It is currently Sat Oct 21, 2017 6:18 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 49 posts ]  Go to page Previous  1, 2, 3, 4  Next
Author Message
 Post subject:
PostPosted: Tue Aug 28, 2012 11:33 pm 
Offline

Joined: Sat Mar 03, 2012 5:33 pm
Posts: 19
Location: padang, west sumatera
Institusi kepolisian mestinya bisa didesak untuk mengusut tuntas insiden tersebut. Pasalnya ini terkait dengan keselamatan manusia, baik itu warga negara asing maupun warga negara Indonesia.

Dalam hal ini satuan Ditpolair yang biasanya ada di dalam organisasi setiap kepolisian daerah mesti didorong untuk memulai penyelidikan. Saksi ahli bisa dimohonkan kesediaannya pada organisasi selam yang diakui kompetensi dan reputasinya.

Semangatnya adalah untuk melakukan menemukan penyebab pasti insiden tersebut. Ini penting supaya ada langkah-langkah pencegahan di masa depan agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.

SalamSelam

ingki


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 2:37 am 
Offline

Joined: Mon Jun 21, 2010 10:29 pm
Posts: 171
Location: Rotterdam
Soal investigasi dan lawsuit berkaitan dengan kecelakaan scuba diving bisa diajukan kalau mau menilik hukum pidana KUHP. Yang saya tahu KUHP pasal 359 dan pasal 360 itu berkaitan dengan kelalaian yang menyebabkan tewas dan luka-nya seseorang. Kelalaian di sini tentunya harus diinvestigasi lebih lanjut dari apa yang telah dilakukan oleh dive operator-nya dan hubungannya dengan kematian yang terjadi.

Jadi, polisi punya landasan hukum bila mau melakukan investigasi (Ini baru opini, mohon klarifikasi bila saya salah)

Saya bukan pengacara tapi kebetulan kerjaan berkaitan dgn penelitian hukum dan seinget saya pasal ini biasanya digunakan bila ada kecelakaan lalu lintas, bahkan kalau gak salah pernah ada kasus di Indonesia yang menggunakan pasal ini untuk kasus malpraktek kedokteran - udah lama banget..kasus bahela.

tapi bukannya sebelum kita menyelam biasanya kan ada tuh perjanjian sama dive operator...apakah itu masih mengikat ketika ada kematian?

Mungkin ada pengacara di sini yang bisa klarifikasi?

kalau pandangan pribadi saya sih yaaa...KUHP Indonesia ini sanksi-nya (hasil dakwaan/judgement-nya) seringkali mengecewakan bagi korban, karena emang harus direvisi agar uptodate dengan kondisi sekarang. Lebih baik bila disusun regulasi baru yang mungkin lebih ke arah pelayanan konsumen dan keselamatan konsumen getu..dan dibawa ke ranah perdata ketimbang pidana..


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 6:42 am 
Offline

Joined: Fri Mar 20, 2009 11:39 pm
Posts: 913
Location: Jakarta
Soal polisi ikut campur, sebaiknya jangan. Ribet.
Diving di Crystal Bay ataupun di lokasi lain yang challenging, beda tipis dengan pendaki gunung ( bukan kelas Mount Everest yah, kelas G Merapi dan G Gede ajah deh ), yaitu semua sport beginian ada resiko.

Guide dalam hal ini cuma individu yang dalam teori lebih kenal alam dan bisa buat judgement yang lebih baik, ketimbang tourist yang tidak paham lokasi. Tetapi guide bukan lah bodyguard atau safety officer. Jika guide ingin di jadikan safety officer, lakukan 1 on 1 supervision, cari guide yang super competent dan 1 on 1 ratio. Jika 1 on 1, jika sampai cilaka bisa di pastikan safety officer nya pun akan cilaka, kan dia kudu pasang badan demi yang di lindungi nya.......in theory.

Si Denmark, korban terakhir nampaknya dive solo, sebab dia udah "lokal" tuh.
Di asumsikan skill nya dan pengalaman untuk Crystal Bay sudah memadai.
Apes ? Murphy Law ? Medical Condition ? Entah lah.

Main di alam yang dinamik dengan down current, horizontal current dan bla bla bla, itu resiko sendiri. Kita toh sudah certified, guide cuma petunjuk lokasi, bukan Superman. Pendidikan diving kita sudah jelas perlu ditambah oleh logika kita saat diving di lokasi A B C.

