It is currently Mon Oct 23, 2017 7:18 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 49 posts ]  Go to page Previous  1, 2, 3, 4  Next
Author Message
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 3:08 pm 
Offline
User avatar

Joined: Fri Sep 16, 2011 10:30 am
Posts: 59
Location: Jakarta
... karena itu penyelidikan untuk mengetahui rangkaian penyebab cilaka jauh lebih penting daripada mencari dan menghukum yang dianggap salah.

bila rangkaian penyebab diketahui (fisik,fit to dive, gear, kondisi alam, buddy, etc) hal ini dapat menjadi pelajaran buat yang akan menyelam (tidak hanya di Crystal Bay) di kolam sekalipun...

di dunia penerbangan, fakta penyelidikan mengungkapkan bahwa terkadang kecelakaan terjadi bahkan ketika semua perabotan berfungsi baik dan prosedur telah dijalankan dengan baik. temuan seperti ini biasanya berujung kepada perbaikan dan penyempurnaan prosedur penerbangan itu sendiri.

my 2 ringgit..
K.

_________________
-home is wherever I am-
Kresna Astraatmadja, Jakarta


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 7:28 pm 
Offline

Joined: Fri Mar 20, 2009 11:39 pm
Posts: 913
Location: Jakarta
Kresna wrote:
... karena itu penyelidikan untuk mengetahui rangkaian penyebab cilaka jauh lebih penting daripada mencari dan menghukum yang dianggap salah.

bila rangkaian penyebab diketahui (fisik,fit to dive, gear, kondisi alam, buddy, etc) hal ini dapat menjadi pelajaran buat yang akan menyelam (tidak hanya di Crystal Bay) di kolam sekalipun...

di dunia penerbangan, fakta penyelidikan mengungkapkan bahwa terkadang kecelakaan terjadi bahkan ketika semua perabotan berfungsi baik dan prosedur telah dijalankan dengan baik. temuan seperti ini biasanya berujung kepada perbaikan dan penyempurnaan prosedur penerbangan itu sendiri.

my 2 ringgit..
K.


Mas K,

Di penerbangan , penumpang benar benar nasib nya di tangan airline + pilot + mother nature. Di buang mother nature nya, sisah cuma airline dan kaki tangan airline nya. Mechanical + human.

Dive Operator lebih sebagai jembatan, bukan care taker 100%
Kita bisa diving kemana saja tanpa dive center, asal:
- sewa tangki sendiri
- sewa kapal sendiri
- dan yang pasti kita diving sendiri walaupun ada guide.

Maksud diving sendiri adalah kita yang nge-fin sendiri dan nafas sendiri dan jaga kesehatan sendiri dan baca keadaan bawah laut sendiri. Jika kita lihat ikan mental kena down current di drop off sejauh 20 meter dari kita yang masih di wilayah teduh karena ketutupan batu atau apa kek......lalu kita fikir....... wah fun tuh arus, bisa roller coaster ride gratis......yah bego/ atau kelewat berani atau over confidence sendiri lah tuh diver. Atau diver skip breathing demi irit udara dan akhirnya kepala pusing karena C02 build up tinggi, lalu pass-out...... gimana kontrol nya ?

Kalo flying kita tidak bisa fly tanpa pilot. Yah kira kira gitu lah , bagaimana di diving si diver kudu independent dalam action atau decision making nya. There is only so little a guide can do toh.



Kawan-Kawan,

Karena underwater environment bukanlah "medan" kita, maka kalo ada salah dikit dimana diver sampai pingsan atau alat nya rusak, nyawa bisa melayang. Ini sih yang buat diving bahaya, air bukan medan kita si manusia yang butuh nafas di udara.

Polisi tutup C-Bay kayaknya hanya supaya meminimumkan resiko kejadian ke 3, ke 4 dan selanjutnya. Kecuali C-Bay ada algae bloom tertentu dan si diver allergi parah ama yang kayak ginian, lalu cardiac arrest atau jadi total bloon..........tidak ada guna nya C-bay di tutup sih. Evidence apa yang mau di cari kalo lokasi begitu dinamik water movement nya ?? Tapi kan kesan nya Polisi ada tindakan..........gitu loh.

