It is currently Tue Dec 12, 2017 9:28 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 21 posts ]  Go to page 1, 2  Next
Author Message
 Post subject: berita pencemaran teluk buo di kompas
PostPosted: Mon Mar 19, 2012 6:58 am 
Offline

Joined: Sat Mar 03, 2012 5:33 pm
Posts: 19
Location: padang, west sumatera
Rekan-rekan Forsel Yth.

Saya baru saja melakukan penyelaman dengan metode free diving di perairan Teluk Buo, Padang. Tulisannya sudah diterbitkan di Kompas cetak hari ini, Senin (19/3) pada halaman 22. Fokus tulisan pada sedimentasi parah di kawasan perairan itu. Mohon tanggapan dan masukannya.

Salam
Ingki







"Sebagian orang mengaku hidup dalam tekanan, padahal mereka belum pernah menyelam"


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Mar 19, 2012 3:13 pm 
Offline
User avatar

Joined: Thu Jul 09, 2009 5:51 pm
Posts: 1571
Location: Jakarta
Noted, thanks for info. Nanti dibaca.

Cheers,

_________________
BBeXplorers - Indonesia's Center for Diving Excellence | GUE Affiliate | We provide: Diver Training, EFR Training, Halcyon Dive Systems | Need info on joining DAN? E-mail me: rendra [at] banyubiru.org | Join our group on facebook: Banyu Biru Explorers


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Mar 20, 2012 1:47 pm 
Offline

Joined: Sat Mar 03, 2012 5:33 pm
Posts: 19
Location: padang, west sumatera
Trims mas,

Oiya, hari ini perkembangan lanjutan isu tersebut juga kembali terbit di Kompas cetak halaman 23. Termasuk juga foto kerusakan akibat sedimentasi pada hamparan karang di kawasan perairan itu.

Mohon tanggapan dan masukan.
Trims.






"Sebagian orang mengaku hidup dalam tekanan, padahal mereka belum pernah menyelam"


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Mar 20, 2012 3:20 pm 
Offline
User avatar

Joined: Tue Sep 15, 2009 3:15 am
Posts: 1396
Location: Katameya Heights
pengen baca, cuma disini ngga ada Kompas,
apa bisa dikasih link nya di site nya kompas.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Mar 20, 2012 3:34 pm 
Offline
User avatar

Joined: Thu Jul 09, 2009 5:51 pm
Posts: 1571
Location: Jakarta
Inki,

Tulisannya sangat menarik dan obyektif.

Masalah 'pencemaran' seperti yang terjadi di Teluk Buo memang selayaknya memperoleh perhatian dari pihak regulator, apalagi jika masalahnya memang sejak awal sudah diketahui dan dapat diantisipasi.

Yang namanya pembangunan pasti akan menimbulkan dampak dan hal ini tidak dapat dihindari. Namun demikian, dampak tersebut seharusnya dapat diantisipasi dan dimitigasi agar menjadi minimum. Contohnya yang di Teluk Buo sebagaimana tulisan Inki, sudah jelas proyek yang dibangun memiliki potensi pengrusakan alam saat konstruksinya, maka sebaiknya sejak masa konstruksi sudah dilakukan upaya-upaya mitigasi oleh pemilik proyek maupun kontraktor.

Masalahnya, upaya mitigasi selalu diterjemahkan sebagai additional cost. Nah, kebanyakan kita hanya menghitung biaya tambahan saat proyek berlangsung, sementara biaya dari dampak kerusakan dan rehabilitasi di kemudian hari tidak diperhitungkan matang. Padahal ujung2nya pasti akan lebih mahal melakukan rehabilitasi dibandingkan melakukan antisipasi kerusakan. Inilah kekurangan kita saat ini. Belum bisa menghitung secara pintar dan bijaksana. Taunya biaya proyek di squeeze minimum, supaya bisa di markup untuk kepentingan yang gak jelas hahaha...

Melihat pengalaman Teluk Buo dan beberapa daerah lain, saya sangat concern dengan rencana pembangunan jembatan Selat Sunda yang nantinya akan melintasi daerah Pulau Sangiang dan beberapa pulau lain di Selat Sunda bagian utara. Masalahnya bukan pada jembatan yang akan dibangun, akan tetapi sejauh mana pelaksanaan proyek pembangunan dapat mengakomodasikan perlindungan terhadap alam, sejak pra-proyek hingga selesainya konstruksi dan akhirnya jembatan beroperasi.

Pulau Sangiang di Selat Sunda telah mengalami tekanan yang luar biasa dari penangkapan ikan dengan menggunakan bom di masa lalu. Dalam kurun 10 tahun terakhir upaya pihak pemerintah untuk melarang pengeboman telah membuahkan hasil dalam bentuk peningkatan tutupan terumbu karang baru yang sehat dan indah. Coral cover di Sangiang pertumbuhannya tergolong sangat baik. Selain tekanan dari irresponsible fishing, Pulau Sangiang juga ditekan oleh sampah yang hanyut dari daratan maupun buangan dari kapal yang melintas di Selat Sunda, termasuk buangan sludge dari tanki kapal pengangkut minyak.

Masih banyak contoh lain, misalnya apa yang terjadi di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu. Formasi ekosistem laut di Kepulauan Seribu banyak rusak akibat tekanan dari pembangunan kota Jakarta dan daerah industri di sekitar Jakarta. Harusnya kerusakan seperti ini bisa diantisipasi dan dimitigasi oleh pemerintah dengan didukung segenap masyarakat. Akan tetapi apa yang terjadi justru seakan-akan terjadi ketidakpedulian terhadap pentingnya ekosistem, taunya hanya 'this is the way we live'... sungguh sayang.

Inki, mudah2an tulisan kamu mengenai pencemaran perairan di Teluk Buo bisa menjadi pengingat kepada kita semua akan pentingnya kesehatan perairan kita. Apa yang terjadi di Teluk Buo adalah kerugian yang sungguh luar biasa. Jika dihitung secara kuantitatif maka upaya rehabilitasinya akan berujung suatu angka yang sangat massive dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Immediate losses akan diderita oleh masyarakat sendiri, khususnya masyarakat pesisir. Mereka akan semakin sulit mencari ikan sebagai salah satu sumber kehidupan. Kita tidak usah bicara pariwisata dulu deh... pikirin aja gimana caranya masyarakat nelayan bisa kembali memperoleh tangkapan yang mampu memberikan hasil cukup agar mereka bisa hidup layak, dapat menyekolahkan anaknya, agar kelak anak-anak mereka bisa menjadi manusia yang pandai, berwawasan dan bijaksana untuk membangun negeri ini secara lebih baik di jaman mereka kelak.

Mari sadarkan diri kita dan masyarakat di sekitar kita akan pentingnya kualitas ekosistem perairan kita, demi masa depan yang lebih baik.

Keep writing, Inki!

Cheers,
Rendra

_________________
BBeXplorers - Indonesia's Center for Diving Excellence | GUE Affiliate | We provide: Diver Training, EFR Training, Halcyon Dive Systems | Need info on joining DAN? E-mail me: rendra [at] banyubiru.org | Join our group on facebook: Banyu Biru Explorers


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Mar 20, 2012 8:01 pm 
Offline

Joined: Sat Mar 03, 2012 5:33 pm
Posts: 19
Location: padang, west sumatera
Trims Mas Rendra,

Saya baru mulai menekuni isu kelautan secara intensif dalam tiga bulan terakhir. Selama ini saya hanya menulis laut dari permukaan. Mengulasnya dengan perspektif darat. Cara yang tentu saja tidak ideal.

Saya kaget mendapati kerusakan masif yang terjadi di bawah sana. Termasuk potensi luar biasa yang terkandung di dalamnya.

Tapi saya lebih kaget lagi mendapati nyaris tidak ada orang yang peduli pada kondisi ini. Yah, sampai empat bulan lalu saya pun masih menjadi bagian dari orang-orang yang tidak peduli itu.

