masih tetap 75% an ampe sekarang.
Setelah Tsunami 2004, Thailand lakukan zero% import duty. Apa yang terjadi ? Phuket jadi kayak surga cruising bagi orang asing. Banyak orang asing yang punya kapal besar di atas US$10 juta tidak mau kirim kapalnya ke Asia sebab biaya kirim mahal. Paling gampang mereka beli yang kecil yang US$2 juta ke atas dan taro di Phuket. Kalo winter di negara mereka, mereka datang. In between tak di pakai, itu kapal disewakan.

Sekarang Phuket boom minta ampun dengan turis dollar. Maklum coy, 14 juta turis setahun itu adalah angka fantastis. Marina, hotel dan segala macam fasilitas di Phuket di bangun dengan uang asing.
Pemerintah Thailand tau bahwa tak ada untungnya pajakkan kapal pesiar yang setahun impor value nya paling top US$12 juta pada saat pajak 40% masih berlaku, cuma dapat sekali gebuk US$4.8 juta. Dengan Phuket sekarang sebagai the Monaco of Asia, kapal pesiar berjamur, karena bebas pajak. Tak sampai 1% pun itu kapal punya orang Thailand, semua duit orang Eropa, Amerika dan negara kaya lain termasuk Russia. Jangan pandang rendah orang Russia neh. Kolega saya di Thailand jual tahun ini kapal senilai US$8 juta, itu baru satu merek neh.

Karena Phuket begitu maju, terjadi lah investment asing gila-gila an. Terjadi lah kesempatan kerja yang besar, kurang deh yang nganggur, every one happy. Negara malah dapat pajak jauh lebih besar karena ini dan tiap tahun pula, bukan sekali kemplang saat impor tuh kapal pesiar. Berapa income Thailand dari tourism setahun pada tahun 2009 saja ? Cuma 15.9 milliar US dollar atau Rp 145 trilliun saja. Anjrit !!!
Gampang di verifikasi kan, US$1,150 per turis belanja/biaya di Thailand =
14 juta turis setahun x US$1,150 = 16 milliar US dollar setahun.

Jika ekonomi Phuket represent 20% dari total ini, artinya Phuket dapat 29 trilliun Rupiah setahun.
Jika Rp29 trilliun 10% nya adalah VAT/PPN apa bukan ini Rp2.9 trilliun setahun cuma dari VAT/PPN jasa dan barang ? Maka nya sayang bilang pemerintah Thailand pandai sebab pajak impor kapal tidak ada artinya di banding overall growth impact dari foreign dollars yang masuk untuk bangun world class infrastucture di Phuket. Mau sewa kapal pesiar yang Rp 50 juta sehari...ada. Mau sewa yang Rp 300 juta sehari, juga ada. Yang bayar kan orang kaya asing, kita sebagai tuan tanah kagak usah pusing, kita sedot uang asing sebanyak-banyak nya donk dan terjadi lah income pajak untuk negara yang dalam jumlah lumayan. Yang ngangur dikit, kriminal jadi dikit, cemburu sosial jadi dikit sebab semua pada punya kerjaan dan bisa cukup makan. Semua merasa ada andil sebagai bangsa dan negara, akhirnya tidak perlu jarah, tidak perlu bakar bakaran toko dan bla bla bla. Ini lah yang buat Bali ( tanpa tangan kotor teroris ) sebagai salah satu destinasi teraman di Indonesia. Semua rakyak Bali akan melindungi Bali sebab mereka tau turis dollar sangat penting dan kunci nya adalah stabilitas lokal, aman kemana-mana bagi turis.


Politik panas di Thailand belakangan ini tidak target kan turis asing, maka nya hau heboh kayak apa pun daerah wisata di Thailand kagak hancur kayak effek Bali Bombing. Direct flight ke phuket ada, tak perlu via Bangkok.




Jadi ceramah panjang lebar deh....sorry guys, tapi ini the facts.

Kalo kita gimana ? Kata nya negara bahari. Kita tau bahwa dari 6.5 juta turis ke Indonesia, diving dollars di Bali, Manado, Lombok dan dimana pun ada diving adalah cukup signifikan. Mesin tempel pajaknya 0%...yep enol persen, sebab konon ini mesin nelayan miskin. Lalu kapal pesiar impor kenapa 75% nan ? Entah lah, konon ini mainan orang kaya.

Disini letak kelemahan kita. Karena kapal bagus susah masuk, tamu diving yang
expect kapal harus memadai, sulit cari kapal yang memadai di Indonesia.
Kapal memadai bagi orang asing adalah kapal "bagus" bagi kita. Kenapa bisa seperti itu, sebab kapal yang disewakan ( menerima paying passenger ) di negara maju, harus lulus inspeksi US Coast Guard
( kalo USA ) harus di bangun sesuai MCA code ( kalo di Eropa ) dan apapun standard lain di negara mereka yang govern aspek kapal komersial. Ini semua adalah biaya sebab peralatan safety dan cara konstruksi yang benar/approved tidak bisa ditawar.