Jangan fikir algae bloom tidak bahaya bagi manusia. Kulit kita bisa serap racun loh.
http://www.cdc.gov/nceh/hsb/hab/default.htm
Coba ajah semprot Baygon di tangan dan di oleskan kayak Autan, jamin akan keracunan. Kawan saya dokter pernah treat pasien yang pake Baygon kayak Autan, gelo deh.


Anyway, jangan mikir jauh jauh soal regulasi diving deh.
Saya kasih tau satu hal nyata dan menyedihkan.
Lihat ini ferry penyebrangan Jawa - Bali
http://www.panoramio.com/photo_explorer ... ser=362497

Apa yang salah dengan Ferry di atas ini ?
Yang salah adalah nyawa kita di anggap murahan, itu yang salah.
Ferry yang di pakai di laut dengan potensi ombak, dan Selat Bali jangan di fikir karena selat dan teduh, ombak bisa besar neh......harus lah pakai roro ferry yang ada double door atau ocean going, minimal coastal water bukan kelas danau. Di photo itu sebenarnya ferry roro kelas danau atau tidak ada ombak.

Yang benar adalah, satu bow door ( visor ) yang jadi pemecah ombak, baru lah di dalam nya di landing ramp/door kayak photo di bawah ini :
http://img.photobucket.com/albums/v446/ ... wa2_TR.jpg


Yang melayani Bulu Kumba/Tanjung Bira (Sul-Sel ) ke Selayar, malah di 2004 saya lihat model nya kayak gini :
http://www.flickr.com/photos/book_wallah/1449922167/

Kalo di teluk Ambon super teduh dan dekat cuma 600 meter maju nya, OK OK lah pake roro ferry yang kelas danau.


Nah kenapa ASDP selaku raja izin ferry kok kasih model ferry roro kayak gitu jalan ?
Semua karena biaya, mau murah yah pake kapal bekas dan kapal yang lebih tidak mampu berlayar di Sea State kelas 2-3 meter. Maka nya musim ombak 2 meter ajah, langsung lah pelayaran RoRo Ferry antara Jawa-Bali dan Jawa-Lampung akan di larang berlayar. Kalo beli kelas roro ferry coastal tapi sea-going dan kudu baru.........itu harga ticket bisa naik 2-3 kali lipat neh. Ini contoh bahwa ada kala nyawa akan di "murahkan" demi murah.

Pelni punya yang mantap beli bekas, namanya Jetliner. Bekas ajah US$20 juta neh.
Klik thumbnailnya.
http://theferry.wikia.com/wiki/HSC_Jetliner
Tapi rugi dari operation day 1 pun dan beberapa tahun lalu disewakan ke Sri Lanka Navy dan konon saat ini udah di jual ke Sri Lanka. Mbah ikut bantuin pertama kali time charter ini Jetliner ke Sri Lanka, G to G, cuma kagak ada doku nya.
http://www.globalsecurity.org/jhtml/jfr ... e01.jpg|||

Jadi tranportasi laut yang aman dan bagus, susah tembus market di Indo.
Yah beda tipis ama Adam air lah, Cheap & fast........fast to die that is...wak kik kik.

Sekedar informasi, salah satu ferry disaster terbesar di dunia, MV Estonia tenggelam karena bow door ( visor ) nya copot dan air masuk. Bayangkan kalo cuma pake landing ramp door di depan. Kalo landing ramp door belakang dan samping aman dah, depan itu yang kudu pake bow door/visor sebagai pintu pertama.

"In the first phase of the accident, after the bow visor had broken off and, as the Hamburg researchers assume, the ramp had also lost its protective function, the Estonia took on a lot of water"
http://www.spiegel.de/international/eur ... 27875.html

Nah yang urusan nyawa ribuan ajah tidak di berikan safety sebagai prioritas, apa pulak diving mau di regulasikan ama negara ? Hello ??

Bagi orang Jakarta, saya kasih contoh ajah deh, management "nyawa" di DKI kayak apa. Tau BusWay donk ? Pernah lihat separator beton tinggi 20-30cm busway yang makan nyawa, umumnya sepeda motor ? Pernah lihat mobil mepet motor di Gatot Subroto karena si Bus Stop nya Bus Way makan jalur ke tiga ? Mau tau berapa nyawa melayang karena separator BusWay ?