Dive guide manapun kan awalnya juga non diver, lalu jadi newbie diver, lalu jadi more experience diver dan entah level apa nantinya si guide mau kembangkan diri nya. Maka logika nya adalah si guide tersebut tidak beda dengan diver manapun saat pertama mereka menyelam di Crystal Bay, sama sama pernah berstatus newbie dengan jam terbang minim. Jika mereka bisa jadi guide karena bisa baca keadaan alam dan mungkin dapat didikan spesifik mengenai bahaya nya Crystal Bay oleh senior mereka, kenapa kita tidak bisa belajar hal yang sama ? Siapapun yang pernah diving di Crystal Bay, akan pernah alami 1st time diving di sana. Tidak ada orang lahir dan diberikan brain implant ber database HOW TO DIVE C-BAY dan jadi mahir seketika. Semua ada proses belajar.

Jika Crystal Bay memang di anggap bahaya, tutup saja lokasi nya. Alam tidak bisa di salahkan, itu sudah given. Yang salah adalah mampu tidak kita diving disana ? Jangan harapkan guide akan clip kan tali safety ke BCD kita seperti orang latihan sky diving pertama kali dengan gaya tandem.

Jika guide tidak cek dulu skill diver sebelum di bawa ke Crystal Bay..........salah kah ?
Yes and No. Dalam teori, jika diver sudah punya sertifikasi Advance yang konon di diver bisa deep dive ke 40 meter dan etc etc, lalu sudah logged dive andaikata 50-100 deh ( entah diving nya dimana ), konon si diver ini sudah fit to dive di lokasi yang lebih challenging. Tetapi balik lagi, kita punya otak, punya logika dan tau skill kita, jika kita mau push our luck far beyond, tidak bisa orang lain larang kita. Kalo kita ngebut setelah baru lulus belajar mengemudi, apa guru kita salah ? Yah tidak lah, yang salah kita sendiri.

Guide buka dewa dan tidak perlu di dewakan. Semakin kita dewa kan seorang guide, semakin bodoh kita jadi nya. Belajar sama mereka apa saja bahaya lokasi A B C tersebut, bukan harapkan di baby sit 100%. Maka jika ada fatality, guide jangan terlalu di salahkan. Jangan kesalahan kita di oper ke orang lain, tidak baik. Hanya pada 1 on 1 safety officer scenario, seorang guide boleh terima sial di salahkan.
Jika 1 banding 4 supervision ratio, yah siap siap terima 25% attention deh.

Saya diving di Batu Abah 1st time, tanpa guide di air. Guide nya di kapal sebab guide nya freediver bukan scubadiver dan sudah logged lebih dari 300 diving days ( bukan logged dive, 1 Freediving day bisa 5 jam di air ) di Abah. Yang paling hafal Batu Abah di Bali bukan scuba diver tetapi freediver, ini tempat lebih bahaya daripada Crystal Bay pada keadaan worst case nya. Dia bacakan keadaan dan dia tentukan kapan boleh masuk ke air karena arus nya dia yang pandai baca. Pada dive ke 2, down current mulai main, yah kita naik lah ke permukaan dan selesai sudah dive nya. Down current ini masih mild dan tidak terbaca dari permukaan sebab baru mulai di pertengahan diving.

Bersama saya ada 3 diver Advance yang sudah logged 200+ dive tetapi 170 dive nya selalu bersama saya dan sudah kenyang kena maki2 dan banyak belajar A B C D. Apakah saya takut di Batu Abah ? Yah iyah lah, wong 1st time dan udah dengar banyak cerita, dimana freediver ajah sampai patah carbon fiber fin nya mau naik ke permukaan kena sedot down current, untung ada pelampung 20 liter di ujung trailing line mereka sebagai alat bantuan naik.

Moral of the story adalah, yah belajar dan belajar. Jika Crystal Bay rawan, cari tempat yang kurang rawan dulu dan progressive pindah ke lokasi yang lebih rawan. Jika memang perlu diving di tempat yang rawan. Kalo tidak perlu, yah tidak usah. Kita diving for fun, bukan mau challenge mother nature. Tetapi saat mother nature throw at us their fury, sukur2 skill dan keberuntungan kita memadai, itu doank.