Jadi apa yang terjadi ? Ramai-ramai lah orang buat kapa Phinisi LOB. Murah meriah dibawah US$ 1 juta bisa mewah. Lalu di iklankan sebagai "sail in quietness , in majesty & feel the experience of a Bugis schooner". Romantis sekali iklan nya, kelemahan jadi kekuatan. Kalo di negara maju kapal kayu memang lebih mahal tetapi di bangun dengan safety code seperti GL atau sejenis. Lalu Phinisi kita sebenarnya apa level nya............yah no comment lah sebab saya paham kapal. Lihat global website Peter Hughes diving, hanya di Indonesia kapal nya yang tidak safety certified sekelas kapal mereka di negara maju lain nya.
Harga jual diving per day nya di Indonesia mirip sama destination lain, padahal modal kapal nya jauh lebih rendah jika pakai Phinisi. Mau impor kapal bagus....wele2 ribetnya minta ampun neh. Jadi lah Phinisi naik daun. Yang penting ujung-ujung nya adalah ekonomi berkembnag, maka ini harus di support.

Nah negara kita SADAR bahwa wisata bahari adalah salah satu back bone yang bisa di andalkan, lalu kok alat selam ada pajak nya ? Ini lah hebat nya Indonesia, pembuat hukum tidak paham diving tapi bisa tetapkan nilai pajak tanpa melihat keadaan secara keseluruhan.

Mereka tau nya diving itu sport mahal, maka dengan enaknya perlu di pajak kan hardware nya. Malu kan kita bahwa mayoritas 16,000 multi-sertifikasi PADI di bumi pertiwi datang dari orang asing. Apa artinya ini, artinya pengusaha penjual jasa diving di Indonesia udah keteter duluan dengan high cost of goods jika mau jual jasa diving yang padahal income nya terbesar dari orang asing. 10% VAT/PPN tahunan saja untuk services dari semua orang asing yang diving di Indonesia ( bukan sertifikasi ) udah jauh di atas pajak alat selam 5 tahun pun. Orang asing yang diving di Indonesia itu merem dah, setahun 50,000 orang. Orang Bali pasti lebih tau angka aktual nya dan tingal di kalikan 2 dapat Manado, Lombok, R4 dan lain-lain kayaknya deh. So taro lah 50,000 diver asing deh. Per diver selama di Indonesia akan belanja minimal US$1,000, biaya makan, pesawat , hotel , diving dan bla bla bagi yang bukan ikut paket eksotis LOB destination yang sehari bisa U$300+.

Udah berapa tuh ? US$50,000,000 nih, kalo 10% nya udah dapat US$ 5 juta dalam bentuk VAT/PPN jasa.

Apa sebenarnya diving ? Diving adalah menjual experience, menjual WOW, menjual kenangan manis.
Jadi sebuah BCD dan regulator selam di dive operator jika bisa di pakai 1,000 dive melayani tamu asing, itu barang sudah support sebuah komodi export, yaitu "The Indonesian diving experience". Konon kalo untuk wisata atau export, barang baku bebas pajak....kan cuma konon doank.

Kalo di balik bahwa dominan orang lokal yang spending diving money, bolehlah pajak di perlakukan dan masih masuk akal. Wong dive operator adalah sebenarnya pahlawan "export", kenapa usaha mereka tidak di dukung melalui kemudahan-kemudahan ? Tanya sama pejabatnya donk.


SP

_________________
Used to be dumb but no more....


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Sep 01, 2010 9:47 am 
Offline

Joined: Sun May 16, 2010 12:53 am
Posts: 90
Wow... penjelasan yang luar biasa!

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktunya menjelaskan..

Saya setuju 1000persen ama Pak Surya.

Intinya ada di sini...

Surya Prihadi wrote:

Kenapa ? Karena think tank government kita tidak secerdas negara lain.



Sayang sekali sektor pariwisata di Indonesia kurang maksimal digarap dibanding negara2 lain, padahal setiap tempat di Indonesia sangat unik.

Oh ya, yang satu ini agak OOT, apakah Pak Surya tau kenapa time zone Singapore berada di GMT +8 padahal kalau dilihat secara geografi, Singapore harusnya berada ditime zone yang sama dengan Jakarta.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Sep 01, 2010 10:41 am 
Offline
User avatar

Joined: Sat Sep 27, 2008 3:17 pm
Posts: 618
Location: sanur - bali
enyong wrote:
Oh ya, yang satu ini agak OOT, apakah Pak Surya tau kenapa time zone Singapore berada di GMT +8 padahal kalau dilihat secara geografi, Singapore harusnya berada ditime zone yang sama dengan Jakarta.


Gw mau coba bantu jawab: sebenarnya penentuan time zone bukan hanya berdasarkan posisi geografi, tapi berdasarkan kesepakatan waktu jam kerja di daerah tsb. Ini untuk memudahkan kepentingan bisnis antar daerah/kota/negara saja. CMIIW please :)


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Sep 01, 2010 11:12 am 
Offline
User avatar

Joined: Tue May 11, 2010 11:26 pm
Posts: 102
Location: Bandung
Haha, asik banget bacanya penjelasan mbah surya..

Kapan ada pabriknya ya di indonesia buat alat2 diving, sampai ada merk lokalnya gitu (mimpi yang masih jauh :D).. keterbatasan teknologi atau market? Harusnya sih kalo market sehat, teknologi pasti bisa dikejar..


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 100 posts ]  Go to page Previous  1 ... 3, 4, 5, 6, 7  Next

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 2 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to: