It is currently Fri Oct 20, 2017 9:22 pm

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 5 posts ] 
Author Message
 Post subject: [WTA] crown of thorns starfish(COTs) vs Corals
PostPosted: Thu Jun 14, 2012 9:08 pm 
Offline

Joined: Sun Apr 29, 2012 12:56 pm
Posts: 49
Bro and Sist semua, saya newbie dan setiap diving/snorkling sering bgt ngeliat yang namanya crown of thorns starfish atau yang sering disebut COTs.

Bentuk dan warna macem2, yang pasti ciri2nya bintang laut yang kakinya lebih dari lima, umumnya berukuran besar , dan memiliki duri-duri yang terlihat tajam di seluruh permukaan badannya. Utuk yang kecil /masih baby mungkin segenggam tangan.

Untuk Warna ada yang biru dengan duri-duri hitam, ada yang putih saja, ada yang merah... sekilas seperti karang atau landak laut (karena suka nempel makanin karang), tapi beda bgt.

Awalnya saya suka jepret2-in nih makhluk, nggak tau berbahaya atau tidak, pikir ku yg penting ga nyentuh ^^.
Setelah sekian lama pernah lihat, ga pernah kesampaian searching "makhluk apakah itu??"
Setelah dilihat2 ternyata masuk kategori Starfish, yaitu disebut "crown of thorns starfish", ialah Salahsatu starfish yang berbahaya bagi manusia jika menyentuhnya.


Yang mau saya tanya ke bro n sist divers, ada yang pernah nyentuh??? rasanya gimana yaaa??? :D


Terus setelah bertapa ke googling, ternyata starfish yang satu ini sangat dibenci oleh coral, karena diketahui telah menghancurkan banyak coral (pantes aja kerjanya nempel koral, ternyata ngemut2 n ngemil koralnya ^^). Diketahui Beberapa Divers di Australia selalu mencoba membasmi makhluk yang satu ini....

contoh aksi pembasmiannya:
Code:
http://www.arkive.org/crown-of-thorns-starfish/acanthaster-planci/image-G100843.html


Tidak hanya Divers di Australi, tapi divers lainnya juga di sulawesi :
Code:
http://pahlano.multiply.com/reviews/item/29

kalau nggak bisa kebuka, coba link di bawah ini:
http://sulutiptek.com/rajalaut-php.php


Contoh Berita Dari Phuket :
Code:
http://www.youtube.com/watch?v=toAdCtHXqsE


Berikut ada sedikit info di wikipedia : langsung ke TKP yak
Code:
http://en.wikipedia.org/wiki/Crown-of-thorns_starfish




Nah kemudian, kan kita tau tuh berbahaya kalo di pegang, kalo di biarin juga bakal makan2in koral hingga mati dan abis koralnya, ditambah predator yang memakan tuh jenis bintang laut juga hampir tidak di temukan lagi...

Lalu adakah cara agar kita saja divers yang menjadi predator nya ??? (eh maksudnya ga di emut ma kita, di basmi maksudnya ^^)
sehingga koral2 di bumi indonesia tercinta aman dari ancaman bintang laut COTs ??
Disamping pakai alat /obat khusus seperti pict di bawah.... Apalagi yang bawa alat minim cara efektifnya gmn??... timpukin batu kah ?? injek2 ?? bawa piso n pretel2in di laut?? tembak pake speargun?? atau ada saran lain ??

Berikut ada saya attach foto-foto COTs dari snorkling di Sanghyang
Sebenarnya ketemu 3 COTs Putih dan 2 COTs hitam biru, saya upload 2 contohnya ya.

Dan khusus COTs yang hitam biru di attachment, kan ceritanya aku jepret berkali2 dari beberapa sudut, dan dari dekat,
1. nah di foto3 ada warna merah di sekitar badannya,
2. pas dicoba lebih dekat di foto4 malah ancur gambarnya tapi ada merah2 nya lebih banyak,
3. lalu foto5/foto setelah foto4 hanya warna putih blank... aneh bgt , maaf nggak di upload.
4. lalu foto6 itu foto COTs warna putih ^^

Ada yang tau apakah merah2 itu tadi apa?? atau salah kamera dan kameramennya?? :hammer:

Mari Kita Lindungi Koral Kita!!