Mana ada sih, kalo tim LaLin DKI sekolah Traffic Science dan lulus dengan baik dan siap pake logika , sebuah obstruction bernama beton separator BusWay bisa di letakan di jalan raya kayak ranjau, ceplak ceplok nimbul tidak teratur ?

3 Jalur jadi 2 jalur lalu ada beton separator. 2 jalur jadi 1 jalur lalu ada beton separator lagi. Kata nya kalo di garis pake cat kagak di patuhi, jadi lebih baik pake beton, biar nyawa melayang pun yah resiko lah kita warga DKI punya Gubernur yang model gitu hahaha.......... gila apa ??? Tanpa perlu motor atau mobil lompati separator BusWay, keberadaan sebuah obstruction seperti ini di tengah jalan, adalah sudah salah dan bahaya. Sangat bahaya bagi motor sebab roda 2 dan pasti jatuh kalo senggol separator. Lalu bottle neck karena jalur menciut, juga parah. Jalanan yang tidak cocok di jadikan BusWay di paksakan jadi BusWay. Beda tipis sama implementasi 3in1 yang Singapura sukses pakai ( dulu ), jadi lah 3in1 abadi di Jakarta. Masuk atau keluar atau saat di dalam zona 3in1, TETAP mobil isi nya kudu 3 orang......wak kik kik kik.....bodoh bener.

Saya warga DKI saja, jika pergi ke lokasi baru yang ada separator Busway , jadi bingung dan takut, apalagi malam hari dan hujan pula. Logika berkendaraan di DKI sudah masuk taraf moron, yaitu expect the unexpected always.


Nah, dari cara regulating body atau government agency/body yang kerja nya kayak begini...........lalu mau urusin soal kecelakaan diving ? Jangan deh. 10 nyawa setahun di diving yang jika pun segitu fatality tahunan, itu kecil di banding disaster transportasi laut kita dan itu korban separator BusWay.

Jadi balik lagi, kita self regulate ajah sebab government body yang competent masih langka dan kita yang swasta bisa lebih cepat bertindak tanpa perlu lewat sekian banyak pintu birokrasi etc etc.

Yang cocok sih Asosiasi WaterSport di Bali atau apa gitu namanya, pasti ada donk yang asosiasi yang kayak gini di Bali ?

SP

_________________
Used to be dumb but no more....


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Aug 30, 2012 1:40 pm 
Offline

Joined: Sat Mar 20, 2010 7:31 pm
Posts: 222
Location: Jakarta Selatan
Surya Prihadi wrote:

Dive Operator lebih sebagai jembatan, bukan care taker 100%
Kita bisa diving kemana saja tanpa dive center, asal:
- sewa tangki sendiri
- sewa kapal sendiri
- dan yang pasti kita diving sendiri walaupun ada guide.

Maksud diving sendiri adalah kita yang nge-fin sendiri dan nafas sendiri dan jaga kesehatan sendiri dan baca keadaan bawah laut sendiri. .....


Sekalian mau tanya oom

kebetulan saya dan teman2 bbrp kali diving tanpa memakai jasa Dive Operator ataupun guide

Tentunya kita mempersiapkan semua tetek (tp ga pake bengeknya hehehe) sendiri ... apakah hal itu dibenarkan?

Sebenarnya yang "berhak" mengadakan/mengkoordinir trip itu "siapa" saja?

Apakah seorang dengan minimal level Dive Master baru berhak mengkoordinir sebuah trip? Pdhl si DM juga baru menyelam di site tsb (bareng2 mengeksplore) ...

terima kasih

.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Aug 30, 2012 2:06 pm 
Offline
User avatar

Joined: Fri Aug 25, 2006 10:33 am
Posts: 1564
semasa one star diver, saya pernah bikin independent trip dengan keseluruhan peserta certified diver setingkat one star diver/open water

dengan seizin instruktur

tapi was-wasnya itu looh

_________________
Hernando Alkausar
--
www.hamueco.com/diving
+62-812-218-NNDO


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Aug 30, 2012 2:38 pm 
Offline
User avatar

Joined: Fri Sep 16, 2011 10:30 am
Posts: 59
Location: Jakarta
Pak Surya,

Analogi saya -membandingkan insiden diving dengan penerbangan- tidak terlalu tepat sebenarnya.

Tapi maksud saya, bukan mengandaikan diver sebagai penumpang, lalu dive operator = airlines dan guidenya = pilot. Bukan sama sekali.

Saya membandingkan sebatas sisi penelitian atau penyelidikan tuntas saja, sehingga bila ada kekeliruan/kekurangan dapat diperbaiki. suatu saat.

Diver seharusnya jadi pilot bagi dirinya sendiri.

Iya mending self-regulate aja. Jangan ngandelin pemerentah lah... kasian udah kebanyakan utang kerjaannya. :D. Paling enggak diskusi semacam ini.

salam,
K.

_________________
-home is wherever I am-
Kresna Astraatmadja, Jakarta


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Aug 30, 2012 6:47 pm 
Offline

Joined: Fri Mar 20, 2009 11:39 pm
Posts: 913
Location: Jakarta
Bro Giri,

Diving selama daerahnya bebas ( kagak ada larangan ) untuk di cemplungin, kita warga Indonesia boleh diving dimana saja, kapan saja dan siapa saja dan masa bodo siapa yang mau kordinir asal jangan main tuding2-an kalo ada celaka lah yau. Laut dalam hukum Indonesia punya bersama, kalo pantai mungkin sebagian punya hotel hehehe. Cuma Wakatobi Resort yang berlagu kalo LOB masuk ke house reef dia, cuma konon mereka itu ada kasih listrik atau uang ke nelayan untuk tidak harvest reef ini dan jadilah pristine.....so OK lah ada usaha ada reward.

Dive Center kan cari makan dari aktivitas diving, mereka invest di compressor, tabung, sumber daya manusia, kadang kala dive boat, sewa toko etc etc......maka so pasti pengalaman mereka minimal sudah memadai ( I hope ) untuk menjual jasa ini.

Kalo saya bisa di hitung pakai jari , memakai jasa dive center murni 100% terima bersih. Biasa nya asset nya saya pakai dan bayar, tujuan saya pilih sendiri dan time table saya pilih sendiri......pastinya TETAP pakai local knowledge sang guide dive center supaya maksimal kalo virgin location.

Saya bisa lakukan banyak diving organize sendiri antara kawan2 tok, karena punya akses ke kapal sendiri ( milik kawan ), tabung punya sendiri, compressor punya sendiri dan yang paling penting adalah, saya tidak suka diving dimana ada orang lain juga diving. Saya suka explore lokasi yg saya cari sendiri. Jika pun saya diving dengan dive center manapun, saya bisa balik ke lokasi itu sendiri sebab semua lokasi baru ( baru bagi saya maksudnya ) divingnya pasti sudah terdata di logger GPS saya yang saya selalu bawa diving. Jadi mau balik lagi kapan ajah bisa.

Lalu saya punya catatan apa saja highlight lokasi tersebut dan table arus sedang seperti apa saat itu, semua saya catat jika lokasi cakep. Log book kagak ada udah, kan dive comp data kan ini semua.......yang ada buku pinter, pinter pinter nyatat gitu heheheh.

Crystal Bay ajah belum pernah saya selamkan dan tidak masuk dalam wish list saya pun. Cuma mola2 doank mah boring man, saya ada lokasi lain yang ada mola2 tapi cuma 1 sih, kagak serencengan kayak CB.

Tapi kalo u tanya udah diving di tempat aneh di Indonesia yang sangat jarang diver Indo tau atau udah pernah pergi........banyak database gituan. Kalo lokasi yang cuman saya yang tau dan lakukan diving, juga ada. Kan hobby nya explorasi.

Jadi, silahkan kumpulkan asset supaya bisa mandiri untuk diving trip dan lakukan diving dengan kawan2 dekat. Memang jika bisa, pakai lah local guide atau asset mereka ( sewa kapalnya dan guide nya ) untuk lebih cepat kenal medan dan pada saat yang sama roda ekonomi biar berputar.

.

_________________
Used to be dumb but no more....


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Aug 30, 2012 7:13 pm 
Offline

Joined: Fri Mar 20, 2009 11:39 pm
Posts: 913
Location: Jakarta
Kresna wrote:
Pak Surya,

Analogi saya -membandingkan insiden diving dengan penerbangan- tidak terlalu tepat sebenarnya.

Tapi maksud saya, bukan mengandaikan diver sebagai penumpang, lalu dive operator = airlines dan guidenya = pilot. Bukan sama sekali.

Saya membandingkan sebatas sisi penelitian atau penyelidikan tuntas saja, sehingga bila ada kekeliruan/kekurangan dapat diperbaiki. suatu saat.

Diver seharusnya jadi pilot bagi dirinya sendiri.

Iya mending self-regulate aja. Jangan ngandelin pemerentah lah... kasian udah kebanyakan utang kerjaannya. :D. Paling enggak diskusi semacam ini.

salam,
K.


Pak Kresna,

Hehe he, setujuh sih kalo investigasi kudu gaya NSTB........so pasti akan hasil baik.
Saya sendiri senang sekali nonton Discovery Channel soal airline disaster. Itu untuk asah otak kita dan belajar troubleshooting. Sangat kepakai di bidang kerja saya.
Tetapi banyak kecelakaan penyebabnya UANG. Uang yang tidak di pakai untuk perawatan pesawat karena si airline udah kempot rugi melulu atau mau cepat kaya.
Adam Air contoh mau cepat kaya tuh.

Metric dan Imperial measurement saja telah buat pesawat jatuh, satu bicara pounds satu bicara KG. Ini terjadi saat Boeing seri apa gitu mulai metric kan fuel computer mereka dan fuel truck di USA masih pakai imperial. Ada kok case study nya.

Konon kecelakaan space shuttle NASA ada yang salah karena salah paham soal metric vs imperial , o-ring apa gitu salah ukuran......lupa neh tepat nya apa.

Jika kita perhatikan film dan berita Amerika yang soal scientific, sekarang banyak yang bicara dalam value meter dan kg alias metric. Kalo dulu mah pounds yards feet mile. USA punya immigration card ajah saat ini format tanggal nya udah normal , DD-MM-YY kalo dulu mah MM-DD-YY dan bikin pusing tujuh keliling saat pendataan tanggal di perlukan bagi kita yang mindset DD-MM-YY eeh dapat dokumen yang nulis orang USA atau company USA pula.

Jadi, saya setujuh 100% kalo kecelakaan diving bisa di investigasi demi database, kebaikan kedepan dan so pasti closure untuk keluarga korban juga sih..


Blup blup

_________________
Used to be dumb but no more....


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Aug 30, 2012 9:33 pm 
Offline

Joined: Sat Mar 20, 2010 7:31 pm
Posts: 222
Location: Jakarta Selatan
Bro Nando + Oom Surya

Terima kasih atas infonya

Salam

:)


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Sat Sep 01, 2012 3:32 am 
Offline
User avatar

Joined: Wed Jan 05, 2011 12:54 pm
Posts: 312
Jika Anda seorang certified diver dan di otak masih tertanam bahwa keselamatan Anda di laut berada di tangan seorang guide, dan walau telah sign liability release tapi jika terjadi kecelakaan diving maka Anda beranggapa guide-lah yang bertanggung jawab, entah bagaimana caranya Anda bisa memperoleh certified tersebut?

Seorang rekreasi certified diver telah dibekali kemampuan untuk menyelam berdua buddy, tanpa perlu seorang guide sekalipun ikut nyemplung, selama seluruh faktor2 pendukung memang tersedia, termasuk memahami limitasi diri dan kondisi alam.

Seperti yang telah dijelaskan oleh senior2 di sini, guide bukan malaikat penyelamat nyawa Anda di laut.

Nah, kalo baru OW, log minim, buoyancy belum sempurna, pengetahuan deco pas-pasan, pakai alat belum lancar, lalu karena pengen liat mola2 dan terbujuk rayuan gombal, nyemplunglah dia ke Crystal Bay. Dalam kondisi random, ini baru namanya jagoan...

Tapi, kalau ingin jadi jagoan beneran, silahkan main game di komputer, jangan di laut bro...


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 04, 2012 9:58 am 
Offline
User avatar

Joined: Mon Jun 14, 2010 9:24 am
Posts: 516
Location: jakarta
BotolKecap wrote:
Jika Anda seorang certified diver dan di otak masih tertanam bahwa keselamatan Anda di laut berada di tangan seorang guide, dan walau telah sign liability release tapi jika terjadi kecelakaan diving maka Anda beranggapa guide-lah yang bertanggung jawab, entah bagaimana caranya Anda bisa memperoleh certified tersebut?