Terkadang saya kesulitan menemukan teman diskusi untuk isu ini di tempat tugas saya sekarang. Bahkan, seperti terjadi pada isu lain, pemerintah terkesan tidak mengerti apa yang tengah mereka hadapi.

Saya berterima kasih atas masukannya mas. Semoga kelak bisa kita ulas juga perihal pembangunan di Selat Sunda yang merisaukan itu. Atau di lokasi-lokasi lain yang selama ini diabaikan. Dianggap sepi karena banyak orang menganggap laut sama dengan tong sampah raksasa.

Salam
ink

Untuk Mas Wisnu, karena berita dan fotonya terbit di Kompas cetak, maka tautannya di dunia maya tidak tersedia. Untuk melihat Kompas cetak versi digital, Mas Wisnu bisa mengakses laman epaper.kompas.com setelah melakukan registrasi terlebih dahulu.

Saya mencoba menyertakan contoh dari laman epaper untuk berita dan foto yang dimaksud pada forum ini. Namun sepertinya sistem penyertaan dokumen di forum ini sedang tidak berfungsi, maaf jika ternyata dugaan saya salah. Untuk mengatasinya apakah ada alamat email yang bisa saya tuju untuk mengirimkan dokumen dimaksud?

Salam
ink

"Sebagian orang mengaku hidup dalam tekanan, padahal mereka belum pernah menyelam"


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Mar 21, 2012 4:05 am 
Offline
User avatar

Joined: Fri Aug 25, 2006 10:33 am
Posts: 1564
maaf sebelumnya,

pengen nimbrung, tapi belom baca source nya, kalo boleh tau sedimentasinya ini karena faktor alam atau faktor manusia ya?

karena kalo faktor alam ga bisa dihindari, fenomena ini disebut beach nourishment, jika tidak ada campur tangan manusia, maka fenomena ini terjadi musiman, seperti layaknya pasang surut laut, kita bisa asumsikan saja ini seperti pasang-surut sedimentasi (pasir/lumpur)

tapi untuk menganalisa lebih jauh, saya harus berada di site tersebut

salam

_________________
Hernando Alkausar
--
www.hamueco.com/diving
+62-812-218-NNDO


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Mar 21, 2012 5:44 am 
Offline

Joined: Sat Mar 03, 2012 5:33 pm
Posts: 19
Location: padang, west sumatera
Halo Mas Hernando,

Terima kasih atas responnya. Untuk sumber artikelnya, bagaimana jika dokumen itu saya kirimkan lewat surat elektronik dan apa alamat email yang mesti saya tuju? Dokumen-dokumen itu juga sudah saya kirimkan kepada Mas Wisnu.

Maaf jika merepotkan, karena artikelnya memang hanya terbit di Kompas cetak. Untuk tautan artikel di dunia maya tidak tersedia. Sekalipun masih tetap bisa diakses versi digitalnya di laman epaper.kompas.com setelah melakukan registrasi.

Untuk dugaan penyebab sedimentasi, sepertinya ini bukan karena faktor alam. Dugaan lengkapnya mungkin terdapat di dalam artikel yang akan saya kirim.

Salam
ink

"Sebagian orang mengaku hidup dalam tekanan, padahal mereka belum pernah menyelam"


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Mar 21, 2012 10:52 am 
Offline
User avatar

Joined: Tue Sep 15, 2009 3:15 am
Posts: 1396
Location: Katameya Heights
Terima Kasih sekali, artikelnya sudah saya terima.
Tulisan yang sangat baik dan sangat menarik - mudah2an temen lain di forum selam ini bisa ketularan dan terpancing juga untuk menulis berbagai artikel, berita atau apapun juga yang berkaitan dengan lingkungan.

Saya sangat sependapat, project PLTU dan juga projek besar lain nya memiliki potensi dan dampak terhadap lingkungan. Namun dampak tersebut bisa dikurangi ALARP (as low as reasonably practice) kemudian dengan program perbaikan dan peningkatan lainnya - bukan tidak mungkin (bahkan diharapkan) memilki nilai tambah terhadap masyarakat dan lingkungan setempat.
Sebaliknya, kerusakan lingkungan bisa lebih parah lagi - apalagi setelah beroperasi ketika limbah air dari heat transfer dilepas ke lingkungan.

Saya tidak tahu apakah pernah dikomunikasikan pihak PLTU. Bisa jadi mereka juga memiliki ahli lingkungan dan alokasi dana untuk peningkatan lingkungan.
Dengan kerjasama yang baik, tantangan yang berat bisa menjadi opportunity untuk masyarakat setempat.
Saya lihat dari foto, tampaknya memiliki viz. yang cukup baik.
Selain membangun dan mengoperasikan plant dengan berwawasan lingungan, perushaan bisa membantu meningkatkan terumbu karang dan juga membatu para nelayan agar bisa melaut lebih jauh menangkap ikan di laut lepas - dengan demikian mereka mendapatkan ikan yang lebih banyak dan terumbu karang juga berkembang dengan baik, Bukan tidak mungkin lokasi tsb. bisa berkembang menjadi tujuan wisata bahari unggulan yang bisa di jual.

Saya tidak tahu apakah buyat bisa dijadikan contoh karena saya terus terang tidak memiiki data yang cukup - namun saat ini buyat mulai dikenal sebagai tujuan wisata selam unggulan.
Di kalimantan timur kalau tidak salah perusahaan besar disana juga ikut membantu pengembangan wisata bawah air.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Mar 21, 2012 2:34 pm 
Offline

Joined: Tue Mar 20, 2007 5:58 pm
Posts: 1052
boleh nimbrung sedikit:

kebetulan saya pernah diminta untuk kasih masukan mengenai teluk buyat dari visi seorang konsultan pariwisata & diver profesional. survey diadakan pada tahun 2004-2005 kalo ndak salah.

walaupun saya bukan scientist, tapi dari pengamatan visual saya harus bilang bahwa kondisi bawah laut di buyat dalam kondisi sehat & baik. parameternya dari banyaknya jumlah ikan disana, coral growth dari artifical reef yang ditanam dan kondisi natural coral reef yang ada disana. saya mencatat lokasi tersebut sebagai salah satu dive site yang saya beri reputasi bagus untuk melakukan penyelaman.

sampai hari ini tubuh saya dalam kondisi sehat, tidak tercemar logam berat apapun. kalopun agak korslet itu memang bawaan dari sejak kecil hahaha..

justru saya berpikiran sebaliknya: jika tidak ada perusahaan tambang besar yang masuk ke buyat, mungkin infrastruktur disana tidak akan seperti sekarang & kawasan tersebut "mustahil" untuk dicapai dengan cara normal. saya ndak tau bagaimana kondisi teluk buyat saat sekarang, mengingat perusahaan tambang tersebut closing down tidak lama setelah saya melakukan survey


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Mar 21, 2012 10:54 pm 
Offline

Joined: Sat Mar 03, 2012 5:33 pm
Posts: 19
Location: padang, west sumatera
Terima kasih tanggapannya Mas Wisnu,

Hari ini, Rabu (21/3) juga terbit lagi lanjutan artikel isu tersebut di Kompas cetak. Sudut pandangnya tentang ketiadaan data kondisi nyata terumbu karang yang mestinya dimiliki pemerintah.

Nyaris tidak dilakukannya pemantauan menyebabkan data yang dihasilkan terlihat tidak masuk akal. Inipun diakui oleh instansi terkait.

Kondisi ini membuat saya bertanya-tanya, lantas untuk apa dokumen-dokumen semacam analisis mengenai dampak lingkungan itu. Memang pengukuran terhadap sejumlah parameter dalam dokumen itu dilakukan. Namun terbatas pada apa-apa yang bisa dijangkau di daratan. Sementara yang ada di dalam lautan tidak diukur.

Menariknya, sehubungan dengan sedimentasi berat di Teluk Buo, saya menemukan fakta bahwa setidaknya hingga akhir tahun lalu tidak pernah dipasang "sediment trap" di lokasi proyek pembangunan pltu. Belum termasuk oli bekas yang tercecer dan ditampung begitu saja sekalipun mestinya diserahkan pada pengumpul.