Jangan terlalu andalkan guide jika bisa, untuk underwater time kita, tetapi selalu andalkan guide untuk pelajari sifat alam lokasi dan di mana saja titik bahaya. Dalam diving yang paling bahaya cuma down current kuat, kalo horizontal current no problem, hanyut pun radio bisa bantu. Kalo ke sedot ampe abyss yah sial deh kita dan bisa jumpa para almarhum. Tapi untung tetap ada alat yang bisa bantu sih soal down current, 100% pasti sukses belum tentu, at least ada fighting chance deh.


Blup blup blup.......Dive Safe my friends.

_________________
Used to be dumb but no more....


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 9:36 am 
Offline

Joined: Wed Jul 14, 2010 1:44 pm
Posts: 163
Location: Midden - Java
Setuju pengusutan tuntas, seperti juga dalam dunia penerbangan, penyelidikan kecelakaan itu utamanya untuk pencegahan kejadian sama terulang lagi.

di Crystal Bay sering terjadi kecelakaan. Pak Surya bilang tempat tersebut adalah berbahaya, dan para diver-lah yang datang ke alam, namun saya mengusulkan untuk tempat-tempat yang sudah diidentifikasi berbahaya, tentunya special regulation needed khusus untuk tempat tersebut, (eg. kewajiban ratio guide dengan tamu, kualifikasi untuk guide di daerah tersebut, min requirement Dive Operator untuk beroperasi di daerah tsb) walaupun pada akhirnya setiap diver harus well prepared, seperti yang dikatakan p. surya, namun jika berkaitan dengan kegiatan umum, tentunya aturan juga harus diadakan.

hal ini juga didasari telah terkenalnya Bali sebagai dive destination, dimana crystal bay termasuk higlightnya, jangan sampai para turist yang ke sana beranggapana karena tidak ada aturan khusus, maka beranggapan berlaku "Dive & let the rest to luck"

Anyway untuk masalah regulator, untuk masalah laut ini masih terlalu banyak kewenangan yang overlaping, siapa yang berwenang untuk mengatur dive operator, keselamatan laut, perjalanan laut, penyelaman. disini Dinas Pariwisata, Dinas Kelautan, KPLP, Polair, TNI-AL, dan mungkin ada dinas-satuan lain, semua merasa berwenang.

Oiya 359 KUHP adalah pasal utama ketika terjadi kelalaian yang menyebabkan kematian (tapi sekarang untuk kecelakaan lalu lintas telah digunakan UU Lalu lintas terbaru), namun banyak sekali sekarang aturan lain yang mengatur, seperti UU Pelayaran, etc. Namun gunakan sarana ini jika ditemukan gross violation of precedure, logikanya, jika pengusutan sejak awal dilakukan untuk penghukuman, tentunya pihak yang diwanwancari akan berupaya shift the blame to other, sehingga akhirnya tujuan awal untuk pencegahan kejadian sama terulang tidak tercapai.

It' just my 100 perak


Last edited by advseek on Wed Aug 29, 2012 9:52 am, edited 1 time in total.

Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 9:47 am 
Offline
User avatar

Joined: Thu Jul 09, 2009 5:51 pm
Posts: 1571
Location: Jakarta
Belakangan ini kecenderungannya jika terjadi diving incident kenapa seakan operator yg jadi 'tertuduh'? Ini hal yg aneh dan out of logic. Diving itu pilihan. Kalau kita tdk siap menerima risiko, then don't dive, simple.

Mbah Surya sdh jelaskan secara jelas soal responsibility diver, guide, operator dsb. Ini adalah fakta dari choices yg kita pilih dalam aktivitas diving. Don't blame others, dan belum2 sdh refer soal hukum pidana. Pada umumnya dlm diving incident, kejadiannya adalah insiden tunggal yg disebabkan oleh berbagai kemungkinan termasuk apesnya si korban. Ya nasib.

Mengenai penyebab, pada umumnya hasil pemeriksaan post mortem bersifat confidential, dan krn itu tdk di publish. Dari bbrp laporan post mortem di Indonesia, hasil autopsy atau external examination dlm diving incident yg fatal disebutkan cause of death adalah 'tenggelam'. Ini adalah medical term standard utk kematian akibat asphyxia krn saluran napas terisi air.

Dalam sebuah case di malaysia tahun lalu, post mortem report pada seorang korban tertulis 'undetermined'. Nah lebih gak jelas kan?

DAN memiliki riset khusus mengenai diving incidents, baik yg fatal maupun non fatal. Laporannya selalu diterbitkan secara berkala dan dpt diakses oleh member. Sifat pelaporan insiden ini adalah voluntary and no name basis.

Berdasarkan SOP, setiap operator akan melaporkan insiden yg terjadi pada tamunya ke diving agency ybs. Pemeriksaan kondisi dan status equipment sdh menjadi standar, misalnya brp sisa udara di dalam tank, apakah peralatan msh lengkap saat korban ditemukan, dsb. Operator memerlukan ini utk keperluan data dan juga asuransi jika sampai muncul lawsuit atas insiden dimaksud.

_________________
BBeXplorers - Indonesia's Center for Diving Excellence | GUE Affiliate | We provide: Diver Training, EFR Training, Halcyon Dive Systems | Need info on joining DAN? E-mail me: rendra [at] banyubiru.org | Join our group on facebook: Banyu Biru Explorers


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 10:38 am 
Offline
User avatar

Joined: Wed Aug 19, 2009 9:18 am
Posts: 185
Sependapat sama om Rendra dan Mbah Surya. Saya pribadi kurang setuju untuk masalah ini terlalu dibawa ke ranah hukum, karena kita bermain di alam, jadi hukum alam juga berlaku, itu jangan dikesampingkan.

Namun menanggapi terkait pernyataan2 seputar hukum diatas, seingat saya hingga saat ini seharusnya semua diver masih dianjurkan menandatangani liability release form. PADI, SSI, NAUI semua punya, saya udah pernah liat beberapa model liability release form. Intinya semua sama, kita sebagai diver, melepaskan tanggung jawabnya dive guide maupun operator jika terjadi accident yang menyebabkan (amit2 *ketok meja*) cedera, cacat, dan yang paling buruk dikembalikan kepada yang maha kuasa. Jika kita menandatangani form ini, kita tidak bisa menuntut apa2 jika terjadi accident. Termasuk jika itu dikarenakan kelalaian dari dive guide atau operator.

Lah kok enak jadi dive guide gak perlu tanggung jawab? Ya kalo nggak dilindungi sama form ini, siapa mau jadi dive guide? Lah wong risiko tinggi dan urusannya sama alam.

Tapi ini bukan berarti kita bisa mengesampingkan accident2 yang terjadi belakangan ini. Investigasi? Tetap perlu menurut saya. Tapi kalau bisa dilakukan oleh organisasi2 seputar diving yang lebih bertujuan untuk mencari solusi, bukan untuk memberikan "punishment".

Kalau memang ada dive operator yang ngaco, tapi kita tetep mau diving sama dia? Jadi salah diri kita sendiri nggak sih, kok masih mau diving sama operator kayak gitu. Biarpun udah bayar, kalo memang nggak sreg sama dive guide/operator nya ya jangan nyemplung. Urusan pas di darat mau minta duit balik ya coba diomongin secara kekeluargaan lah...terserah sama keluarga siapa. 8)

Yang penting disini spiritnya adalah kita mencari solusi, jangan mengejar siapa yang harus dituduh dan hukumannya apa. Selain itu, ingatlah selalu untuk menjadi diver yang bertanggung jawab pada diri sendiri dan berbakti pada nusa dan bangsa..MERDEKA! :D


Regards,
Randy

_________________
Randy | Email: [email protected]


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 11:08 am 
Offline
User avatar

Joined: Tue Sep 15, 2009 3:15 am
Posts: 1396
Location: Katameya Heights
Tidak berkaitan langsung dengan diving accident di NP, tapi masih menyangkit safety, dan ternyata sangat relevant juga untuk diterapkan di diving dan juga aspek kehidupan lainnya.
Bulan lalu kebetulan saya berkesempatan ikut leadership training nya Dr. Bruce Staley - Safety Management consultant dari UK. Silahkan di google siapa dia.
Yang menarik - dan juga membuat kita2 kaget adalah 2 statement nya, yaitu:
1. Safety is not the first priority.
2. 99% safety accident/incident disebabkan factor manusia.

Kita kaget, karena utk yang no. 1 jelas bertentangan dengan slogan2 yang selama ini kita gembor2kan.
Dimana-mana orang juga teriak "Safety is our first priority"
Sedang yang no. 2 juga tidak sesuai dengan data statistik di industri yang kita geluti - migas- yang kebetulan salah satu industri yang dianggap paling berbahaya dengan potensi catastrophic accident.
Jelas aja, kita protes berat - nih consultant dibayar super mahal - malah enak aja bilang safety is not first priority dan juga begitu enaknya hampir sepenuhnya menyalahkan manusia dalam hal safety accident.

Eh dia malah nyengir - dan nantangin dengan exercise untuk mendapatkan case yang 1% - dimana safety accident bukan karena human error.
Hasilnya - kita - yang diantaranya adalah HSE manager- gagal, nggak bisa menyebutkan contoh yang 1%. Dan dia juga nggak tahu yang 1% itu - cuma kalau langsung bilang 100% safety accident itu karena manusia - kesannya atheis.
Tapi kalau dibilang yang 1% itu karena "God" lah kok malah menuduh Tuhan .... nggak saya terusin, karena takut salah tangkap.
Lebih lanjut dia bilang, karena 99.9% adalah manusia, tentunya manusia lah yang bertanggung jawab untuk itu.
Siapa? Semua nya, semua manusia yang terlibat - dan yang paling bertanggung jawab adalah kita "the leader". Pakai tanda petik karena setiap orang pada dasarnya adalah leader - setidaknya untuk dirinya sendiri.

Pengen saya lanjutin dongengannya, cuma ada meeting sebentar lagi - sorry, direnungkan aja dulu. Tidak mudah mencerna seluruh penjelasannya.

Salam
Wisnu
yang lagi bekerja di project migas terbesar dan juga paling berbahaya
didunia (700 barg operating pressure, 14% H2S)
yang artinya - safety is NOT my first priority.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 11:23 am 
Offline
User avatar

Joined: Wed Aug 19, 2009 9:18 am
Posts: 185
postingan mas wisnu menarik, yang no. 2 udah nangkep maksudnya, tapi yang no. 1 masih belom ngerti. Saatnya semedi di gunung kidul, siapa tau dapet wangsit terus jadi ngerti. 8)

_________________
Randy | Email: [email protected]


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 11:31 am 
Offline
User avatar

Joined: Mon Jun 14, 2010 9:24 am
Posts: 516
Location: jakarta
Saya dengar sekarang kondisinya crystal bay "ditutup" untuk kegiatan diving yaa..? apakan benar..? apakah sementara sambil menunggu investigasi atau bagaimana..? ada temen2 yang bisa klarifikasi..?

Btw saya setuju dengan statement bahwa kegiatan diving adalah kegiatan beresiko tinggi dan merupakan tanggung jawab divers sendiri atas keselamatannya. Kalau gak berani yaaa jangan diving.. DM bukan penangggung jawab, dia cuma sekedar orang yang lebih tau "jalan" dan bisa jadi lebih berpengalaman saja.

my condolences.. semoga yang terbaik untuk semua..

Aria


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 11:36 am 
Offline
User avatar

Joined: Mon Jun 14, 2010 9:24 am
Posts: 516
Location: jakarta
kosasih.raditya wrote:
postingan mas wisnu menarik, yang no. 2 udah nangkep maksudnya, tapi yang no. 1 masih belom ngerti. Saatnya semedi di gunung kidul, siapa tau dapet wangsit terus jadi ngerti. 8)


Yang utama bukan safety mas, tapi "duit". Kalau kasusnya mas Wisnu, ngapain juga ngerjain kegiatan dengan H2S setinggi itu, kalau bukan karena kebutuhan Migas. Konsern berikutnya barulah safety. Kalau orang gak mau repot2 cari minyak dan gak mau repot ngurusin H2S segitu tingginya.. gak perlu ribet juga kan faktor safety.. menurut saya begitu.

salam,
Aria


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 12:23 pm 
Offline
User avatar