Seorang rekreasi certified diver telah dibekali kemampuan untuk menyelam berdua buddy, tanpa perlu seorang guide sekalipun ikut nyemplung, selama seluruh faktor2 pendukung memang tersedia, termasuk memahami limitasi diri dan kondisi alam.

Seperti yang telah dijelaskan oleh senior2 di sini, guide bukan malaikat penyelamat nyawa Anda di laut.

Nah, kalo baru OW, log minim, buoyancy belum sempurna, pengetahuan deco pas-pasan, pakai alat belum lancar, lalu karena pengen liat mola2 dan terbujuk rayuan gombal, nyemplunglah dia ke Crystal Bay. Dalam kondisi random, ini baru namanya jagoan...

Tapi, kalau ingin jadi jagoan beneran, silahkan main game di komputer, jangan di laut bro...


ini gue demen banget komentarnya. Gue balajar banyak dan selalu diingetin -- thanks bro --, tanggung jawab ada di diri kita.

Baru2 ini waktu saya belajar OW, yang saya dapat kesan dan tertanam adalah diving yaa berdua (contoh di video aja selalu bedua... bukan betiga sama guide) dan hanya di lokasi tertentu saja perlu gudie dan memang gak pernah ada tanggung jawa pindah ke guide. Setelah baru beberapa kali diving di indonesia yang pelayanan guide nya menurut gue melebihi fungsinya, jadi keenakan diving pake guide dan sudah mulai teracuni "bahwa sah2 saja kita menyerahkan sebagian tanggung jawab keselamatan" ke guide atau DM.

Beberapa kali ke resort ada tulisan... "diving house reef tanpa guide sekian dolar"... wah ada juga yaa diving tanpa guide, sempat bertanya dalam hati.. "apa enaknya diving tanpa gudie -- baca : "tanpa orang yang bisa diserahi tanggung jawab ???!" ....

Ternyata rekan2...
kita perlu selalu disadarkan bahwa tanggung jawab keselamatan tetap di diri kita , bukan ke guide atau DM.. makanya perlu dicoba sekali2 diving bedua aja tanpa guide, utamanya di lokasi yang udah di kenal. Sekarang guide2 kami di P. Pramuka... udah mulai males nemenin kami diving.. hehehehehe..

Pertama mencoba diving bedua aja... ternyata cukup stress.. but it was always be a 'first time' right ? ..

just my wo cents..
aria


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 04, 2012 10:11 am 
Offline

Joined: Mon Feb 08, 2010 10:37 am
Posts: 87
guide kan emang cuman nge 'guide' alias nunjukkin aja tempat2 yg bagus (kalo kita belum tahu) ?
kalau aku sering banget bahkan hampir selalu tiap diving minta guide sendiri,..soalnya selain nunjukkin tempat2nya, juga biar sabar nungguin aku..maklumlah...kalo buddy anak2 muda biasanya kagak sabaran nungguin oma2 yg lelet..

kalo guide suruh bertanggungjawab ya repot lah....

tapi ada loh pengalamanku...waktu di salah satu dc di padang bai (dan dibeberapa dc lain juga sih) aku bilang hanya mau dive yang deket2 dan aman2 aja...lalu hari keduanya diajak dive ke nusa penida..aku nggak mau karena aku kan tahu kemampuan/tenaga ku, dan juga tingkat kepanikan kalo ada apa2...tapi dc nya bilang: nggak apa2..kan ada guide..aku teteup kekeuh gak mau...
kalao begitu..kalo ada apa2..tanggung jawab guide bukan yah ?


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 04, 2012 1:34 pm 
Offline

Joined: Fri Mar 20, 2009 11:39 pm
Posts: 913
Location: Jakarta
Konon si Jepun adalah DM dari Langkawi loh. Makanya tamu nya semua Malaysia sebab Lankawi kan di Malaysia. Jadi bukan pemula.

Yah no comment lah..........

_________________
Used to be dumb but no more....


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 04, 2012 1:38 pm 
Offline
User avatar

Joined: Wed Aug 19, 2009 9:18 am
Posts: 185
deniwaty wrote:
tapi ada loh pengalamanku...waktu di salah satu dc di padang bai (dan dibeberapa dc lain juga sih) aku bilang hanya mau dive yang deket2 dan aman2 aja...lalu hari keduanya diajak dive ke nusa penida..aku nggak mau karena aku kan tahu kemampuan/tenaga ku, dan juga tingkat kepanikan kalo ada apa2...tapi dc nya bilang: nggak apa2..kan ada guide..aku teteup kekeuh gak mau...
kalao begitu..kalo ada apa2..tanggung jawab guide bukan yah ?


menurut saya kalau akhirnya kita mau tetep diving karena dc nya bilang seperti itu, tanggung jawabnya ya tetep di kita, karena pilihan akhir mau diving atau nggak kan tetep ada di kita. :)

Dive center bisa bilang kayak gitu biasanya juga karena mereka punya pertimbangan komersial dan nggak mau susah aja. Misalkan mereka punya dive guide gak banyak, terus hari itu ada yang mau ke nusa penida, yaudah sekalian aja tamu lain dibawa ke nusa penida. kalau ada tamu lain yang minta ke blue lagoon pake jukung, nanti ribed lagi ngurusnya dan cost juga bisa keluar lebih banyak. pemikiran sepeti itu tentunya nggak bisa dibenarkan, tapi pada prakteknya pasti ada dc2 yg seperti itu.

_________________
Randy | Email: [email protected]


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 04, 2012 7:37 pm 
Offline
User avatar

Joined: Wed Jan 05, 2011 12:54 pm
Posts: 312
deniwaty wrote:
tapi ada loh pengalamanku...waktu di salah satu dc di padang bai (dan dibeberapa dc lain juga sih) aku bilang hanya mau dive yang deket2 dan aman2 aja...lalu hari keduanya diajak dive ke nusa penida..aku nggak mau karena aku kan tahu kemampuan/tenaga ku, dan juga tingkat kepanikan kalo ada apa2...tapi dc nya bilang: nggak apa2..kan ada guide..aku teteup kekeuh gak mau...
kalao begitu..kalo ada apa2..tanggung jawab guide bukan yah ?

nambahin apa yang sudah disebutkan oleh Kakak Randy, jika kita sign liability release, ya artinya mereka (guide/operator) dibebaskan dari segala tanggung jawab selama penyelaman. jadi yang dilakukan oleh Oma Deniwaty dengan menolak sudah benar kok. buat apa nyelam bayar kalau kita sendiri ngga nyaman bukan?


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Sep 05, 2012 1:58 pm 
Offline

Joined: Wed Jul 14, 2010 1:44 pm
Posts: 163
Location: Midden - Java
urun rembuk lagi ah.....

Mengenai liability release clause, lalu diartikan sebagai "get out of jail card" dari DC, menurut saya perlu kajian mendalam dari para ahli hukum, jadi langsung pada conclusion tersebut sangat terlalu dini.

Every diver is responsible for their action, but what is the problem is not derive from the diver ?? (eg. saya pernah dengar Dive boat yang meninggalkan dive location to save fuel, lalu baru akan balik setelah ETA diver surface, lah iya kalo tepat, kalo ada emergency, atau drifting ???) eniwei untuk itulah perlu diadakan investigasi, supaya jelas apakah ada kesalahan dari pihak diver or Operator (supaya gak saling curiga). Model yang paling bagus ya kayak di penerbangan, investigasi untuk peningkatan keselamatan (seperti posting saya sebelumnya)

other point is, if a customer hire a DC, than he/she deserve to get service what he/she expect( offer) , Itu juga mendasari kenapa perlu ada regulasi (baik self regulated or govt regulate) supaya jelas standar di DC (jadi jangan kejadian hire DC sama dengan beli kucing dalam karung). Lah misalnya ada orang udah save money untuk trip dive satu-satunya sepanjang tahun, lah sampe lokasi (yang jauh amat dari rumahnya) dapat DC yang abal-abal (perlatan ala kadar, guide cuma AOW), ini kan kasian, ok si diver bisa tolak untuk nyelam, cuma ya itu dia rugi time and money.

Tentunya forum selam telah membantu untuk identifikasi DC yang ngawur, tapi ini kan cuma sarana informal.

Further protection is needed for diver (a.k.a customer)

just my 100 perak


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 49 posts ]  Go to page Previous  1, 2, 3, 4  Next

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 2 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
cron