Salam Divers^^


You do not have the required permissions to view the files attached to this post.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Fri Jun 15, 2012 2:47 pm 
Offline
User avatar

Joined: Sat Sep 27, 2008 3:17 pm
Posts: 618
Location: sanur - bali
Trims buat infonya, bro. Emang gak bagus juga kalo keseimbangan alam terganggu, lama2 bisa punah koral2 kalo predatornya terlalu banyak. Idealnya sih biar alam sendiri yang ngatur keseimbangannya, yaitu dengan menciptakan predator alami buat tuh COTs. Kalau lihat di wikipedia sepertinya ada bbrp predator alami utk COTs, tapi efektivitasnya gak terlalu maksimal. Kalau alam sudah gak bs lagi mengatur keseimbangannya, ta terpaksa manusia lah yang harus campur tangan.

Tapi apakah benar jadinya kalo kita lalu membunuh COTs setiap kali bertemu dengannya? Saya pikir utk mengatasi hal2 seperti ini baiknya dilakukan oleh pihak yang berwenang, sehingga bisa dilakukan analisa lapangan untuk mengatur keseimbangan populasinya.

_________________
dive safely!
guswid


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Jun 18, 2012 9:07 am 
Offline
User avatar

Joined: Wed Jul 27, 2011 3:37 pm
Posts: 46
Bli Agus apa kabarrr... Minggu kita ga ketemu yah...
:D
Jadinya engga dive kok, kita ngikut para fotografer trekking di Taman nasional, heheeheh..
Lumayan dapet banyak ilmu dari bapak Ranger, dari jenis2 hutan, jenis pohon dll dsb..
Eh kok ya topik COT sempet disinggung ama bapak rangernya, katanya duluuu banget di Taman nasional Bali Barat itu banyak coralnya, trus kena wabah COT's ini, impor dari australia...
segala macem cara digunakan untuk membasmi makhluk ini nih karena dia rada2 mutan gitu, kalo kakinya dipotong, trus ditutupin ember semaleman ga mati lho, besoknya kaki2 yg terpotong regenerasi sendiri alias akan membentuk COT's 2 yg baru..
hiiiiiiiiiiiiyyyyyyyyyyy
:shock:
ngebunuhnya ga sembarangan juga katanya, kalo di luar pake injeksi kimia, tapi jadi ngeracunin habitat sekitar
:(
jadi mereka tusuk ni COT ampe jadi rentengan gitu, trus ditarik ke kapal, trus dibakar...
kata Bli Nanang sang ranger, waktu itu nangkep COT di area pemuteran mereka dapet sekitar 80 rebu COT
:shock:
lain2nya mungkin si Rizal ama Satya lebih bisa menjelaskan, karena mereka yg nempel bli ranger terus.
Saya sibuk "yang lain"
hihihihihihi

_________________
- Deni Aja -


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Jun 18, 2012 10:22 am 
Offline

Joined: Sun Apr 29, 2012 12:56 pm
Posts: 49
Thanks bro guswid, Ternyata keberadaan COTs ini sendiri juga membantu ekosistem habitat koral, berikut saya kutip

"Kerangka karang yang mati tersebut menjadi tempat penempelan larva dan spora penghuni terumbu karang lainnya. Dengan pemangsaan tersebut, A. planci berjasa memberi kesempatan kepada hewan baru untuk tumbuh menempel di terumbu karang yang sudah padat. Pemangsaan karang oleh A. planci yang dalam populasi rendah bersifat selektif dengan preferensi pada Pocilloporidae dan Acroporidae yang tumbuh cepat dan cenderung mendominasi ruang di terumbu. Pemangsaan selektif ini mempunyai dampak ekologi yang positif karena memberikan bantuan kepada karang yang tumbuh lambat untuk tetap tinggal di terumbu tersebut. Tetapi jika populasi A. planci melebihi kemampuan karang untuk pulih kembali, maka yang terjadi adalah sebuah bencana kerusakan terumbu karang."
(sumber : http://mycoralreef.wordpress.com/2009/0 ... steroidea/)


more info :
Code:
Crown-ofthorns
starfish feed mainly on tabular coral
species particularly Acropora spp. and may
only eat a portion of the entire coral colony.
As a result, the reef can recover quite rapidly
from low levels of predation by crown-of-thorns
starfish. Some reefs seem to support small
populations of crown-of-thorns starfish for many
years, with only a small reduction in coral cover.
Scientists estimate that a healthy coral reef with
about 40-50% coral cover can support about
20-30 crown-of-thorns starfish per hectare
(10,000 square metres).
(sumber: http://www.reef.crc.org.au/discover/plantsanimals/cots/index.html)


info yang mirip tp versi indo :
2) Peledakan populasi (outbreak)
Kepadatan populasi A. planci pada terumbu karang yang normal sekitar 6-20 individu per km2 (Moran 1990). Kepadatan tersebut setara dengan 0,06-0,2 individu dewasa per hektar. Terumbu karang yang sehat, dengan tutupan karang 40-50%, dianggap dapat menampung A. planci 20-30 ekor per hektar tanpa kerusakan yang berarti (CRC 2003). Pada saat terjadi peledakan populasi kepadatan A. planci sekitar 20,6 individu kecil per m2, atau 158 individu dewasa per 314 m2, atau 1150 individu dewasa per 20 menit renang orang dewasa (Moran 1990). Kepadatan saat peledakan populasi tersebut setara dengan 0,5 individu dewasa per m2 atau 5032 individu dewasa per hektar.
Jumlah bintang laut A. planci yang dapat ditemukan pada saat terjadi peledakan populasi mencapai ratusan ribu atau bahkan jutaan pada satu terumbu karang. Di Rukyu Island, misalnya, 13 juta bintang laut A. planci dibunuh ketika terjadi peledakan populasi tahun 1970-1983. Di Green Island, kelimpahan populasi diperkirakan tiga juta individu ketika peledakan populasi tahun 1979/80. Peledakan populasi A. planci di Bootless Bay, Papua New Guinea, dilaporkan mempunyai kepadatan populasi sekitar satu individu per m2 (Baine 2006).
(sumber: http://mycoralreef.wordpress.com/2009/0 ... steroidea/)


thanks info nya om baby_blue :) 80rb bnyk jg yak... secara sy byr makan duit segitu aja berat rasanya LOL

Kemudian yang disebut Predator Utama COT ialah : Triton Snail
But :
the triton shell can eat only about one
crown-of-thorns starfish per week
so its capacity
to prevent starfish outbreaks seems limited.
(sumber : http://www.reef.crc.org.au/publications ... ov2003.pdf)

Predator COT lainnya :
the humphead maori, wrasse, starry pufferfish , titan triggerfish. (ada lagi yang lain kalo nggak salah :D)


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Jun 18, 2012 9:05 pm 
Offline

Joined: Mon Jun 21, 2010 10:29 pm
Posts: 171
Location: Rotterdam
Kalau saya google, ketemu beberapa berita bahwa memang ada outbreak COTs di Indonesia tahun 2008 di daerah Halmahera. Setelah itu tidak ada berita lagi. Kalau muncul lagi bisa dipertanyakan kenapa bisa terjadi, apakah predatornya sudah makin langka di lautan? Moga-moga bukan karena over-fishing..

IMHO, kalau memang ditemukan hal-hal yang di luar kewajaran, saya kira tidak ada salahnya untuk melaporkan ke Dinas Kelautan setempat dan dive operator/centers bekerja sama dengan mereka. Lagipula, bukannya tugas Dinas Kelautan memantau hal-hal yang seperti ini ya?

Jadi inget betapa aktifnya kerjasama pemerintah lokal dan dive operators/centers di Bonaire dan Belize untuk membasmi lionfish di perairan mereka yang bukan native fish. Waktu di Bonaire, kami diharapkan untuk melaporkan lokasi lion fish yang ditemukan saat menyelam. Poster-poster mengenai lion-fish dan bahayanya terhadap habitat laut setempat plus apa yang harus dilakukan bila ketemu lion fish juga bertebaran di mana-mana. Otomatis muncul awareness masyarakat dan turis penyelam di sana. kayaknya sampai sekarang belum kelar invasi-nya..

Menurut saya sih, bila diperlukan manusia perlu turun tangan untuk menangani hal-hal kayak gini, cuman ya sebelumnya harus ada penelitian dan antisipasi penanganan outbreak yang bisa memastikan agar habitat tidak terganggu..nanti kalau COTs-nya habis total, triton snail gak ada makanan lagi..


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 5 posts ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 2 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
cron