Joined: Tue Sep 15, 2009 3:15 am
Posts: 1396
Location: Katameya Heights
Safety is NOT first priority - tapi harus ballance dengan hal-hal lain seperti productivity, efficiency, quality, dan juga "fun" bahkan dengan memacu adrenalin.
Kalau safety adalah first priority - maka kita nggak akan cari minyak, nggak akan ke kantor (coba lakukan safety analisys - dari rumah ke kantor, apalagi di jakarta) dan tentunya juga ngapain diving - apalagi ke nusa penida mau cari mola-mola, Khan mendingan kelonan dengan istri dirumah - inipun bisa tidak aman juga.
Kita semua juga tahu, ngisep udara di kompres, pada kedalaman 20 - 30m, arusnya kuat dan unpredictable bukan lah sesuatu yang aman. By design - human is delicate - not safe. Kecoa jauh lebih robus dari human.
Lho ngapain kesana, bayar lagi .. apakah idiot? tentunya tidak .. ada yang diperoleh dari kegiatan yang tidak mencerminkan safety ini.
Disinilah letak " balance".

Tapi - Safety HARUS menjadi priority ketika terjadi ketidak seimbangan ataupun konflik dengan hal-hal lain.
Safety vs productivity - kalau konflik, maka safety harus jadi priority - loss productivity kehilangan money - loss safety, kehilangan nyawa.
Sama hanya dengan diving safety - harus balance.
Nah ketika terjadi ketidak seimbangan ataupun konflik antara keinginan diving dan safety, tentunya safety harus jadi priority.
Artinya disini - kita diving dengan safe - ini balance namanya.

Untuk bisa balance antara safety dan diving - tentunya harus melewati suatu "proses" dan effort yang melibatkan semua komponen - dan selalunya tidak murah.
Nah kalau baru belajar diving - masih kaya yoyo - terus nekat diving ditempat yang sudah diketahui sebagai susah, tidak aman, dan unpredicatble, sudah gitu cari operator yang maunya super murah - peralatan seadanya - dive ratio tinggi sekali - ini sudah tidak balance dan meletakan diving sebagai priority diatas safety.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 12:36 pm 
Offline

Joined: Thu Nov 03, 2011 3:23 pm
Posts: 32
http://www.thejakartapost.com/bali-daily/2012-08-29/crystal-bay-waters-closed-after-two-deaths.html

Quote:
After the back-to-back deaths of two divers, Nusa Penida police closed Crystal Bay Beach on Nusa Penida Island in Klungkung regency on Tuesday and urged diving operators to stop bringing divers to the site.

“We have closed the beach for further investigation,” head of Nusa Penida Police, Comr. I Wayan Sarjana, said on Tuesday.

Crystal Bay is a small inlet on the westernmost end of Nusa Penida. It is popular among divers for its crystal clear waters and the chance to discover Nusa Penida’s famous Mola Mola (oceanic sunfish) at about 30-meters depth, as well as beautiful coral beds at 20-meters depth. However, due to its strong downward current, it is recommended only for experienced divers.

Sarjana refused to disclose how long the beach would be closed and whether the police would take legal action against diving operators that refuse to observe the recommendation.

“It will be closed for an indeterminate period,” he said.

The police have not confirmed the cause of the two deaths. The Sanglah hospital forensic team is currently performing an autopsy on the body of the Japanese tourist, while waiting for permission from the Danish tourist’s family to conduct an autopsy.

On Tuesday, Danish diver Hendrik Kent Jensen, 43, was found dead during a diving session in Crystal Bay. At 7:30 a.m., Jensen, who was staying at Vila Pisang in Lembongan village, went for a dive with his friends, Thillo and Susana. They were accompanied by boatman I Nyoman Prewita, 55, who operated the traditional jukung King Viser.

After an hour diving, Jensen had not come to the surface and was later found breathless floating on the water’s surface.

“The jukung captain brought him to the nearest public health center, Nusa Penida II at Jungut Batu,” said Sarjana. At around 10:30 a.m., Jensen was pronounced dead and the death reported to the police, while his body was evacuated to Sanglah hospital in Denpasar.

Jensen, who had been living in Bali for four years, was known as a skillful diver, who once worked as a diving instructor for Bali Dive Center.

“According to his friends and a number of other witnesses, the current on the ocean floor and the weather were normal,” said Sarjana.

Jensen had dived at the same Crystal Bay site as Japanese tourist Ai Tanaka, 34, who was found lifeless on Monday evening, after going missing from her diving group on Sunday.

Tanaka was reported missing on Sunday at around 12:30 p.m. She had been among a group of 13 tourists diving at Crystal Bay on a dive operated by Wreck Diving. When the dive session was over, only 12 divers surfaced.

Tanaka, who was staying at Padangbai Home Stay, was found on Monday at 5:45 p.m. at a depth of 43 meters in Crystal Bay waters.

Over the years, the waters of Nusa Penida have become known for the treacherous currents and a number of accidents involving divers have occurred in the past.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 2:07 pm 
Offline
User avatar

Joined: Fri Aug 25, 2006 10:33 am
Posts: 1564
pada kenyataannya manusia ga bisa lepas dari kesalahan..

"no one to blame but ourselves"

toh ini termasuk kejadian yang tidak diinginkan semua pihak koq.

seseorang bisa jadi pelimpahan atas (semua) kesalahan karena aturan/regulasi, bahkan tanpa intention sekalipun

pertanyaannya, apa perlu regulasi ini diberlakukan dalam recreational diving?

kalo diperlukan, kita harus membatasi apa yang disebut "recreational diving", apakah NP/NL bisa diklasifikasikan dalam recreational diving spot?

siapa nanti yang jadi law enforcement? Naval Police seperti NCIS?
dan pasti akan lebih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab.

_________________
Hernando Alkausar
--
www.hamueco.com/diving
+62-812-218-NNDO


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 2:49 pm 
Offline

Joined: Sat Mar 03, 2012 5:33 pm
Posts: 19
Location: padang, west sumatera
Rekan-rekan yth,

Menarik sekali pembahasannya dan terima kasih atas penjelasan dari beragam sudut pandang yang dipaparkan. Sungguh saya ingin melanjutkannya dengan diskusi tatap muka bilamana kelak ada kesempatan.

Pengetahuan ini mesti disebarkan pada khalayak. Ini hal penting yang harus diketahui publik.

Sementara ini saya masih berfokus pada isu ekologi maritim, potensi ekonomi laut, dan arkeologi kelautan. Namun soal keselamatan penyelaman, yang menjadi hulu dari beberapa isu tersebut belum saya garap dengan optimal.

Hanya pernah ada beberapa paragraf penjelasan yang saya uraikan mengenai penyakit dekompresi dalam artikel penyelaman di Pulau Pasumpahan, Kota Padang yang diterbitkan Harian Kompas pada 7 Agustus lalu. Saya berharap analisa mengenai beragam kemungkinan dalam isu keselamatan penyelaman bisa terus berkembang.

Apalagi Indonesia punya banyak sekali lokasi penyelaman. Masing-masing lokasi ini, saya yakin, punya karakteristik risiko masing-masing dengan analisa keselamatan yang sudah tentu berbeda-beda.

Dalam pandangan saya, beragam model analisa potensi risiko keselamatan penyelaman di lokasi-lokasi penyelaman mesti dikembangkan sebagai bagian dari ikhtiar. Selebihnya, tinggal berdoa dan setelah itu tawakal.

SalamSelam

ingki


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Aug 29, 2012 3:01 pm 
Offline
User avatar

Joined: Mon Jun 14, 2010 9:24 am
Posts: 516
Location: jakarta
ingki wrote:
Rekan-rekan yth,

Menarik sekali pembahasannya dan terima kasih atas penjelasan dari beragam sudut pandang yang dipaparkan. Sungguh saya ingin melanjutkannya dengan diskusi tatap muka bilamana kelak ada kesempatan.

Pengetahuan ini mesti disebarkan pada khalayak. Ini hal penting yang harus diketahui publik.
......
ingki


Saya setuju nih diskusi dilanjut dengan tatap muka, mengingat isu ini sudah membesar dengan penutupan 'pantai dan lokasi diving' oleh polisi. Sekaligus untuk meningkatkan awarnes kita sebagai divers, termasuk menyampaikan informasi kepada keluarga kita dan masyarakat yang bukan divers.

Jangan2 bentar lagi kegiatan diving dilarang ditempat2 lain. Dimensinya walaupun bisa meluas tapi minimal kita bisa bicara safety yang tentunya akan menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Biasanya om HES and bro rendra cepat tanggap nih untuk soal copy darat.. (hehehe),,,

Cheers,
Aria


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 49 posts ]  Go to page Previous  1, 2, 3, 4  Next

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 4 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
cron