Betul pendapat Mas Wisnu, bahwa proyek pembangunan harusnya memerhatikan pula aspek lingkungan. Bahkan idealnya, dampak pembangunan mestinya memberikan kesejahteraan berkelanjutan bagi masyarakat. Paling pertama, tentu bagi masyarakat di lokasi proyek pembangunan tersebut diadakan.

Oiya, saya baru saja beroleh informasi bahwa sekitar tahun 2000 terjadi booming fitoplankton "red tide" di perairan Sumbar. Namun tidak ada penjelasan rinci dimana lokasi terjadinya. Adakah ini bisa memengaruhi pula seluruh kawasan perairan?

Salam
ink

"Sebagian orang mengaku hidup dalam tekanan, padahal mereka belum pernah menyelam"


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Mar 21, 2012 11:10 pm 
Offline

Joined: Sat Mar 03, 2012 5:33 pm
Posts: 19
Location: padang, west sumatera
Halo Mas Hantulaut (mohon maaf jika saya tidak sopan memanggil dengan nama demikian),

Terima kasih atas berbagi pengalaman dan pengetahuannya soal Teluk Buyat, Wah, saya jadi kepingin menyelam disitu mas.

Tapi saya mesti kejar sertifikat A1 dulu nih sebelum bisa kesana. Doakan saya ya (pake nada Takeshi Castle)

Salam
ink


"Sebagian orang mengaku hidup dalam tekanan, padahal mereka belum pernah menyelam"


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Mar 22, 2012 6:59 pm 
Offline
User avatar

Joined: Mon Jun 14, 2010 9:24 am
Posts: 518
Location: jakarta
Sekedar saran atau komentar.

Pada prinsipnya, sesuai UU lingkungan segala kegiatan proyek harus memiliki study AMDAL. Jika memang sedimentasinya diakibatkan karena adanya suatu proyek tersebut, maka coba lihat AMDAL nya. Kalau di AMDAL nya sudah ada kemudian tidak dilakukan Penanganannya (APL dan UPL) maka itu termasuk tindakan kriminal dan bisa dilaporkan ke polisi untunt ditindaklanjuti.

Jika dalam laporan AMDAL nya belum terkover, salurannya kita laporkan ke BPLHD (Badan Linkungan Hidup Daerah) yang ada di setiap kabupaten. UU lingkungan terbaru memberikan wewenang penuh kepada Kabupaten untuk menangani masalah lingkungan.

Sesuai Undang-undang, perusakan lingkungan sengaja atau tidak adalah tindakan kriminal.

(boleh donk mas diforward juga artikelnya ke saya..)

Maaaf banget kalau ada yang berkenan..

-- aduh.., pengen komentar hasil jalan2 saya ke Maluku Utara yang rusak sudah pesisir oleh sedimentasi akibat penambangan -- tapi lain posting deh.

Salam,
Aria


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Fri Mar 23, 2012 10:51 am 
Offline

Joined: Sat Mar 03, 2012 5:33 pm
Posts: 19
Location: padang, west sumatera
Halo Mas Aria, terima kasih masukannya. Adakah alamat email untuk saya kirimkan dokumen dimaksud.

Total terdapat tiga artikel dan foto mengenai isu tersebut. Sudut pandangnya mengenai pencemaran oleh laju sedimentasi tinggi, peran amdal (termasuk rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pengelolaan lingkungan), dan data pemantauan kondisi karang yang tidak dimiliki pemerintah karena penyelaman yang nyaris tidak dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir.

Mohon tanggapan agar ada perbaikan untuk artikel-artikel selanjutnya.
Salam
ink


"Sebagian orang mengaku hidup dalam tekanan, padahal mereka belum pernah menyelam"


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Mar 26, 2012 11:28 pm 
Offline
User avatar

Joined: Fri Aug 25, 2006 10:33 am
Posts: 1564
email saya [email protected]

_________________
Hernando Alkausar
--
www.hamueco.com/diving
+62-812-218-NNDO


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 21 posts ]  Go to page 1, 2  Next

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to: